Pak Saaf dan sanak sapalanta yg saya hormati,

Kalau masalah kependudukan ini yg dilihat cuma masalah laju pertumbuhannya, 
sebetulnya tidak terlalu serius. Peningkatan laju pertumbuhan relatif kecil, 
dari 1,39 ke 1,49. Yg lebih masalah adalah konsentrasinya dan efek konsentrasi 
penduduk itu thdp ketahanan pangan. P Jawa luasnya hanya 6,7 % dr total luas 
daratan Indonesia, tp dihuni oleh 58,2 % penduduk. Sementara tingkat kesuburab 
lahan pertanian du Jawa 3X dr rata2 kesuburan lahan di luar Jawa. Lahan 
pertanian di Jawa ini tiap tahun susut puluhan ribu hektar (ada yg release scr 
nasional penyusutan 100 ribu Ha/thn, prosentase penyusutan di Jawa lbh dr 
separuh jumlah tsb).

Kalau dilihat konsentrasi di Jawa sendiri makin terlihat lg kompleksitas 
masalahnya. Pertumbuhan penduduk DKI Jkt memang hampir sama dg masional. Tp 
pertumbuhan penduduk Bodetabek 3,5%/thn. Inilah sumber berbagai masalah di 
Jakarta & Bodetabek saat ini (macet, banjir, ketidakamanan, polusi, penyakit 
ISPA, kelangkaan air bersih,  dsb). 

Inilah yg jadi salah satu alasan bg saya dan Tim Visi Indonesia 2033 utk 
memindahkan ibukota pemerintahan ke Kalimantan.
Trima kasih.
Wass.,

Andrinof A Chaniago (48)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 3 Apr 2011 15:24:11 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Ledakan Penduduk

Assalamualaikum ww Sanak Darwin Bahar dan para sanak sapalanta,
 
Terima kasih atas peringatan ini. Masalah kita selanjutnya adalah: bagaimana 
caranya agar kerawanan yang ditimbulkan oleh ledakan penduduk ini mendapat 
perhatian dari para 'decision makers' yang seluruh perhatiannya terjerat oleh 
masalah 'reshuffle', koalisi, studi banding, gedung baru, pemekaran, dan 
pemilu/pilkada/pilpres ?
 
Belum perlukah jajaran 'civil society' membuat jejaring yang kuat dan efektif 
untuk  melakukan 'strong persuasion' [meminjam istilah seorang senior saya] 
terhadap para 'decision makers' ini ?

 
Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) 
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.



--- On Mon, 4/4/11, Darwin Bahar <[email protected]> wrote:


From: Darwin Bahar <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Ledakan Penduduk
To: "Palanta Rantaunet" <[email protected]>
Date: Monday, April 4, 2011, 4:39 AM






Refleksi:
Mudah-mudahan editorial Media Indonesia ini terbaca dan menjadi perhatian oleh 
Pak IP--bukan masalah beliau tidak ber-KB atau bukan--tetapi agar 
bersungguh-sungguh meningkatkan produksi pangan Sumbar. Dari apa yang saya baca 
di media, sampai saat ini hanya dua provinsi yang surplus beras: Sumsel dan 
Sulsel.
Wassalam, HDB-SBK
 
------------------------- 
 
Ledakan Penduduk
EDITORIAL Media Indonesia Senin, 04 April 2011 00:00 WIB     
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/215092/70/13/Ledakan-Penduduk
LAJU pertumbuhan penduduk negeri ini telah sampai pada titik amat 
mengkhawatirkan.
Ironisnya, Badan Koordinasi Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) dibiarkan 
'bertempur' sendirian.
Jika laju pertambahan penduduk yang rata-rata 3,5 juta-4 juta per tahun tidak 
segera ditekan, diprediksi pada 2045 jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 
450 juta jiwa. Dengan asumsi populasi bumi 9 miliar jiwa pada saat itu, berarti 
1 dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia.
Upaya menekan laju pertumbuhan penduduk dari 1,49% saat ini menuju angka ideal 
0,5% masih jauh panggang dari api. Lebih-lebih lagi, hasil survei BKKBN 
menunjukkan umumnya pasangan usia subur menginginkan anak lebih dari tiga.
Pertumbuhan penduduk yang tergolong tinggi itu pun tidak disertai dengan 
peningkatan kualitas. Itu terlihat dari indeks pembangunan manusia Indonesia 
yang masih tercecer di peringkat 108 dari 169 negara. Di ASEAN, Indonesia 
berada di peringkat 6 dari 10 negara, atau lebih rendah daripada Singapura, 
Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Bertambah penduduk bertambah pula mulut yang harus diberi makan. Saat ini saja 
Badan Ketahanan Pangan Nasional menyebut 27,5% penduduk Indonesia terkena rawan 
pangan.
Dengan rata-rata konsumsi beras per kapita di Indonesia sekitar 130 kilogram 
dan jumlah penduduk 237,6 juta jiwa, saat ini dibutuhkan sedikitnya 34 juta ton 
beras per tahun. Padahal, produksi beras dalam negeri sekitar 38 juta ton 
sehingga hanya surplus 4 juta ton beras atau kurang untuk kebutuhan dua bulan.
Jika tingkat kegagalan panen meluas dan produksi terpangkas, kebutuhan pangan 
pun pasti tidak tercukupi. Dapat dipastikan, Indonesia akan menjadi pengimpor 
beras nomor wahid di dunia.
Sekarang saja, ketika produksi beras di negeri ini masih disebut surplus, 
negeri ini sudah mengimpor 1,9 juta ton beras hingga akhir Maret. Angka itu 
telah meletakkan Indonesia sebagai importir beras kedua terbesar di dunia 
setelah Nigeria.
Apakah yang terjadi dengan Indonesia pada 2045, ketika 1 dari 20 penduduk dunia 
adalah orang Indonesia? Jawabnya Indonesia akan menjadi negeri kelaparan.
Karena itu, saat ini juga dibutuhkan kemampuan luar biasa untuk mengendalikan 
jumlah penduduk agar Indonesia di masa depan tidak bernasib buruk seperti 
negara-negara di Afrika yang dilanda kurang pangan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke