setelah dikuliahkan atas nama studi Islam ke negeri kafir Barat ternyata dia 
kemudian ketika
balik lagi untuk mengajar di IAIN ia tidak sholat, dan bahkan berani bilang, 
apakah kalau
orang kafir tidak boleh mengajar di IAIN?
Kegetiran itu menyurutkan kesombongan yang sempat muncul sementara tadi, dan 
masih
diliputi kegetiran pula, karena masyarakat menyayangkan terhadap IAIN lantaran 
gejala
tumbuh suburnya Forkot (aliran kiri bahkan menurut masyarakat dianggap sebagai 
berbau
komunis) di perguruan tinggi Islam itu. Kata Abdul Qadir Jaelani, seorang da’i 
dari Bogor
Jawa Barat, tumbuh suburnya Forkot / Forum Kota di IAIN Jakarta terutama 
Fakultas
Ushuluddin itu karena di sana ada pengajarnya, orang Jesuit, Nasrani Fanatik, 
yaitu Fran
Magnis Suseno SJ.
Bagaimanapun, IAIN adalah perguruan tinggi Islam yang memberikan pengajaran di
tingkat akademik bagi anak-anak Muslim. Umat Islam Indonesia punya banyak 
perhatian
padanya, maka kondisi yang seperti itu sebenarnya menjadi keprihatinan bagi 
Muslimin
Indonesia, walau mungkin jadi “kebanggaan” bagi segelintir orang yang punya 
misi tertentu
dan telah bisa mengubah IAIN sebagai sasaran misinya.
Kalau dulu Pak Dr Said Agil Al-Munawar belum tampak mampu mewarnai IAIN Jakarta
walaupun jadi direktur Pasca Sarjananya, maka apakah ketika beliau jadi Menteri 
Agama
tahun 2001 ini akan mampu mengubah visi dan misi IAIN dan perguruan tinggi 
Islam se-
Indonesia, dari Muktazilah dan nyeleneh serta liberal, menjadi Islam yang benar 
sesuai
ajaran Nabi saw.
Seorang Harun Nasution bisa merubah IAIN, kemudian kebablasan, kemudian sekarang
entah arahnya ke mana seperti itu. Padahal dia bukan menteri. Barangkali orang 
Brunei kini
bersyukur, karena mereka telah berani menolak Harun Nasution untuk mengajar di
perguruan tinggi Brunei Darussalam tahun 1985-an. Sebaliknya Abah Anom di Tasik
Malaya Jawa Barat yang pemimpin tarekat –yang menurut fatwa para Ulama Lajnah
Daaimah Saudi Arabia dinyatakan sesat menyesatkan— itupun bersyukur, karena 
hanya
seorang pemimpin tarekat di desa yang terangkat namanya di masa Orde Baru 
ternyata
punya murid seorang Prof Dr Harun Nasution hingga lebih melancarkan 
pengajaranpengajarannya
yang belum tentu sesuai dengan Islam itu. Antara syukur yang satu (orang
Brunei yang menolak Harun Nasution) dengan syukur yang lain (Abah Anom yang
menerima Harun sebagai muridnya) itu berbeda arah.
Islam Liberal di Indonesia Berbahaya karena “Sederhana”
Kembali tentang Islam liberal, tampaknya di Indonesia lebih tidak terarah ke 
Islam lagi.
Kalau Syah Waliyullah (India abad 18) yang oleh Kurzman dianggap sebagai cikal 
bakal
Islam Liberal itu disebut sebagai revivalis (salafi) tapi agak akomodatif 
dengan tradisi, kini
tahun 2001, Islam Liberal di Indonesia sudah sampai pada pemahaman pluralisme,
menganggap semua agama itu sama atau paralel, semua menuju keselamatan, dan 
tidak
boleh memandang agama orang lain dengan agama yang kita peluk.11
Di samping itu, orang yang di urutan pertama dalam barisan Islam Liberal yaitu
Nurcholish Madjid jelas-jelas menegaskan bahwa Islam itu hanya al-din yang 
artinya
agama, berarti tidak ada sangkutannya dengan pengurusan negara. Buktinya, 
menurut
Nurcholish, Islam juga disebut al-din, sedangkan al-din itu untuk menyebut 
agama-agama
lain pula, yang kenyataannya tidak untuk mengurusi negara.
 
---------------------------
11Yang dikembangkan dalam Islam Liberal adalah inklusivisme dan pluralisme. 
Inklusivisme itu
menegaskan, kebenaran setiap agama harus terbuka. Perasaan soliter sebagai 
penghuni tunggal pulau
kebenaran cukup dihindari oleh faksi inklusif ini. Menurutnya, tidak menutup 
kemungkinan ada kebenaran
pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat kekeliruan pada 
agama yang kita anut. Tapi,
paradigma ini tetap tidak kedap kritik. Oleh paradigma pluralis, ia dianggap 
membaca agama lain dengan
kacamata agamanya sendiri. Sedang paradigma plural (pluralisme): Setiap agama 
adalah jalan keselamatan.
Perbedaan agama satu dengan yang lain, hanyalah masalah teknis, tidak 
prinsipil. Pandangan Plural ini tidak
hanya berhenti pada sikap terbuka, melainkan juga sikap paralelisme. Yaitu 
sikap yang memandang semua
agama sebagai jalan-jalan yang sejajar. Dengan itu, klaim kristianitas bahwa ia 
adalah satu-satunya jalan
(paradigma eksklusif) atau yang melengkapi jalan yang lain (paradigma inklusif) 
harus ditolak demi alasanalasan
teologis dan fenomenologis (Rahman: 1996). Dari Islam yang tercatat sebagai 
tokoh pluralis adalah
Gus Dur, Fazlurrahman (guru Nurcholish Madjid, Syafi’I Ma’arif dll di Chicago 
Amerika, pen), Masdar F
Mas’udi, dan Djohan Effendi. (Abdul Moqsith Ghazali, Mahasiswa Pascasarjana 
IAIN Jakarta, Media
Indonesia, Jum’at 26 Mei 2000, hal 8). Lihat Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf, 
Pluralisme dan Pemurtadan,
Pustaka Al-Kautsar, Jakrta, cetakan pertama, 2001, hal 116-117.
 
Bersambung

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke