mobilnya, seperti tokoh sekuler yang dianggap murtad yaitu Faraq Fauda di Mesir 
1993.
Ada yang “diadili” secara seminar khusus seperti Nurcholish Madjid di Masjid 
Amir
Hamzah di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta, Desember 1992. Ada yang 
dikucilkan
dari masjid-masjid ataupun kajian-kajian, seperti teman-teman dan murid-murid 
Nurcholish
Madjid khabarnya disingkiri oleh banyak pengurus masjid atau lembaga Islam di 
Jakarta.
Bahkan hanya sebagai pendukung Nurcholish Madjid saja bisa terkena imbasnya.
Contohnya, dalam rapat pendirian/ pembentukan Partai Bulan Bintang (PBB) setelah
jatuhnya Presiden Soeharto 1998, yang di sana ada Pak Anwar Haryono bekas 
petinggi
partai Islam Masyumi dan tokoh-tokoh lainnya, ketika Prof Dawam Rahardjo (yang 
dikenal
sebagai pendukung Nurcholish Madjid) –saat itu tidak hadir-- diusulkan dalam 
calon
kepengurusan, langsung ada yang berteriak keras: “Jangan! Dawam itu orang 
sesat, dia!”
Keruan saja seluruh hadirin kaget, namun tidak ada yang membantah teriakan itu.
 
Memuktazilahkan IAIN
Di Indonesia, penyusupan pemutarbalikan keilmuan yang dilakukan Harun Nasution 
dan
kawan-kawannnya atau murid-muridnya sejak 1977 itu satu sisi dianggap oleh
pemrakarsanya sudah bisa merubah dan memuktazilahkan IAIN (Institut Agama Islam
Negeri) atau –menurut klaim Harun Nasution adalah merasionalkannya. Itu jelas 
diakui
dengan nada bangga oleh Harun Nasution ketika penulis wawancarai tahun 199210. 
Tetapi
dari sisi lain, pemuktazilahan bahkan pengislam liberalan seperti itu bagi 
orang yang jeli
adalah menambah derita alumni IAIN dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia.
Kenapa?
Satu sisi, dipojokkannya pendidikan Islam dengan berbagai cara secara 
internasional (itu
merupakan salah satu cabang ghozwul fikri/ serbuan pemikiran) di antaranya 
dengan cara
dipersempit lapangan kerja bagi alumninya, menimpa juga pada alumni IAIN dan
perguruan tinggi Islam pada umumnya. Dari satu sisi itu saja sudah menderita. 
Masih pula
pada gilirannya, setelah masyarakat tahu bahwa IAIN dan perguruan tinggi Islam 
di
Indonesia itu diprogram untuk dimuktazilahkan, bahkan diliberalkan sampai 
nyeleneh
(aneh), maka lembaga-lembaga Islam kemungkinan besar akan pikir-pikir lebih 
dulu kalau
untuk menggunakan tenaga dari lulusan IAIN atau perguruan tinggi Islam produk
Indonesia. Sehingga, penerimaan tenaga di lembaga-lembaga Islam --untuk mencari
amannya-- daripada memilih tenaga yang sudah teracuni oleh pemahaman liberal 
ataupun
Muktazilah maka lebih memilih alumni Timur Tengah, ataupun LIPIA (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Islam dan Arab), atau pesantren-pesantren yang diyakini fahamnya 
tidak
nyeleneh.
Kalau demikian halnya, maka lapangan kerja alumni IAIN dan perguruan tinggi 
Islam
seakan hanya di Departemen Agama, itupun bersaing dengan alumni-alumni dari 
manamana.
Dan mungkin masih ada sedikit peluang yaitu di media massa yang kira-kira 
memilih
orang-orang yang dekat dengan sekuler, kiri, atau Islam yang suka nyeleneh.
Keengganan masyarakat Islam untuk mempercayai kehandalan IAIN, berbalik arah
dibanding rasa percaya diri yang bahkan mungkin berbau arogansi/ kesombongan 
sebagian
dosen atau alumni dan mahasiswanya. Memang ada dosen-dosen yang namanya mencuat 
di
tingkat nasional, walau bukan dalam ilmu Islamnya, misalnya sebagai komentator 
politik
atau peristiwa-peristiwa sesaat, dadakan. Atau ada yang dipuji-puji koran yang 
seide dengan
mereka, karena nilainya yang bagus dan bisa menulis pikiran-pikiran gurunya 
–yang pada
hakekatnya adalah nyeleneh belaka, dan diterbitkan di penerbitan non Islam 
alias Katolik,
misalnya. Tetapi, kebanggaan yang disandang dengan sedikit arogansi itu 
tiba-tiba ada
kepedihan yang dirasakan pula, karena warga dosen IAIN Jakarta pun di masyarakat
dikhabarkan bahwa ada 8 orang yang menjadi pengajar di Institut Apostolos, 
tempat
menggodok calon-calon penginjil nasional. Bahkan lebih prihatin lagi, karena 
ada yang
 
-------------------------
10Dalam wawancara 1992, Harun Nasution mengatakan: IAIN sudah berubah. Faham 
sunnatullah ini masuk
di filsafat dan teologi, bukan hanya di Fakultas Ushuluddin tetapi di seluruh 
fakultas di 14 IAIN. Hanya yang
berkembang betul di Jakarta, kemudian di Yogya. Pengembangan itu sudah banyak 
tenaganya. Mahasiswa
yang dikirim ke luar negeri banyak. Dan yang sudah berkecimpung di sini banyak. 
Seperti Nurcholish Madjid,
Din Syamsuddin, Komaruddin, dan akan datang Azyumardi. (Saya/ penulis tanyakan: 
Ini bisa dikatakan era
Muktazilah?). Ya, sudah masuklah. Tapi saya tidak suka disebut Muktazilah, tapi 
rasional. Muktazilah itu
orang Barat menyebutkan Rasionalis, sedang Ahlis Sunnah dan Jabbariyah itu 
Tradisionalis. (Lihat buku
Rukun Iman Diguncang, Pustaka An-Naba’, Jakarta, cetakan II, Mei 2000, halaman 
6).
 
Bersambung

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke