Ambo heran, dari sabanyak tu namo-namo sastrawan nan badarah (Minangkabau )kok 
indak sakatek pun ado nan manyabuik namo LEON AGUSTA (Ridwan Rais?) penyair asa 
Matua/ Manijau nan sabagian dari sajak-sajaknyo (ambo panah baco dan koleksi 
tahun 1997 dulu, salasai DaLeon baco sajak di TIM Jakarta, 1977 tu) panuah jo 
back ground dan rintihan urang kalah parang (PRRI/Permesta) nan masih mandidih 
darahnyo sampai aja manjapuiknyo.....!!!!????

Salam.....................,
mm***




________________________________
From: wannofri samry <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, April 16, 2011 8:12:05 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Karya-Karya Sastra Tentang PRRI



Kalau ingin membaca kupasan karya sastra masa PRRI baca karya sudara NOVI di 
Jurnal Edita terbitan Pusat Studi Informasi , Dokumentasi dan Kesejarahan Unand 
Padag, edisi 1 2011.


WNS


--- On Fri, 4/15/11, andi ko <[email protected]> wrote:


>From: andi ko <[email protected]>
>Subject: [R@ntau-Net] Karya-Karya Sastra Tentang PRRI
>To: "RantauNet" <[email protected]>
>Date: Friday, April 15, 2011, 11:09 PM
>
>
>Karya-Karya Sastra Tentang 
>PRRIhttp://ilhamfadli.blogspot.com/2011_02_01_archive.html
>
>
Diedit/ditulis ulang : Muhammad Ilham
>
>
>Soewardi   Idris (1930-2004), yang bergabung dengan kaum pemberontak  selama   
>perang saudara, setelah turun dari hutan, menulis novel Dari Puncak Bukit 
>Talang 
>(1964). Soewardi juga menuangkan pengalamannya selama perang dalam dua 
>antologi 
>cerpen: Di Luar Dugaan (1964) dan Istri Seorang Sahabat (1964). Ketiganya 
>diterbitkan NV Nusantara Padang. Memang, karya    Soewardi Idris yang 
>diterbitkan NV Nusantara banyak berbicara tentang    PRRI. Bahkan secara lebih 
>jauh Soewardi dalam karya-karyanya banyak    menyoroti sisi buruk 
>prajurit-prajurit PRRI, terutama pada masa-masa    menjelang PRRI kalah. Ali 
>Akbar Navis termasuk pengarang Sumatera Barat   lainnya yang banyak menulis 
>tentang periode ini. Novelnya Saraswati si Gadis dalam Sunyi(diterbitkan    
>pertama kali pada tahun 1970), misalnya, adalah di antara sedikit   novel  
>yang 
>secara khusus menyorot realitas perempuan selama perang   saudara.  Di sisi 
>lain, novel ini juga dianggap telah dengan berani   keluar dari pakem resmi  
>historiografi saat itu yaitu dengan   menolak untuk menyebut PRRI sebagai  
>pemberontakan atau pembangkangan.   Bahwa hampir tidak satu pun kata itu  
>ditemukan dalam novel ini.   Sementara, dalam genre lain, AA  Navis juga 
>menulis 
>setidak-tidaknya 11   cerita pendek yang berbicara  tentang PRRI. 
>Cerpen-cerpen 
>tersebut   tersebar dalam beberapa kumpulan  seperti Hujan Panas (1964), Hujan 
>Panas dan Kabut Musim (1990), Dua Kelamin Midin: Cerpen Kompas Pilihan 
>1970-1980, Pistol Perdamaian: Cerpen Pilihan Kompas 1996, dan Karya Lengkap 
>AA. 
>Navis (2008). Tahun 1978, Wildan Yatim menebitkan novel Pergolakan, berlatar 
>Sidempuan pada periode pemberontakan. Di samping menulis Pergolakan, Wildan 
>Yatim juga menulis cerpen yang menyinggung tentang kehidupan pada periode 
>pemberontakan PRRI, salah satunya Saat Orang Berterus Terang.
>
>Makmur Hendrik menulisTikam Samurai.    Novel ini diterbitkan pertama kali 
>oleh 
>CV. Pena Emas Padang pada    Febuari 1983 dengan harga awal per novelnya Rp. 
>1.000,- (seribu rupiah).    Novel ini diterbitkan 12 jilid. Si Bungsu, tokoh 
>utama dalam novel   ini,  dianggap mewakili bangkitnya superioritas ‘orang 
>Minang’ paska    pemberontakan yang tertindas dan diperhinakan. Tahun 2005, 
>Ular 
>Keempat karya Gus Tf Sakai diterbitkan penerbit Buku Kompas. PRRI bukanlah   
>tema  sentral dalam novel ini, sebab novel ini lebih banyak berbicara   
>tentang  
>kisruh haji tahun 1970. Peristiwa PRRI hanya disinggung sebagai   ingatan  
>tokoh 
>utama terhadap masa lalu puaknya.  Di tataran pemrosa   yang datang lebih agak 
>belakangan, ada Ragdi F Daye dalam Lelaki Kayu dan Perempuan Bawang juga 
>menulis 
>beberapa cerpen tentang peristiwa PRRI. Beberapa cerpen Zelfeni Wimra dalam 
>Pengantin Subuh juga berlatar periode ini.    Dalam  genre sajak, Rusli 
>Marzuki 
>Saria   yang pernah terlibat dalam  pemberontakan, menulis banyak sajak 
>tentang   
>periode perang saudara ini.  Dari beberapa kumpulan sajaknya yang  telah  
>diterbitkan, terdapat  sajak-sajak yang berbicara tentang perang   saudara.
>Sumber : (Note FB : Deddy Arsa 
> 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke