Pemecatan Syekh Ali Abdul Raziq itu sesuai dengan undang-undang Al-Azhar tahun 1911, yang memberikan mandat kepada Hai’ah Kibaril ‘Ulama (Badan Ulama Terkemuka) untuk mengeluarkan ulama yang tidak sesuai sifat kealimannya dari barisan ulama, dengan kesepakatan 19 kibaril ‘ulama. Undang-undang itu baru sekali diterapkan yaitu untuk Syaikh Ali Abdul Raziq yang kitabnya membentuk arus sekular. Adapun alasan-alasan dijatuhkannya hukuman tersebut menyangkut isi buku al-Islam wa Ushulul Hukm (Islam dan dasar-dasar hukum) yang Ali Abdul Raziq karang di antaranya: 1. Syekh Ali menjadikan syari’at Islam sebagai syari’at rohani semata, tidak ada hubungannya dengan pemerintahan dan pelaksanaan hukum dalam urusan duniawi. 2. Syekh Ali menganggap jihad Nabi saw itu untuk mencapai kerajaan. Zakat, jizyah, ghonimah dan lain-lain pun demi mencapai kerajan juga, dengan demikian semua itu dianggap keluar dari batas-batas risalah Nabi saw, bukan peristiwa wahyu dan bukan perintah Allah SWT. Forum ulama membacakan ayat-ayat yang berkenaan dengan jihad fi sabilillah, ayat-ayat khusus zakat, cara pengaturan uang sedekah, pembagian ghonimah (harta rampasan perang). 3. Berkenaan dengan anggapannya bahwa tatanan hukum di zaman Nabi saw tidak jelas, meragukan, tidak stabil, tidak sempurna dan menimbulkan berbagai tanda tanya. Kemudian ia menetapkan bagi dirinya suatu madzhab, katanya: “Sebenarnya pewalian Muhammad saw atas segenap kaum mukminin itu ialah wilayah risalah, tidak bercampur sedikitpun dengan hukum pemerintahan.” Ini cara berbahaya yang ditempuhnya, melucuti Nabi saw dari hukum pemerintahan. Anggapan Syekh Ali itu bertentangan dengan ayat: .( إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أراك الله. (النساء: 105 “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan (membawa) kebenaran, supaya engkau menghukum antara manusia dengan apa yang diperlihatkan (diturunkan) Allah kepadamu itu.” (QS An-Nisa’: 105). 4. Syekh Ali menganggap tugas Nabi hanya menyampaikan syari’at lepas dari hukum pemerintahan dan pelaksanaannya. Kalau anggapannya itu benar, tentulah ini merupakan penolakannya terhadap semua ayat-ayat hukum pemerintahan yang banyak terdapat dalam Al-Qur’anul Karim dan bertentangan dengan Sunnah Rasul saw yang jelas dan tegas . 5. Ia mengingkari kesepakatan (ijma’) para sahabat Rasulullah saw untuk mengangkat seorang Imam dan bahwa menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mengangkat orang yang mampu mengurus permasalahan agama dan dunia. 6. Ia tidak mengakui kalau peradilan itu suatu tugas syari’at. 7. Ia beranggapan bahwa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq dan pemerintahan Khulafaur Rasyidin sesudahnya tidak agamis. Ini justru kelancangan Syekh Ali yang tidak agamis.8 Hukuman berkaitan dengan syari’at juga dijatuhkan terhadap. Khalaf Allah di Mesir yang ditentukan hukuman fasakh nikahnya (batalnya pernikahan). Itulah yang oleh Kurzman disebut sebagai korban kekerasan, secara tidak proporsional. Tetapi kalau dari kacamata yang lebih jernih, sebenarnya yang terjadi adalah hukuman terhadap pelaku kriminalitas pemikiran yang dilancarkan dengan sistem kriminal pula. Yaitu, pemikiran (orang sekuler ataupun Islam Liberal) itu sendiri sudah bernilai menohok Islam, lalu dipasarkan secara sistematis lewat jalur-jalur strategis yaitu pendidikan, kelembagaan, dan media massa. Maka ketika umat Islam punya kekuasaan untuk mengadilinya, diadililah, dan dijatuhi hukuman. Sebagaimana tokoh Tasawuf, Al-Hallaj yang berfaham hulul (melebur dengan Tuhan) dan itu menyesatkan aqidah umat, maka dia diadili dan dihukum mati di jembatan Baghdad tahun 309H/ 922M.9 Dan ketika umat Islam tidak memiliki kekuasaan untuk mengadili mereka yang bergerak di bidang kriminal lewat keilmuan itu, maka ada beberapa macam yang umat tempuh. Hingga pelaku kriminal lewat pemikiran itu ada yang ditembak mati ketika keluar dari ---------------------------- 1. 8 Lihat Islam di Tengah Persekongkolan Musuh Abad 20, Fathi Yakan, GIP, juga lihat Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar, 1994, hal 83-85. 2. 9Lihat Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, cetakan 3, 1422H/ 2001M, hal 77. Bersambung
-- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
