Assalamualaikum wr wb

Angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak sapalanta RN nan ambo muliakan,

Sabonanyo topik iko indak memiliki hubungan nan jaleh, sabab namo Dara Jingga 
ditelusuri dari fakta sejarah nan ado yang berkaitan dengan kerajaan 
Dharmasraya 
(bukan Pagaruyung) yang disabuikan adolah anak dari Rajo 
Tribhuwanaraja sewaktu ekspedisi Pamalayu  nan dipimpin Mahisa Anabrang wakatu 
Raja  Kertanagara  memegang kekuasaan kerajaan Singhasari. 

Ekspedisi Pamalayu bertujuan mengadakan persekutuan dengan kerajaan yang 
berkuasa di Sumatera untuk menghadapi tekanan dari Dinasti Mongol. Hingga saat 
ini siapa keturunan Dara Jingga masih diperdebatkan apakah Adityawarman ataukan 
Akendrawarman. Dari keturunan Dara Jingga inilah diperkirakan memindahkan 
kerajaan Melayupura ke Suruaso/Pagaruyuang yang kemudian disebut dengan 
kerajaan 
Pagaruyung. Penyebutan kerajaan Pagaruyuang ini pun belum bisa dipastikan sejak 
era siapa, sehingga masih perlu kajian mendalam untuk itu.

Perihal kerajaan Pagaruyung berita ini pertama kali diperoleh oleh pihak luar 
berasal dari laporan Tomé Pires dalam buku Suma Oriental yang ditulis antara 
tahun 1513 and 1515, mencatat dari ke-tiga raja Minangkabau (Rajo Nan Tigo 
Selo), hanya satu yang telah menjadi muslim sejak 15 tahun sebelumnya.  

Mengenai Adityawarman penemuan bukti sejarah diperoleh pada tahun 1935 pada 
masa 
kolonial Belanda memerintah di ranah minang, dengan ditemukannya prasasti Arca 
Bhairawa di kompleks percandian Padang Roco, Dharmasraya, Sumatera 
Barat. Mengenai ekspedisi Pamalayu penemuan bukti sejarah pada tahun 
1911 diperoleh dari prasasti Arca Amoghapasa & Prasasti Padang Roco. 

****

Satantang Bundo Kanduang, iko disabuikan dalam tambo nan diceritakan turun 
temurun di ranah minang, begitu pula perihal Dang Tuanku, Cindua Mato, Datuak 
Tiang Bungkuak, dan lain sebagainya. Kapan & diera siapa kisah yang terjadi 
dalam tambo ini terjadi memang tidak disebutkan. Dalam tambo disebutkan pula 
Dang Tuanku bersama Bundo Kanduang meninggalkan dunia.

Selain itu pada kisah yang lain, tambo juga mengisahkan tentang perihal Catri 
Bilang Pandai, Datuak Kutumangguangan & Datuak Perpatih Nan Sabatang, dan lain 
sebagainya. Diperkirakan kisah tambo ini berkisar pada masa kerajaan Koto Batu 
sebelum era Adityawarman namun belum ada pula bukti-bukti sejarah yang cukup 
mendukung hal ini.

Jadi, ambo kiro menghubungkan antara Dara Jingga dengan Bundo Kanduang 
merupakan 
hal yang terlalu instan dari sudut pemikiran secara logis. Apakah kedua nama 
ini 
adalah orang yang sama memerlukan pembuktian secara logis pula, yang mana saat 
ini belum bisa dilakukan karena literatur yang sangat minim.

Perlu diketahui pula, kerajaan Pagaruyung ini berasal dari kerajaan Dharmasraya 
yang berkembang pengaruhnya setelah kerajaan Srivijaya semakin melemah 
pengaruhnya di Sumatera.    

wasalam

AZ / lk / 32th
Padang

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke