Nakan Akmal sarato Sanak Sa Palanta nan ambo hormati Sejujurnya, kurang begitu paham bagi saya makna kalimat Nakan Akmal: "sudah tidak pada saatnya mengusulkan pahlawan nasional hanya berdasarkan primordialisme, apalagi dalam jumlah banyak sekaligus".
As a matter of fact, Buya Hamka bukan hanya milik masyarakat Sumbar, bahkan bukan hanya milik bangsa Indonesia. Orang-orang seusia saya yang rajin menngikuti ceramah dan acara tanya-jawab Buya melalui RRI Nusantara Jakarta di pertengahan tahun tujuhpulahan tahu persis pendengar acara itu sampai ke Singapura dan Malaysia. Dengan suara beliau yang serak-serak basah beliau menjawab semua pertanyaan dengan lembut, rasa hormat sekalipun yang bertanya itu anak remaja (beliau menyapanya dengan ananada) dan bersifat solusi. Pertanyaan yang menggelitik bagi saya, perlu kah gelar itu bagi ulama besar seperti Buya Hamka, apalagi ada embel-embel tunjangan segala. Kita tahu, Buya juga dikenal sebagai ulama tassawuf. Dari beberapa riwayat ulama dan sufi besar yang pernah saya baca, beliau-beliau itu selalu menjaga jarak dari Sultan dan dirinya serta keluarganya tidak mau hidup dengan nafkah yang berasal dari Sultan. Saya menduga--tentu saja bisa salah--tidak 'antusias' keluarga Buya melengkapi dokumen yang diperlukan sejak tahun 2000 karena pertimbanganan ini. Pada sisi lain, sejauh Pak Syafrudin saya sependapat sekali, karena ini sekaligus merehabilitasi nama beliau dari stigmatisasi 'pemberontak' yang dinisbatkan pemerintah ORLA dan kemudian karena tujuan-tujuan politik jangka pendek, diteruskan oleh pemerintahan ORBA. Wallahualam bissawab Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok . <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/141668;_ylc=X3oDMTJzOGRiN2h mBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE0MTY 2OARzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMzAzMjg3ODkz> Re: [R@ntau-Net] Kepahlawanan Hamka Terancam Posted by: "Akmal N. Basral" <mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20Kepahlawanan %20Hamka%20Terancam> [email protected] Tue Apr 19, 2011 10:51 pm (PDT) sanak palanta yang terpelajar, menurut saya sudah tidak pada saatnya mengusulkan pahlawan nasional hanya berdasarkan primordialisme, apalagi dalam jumlah banyak sekaligus. apa tidak sebaiknya fokus dulu, misalnya pada mr. sjafruddin prawiranegara yang sudah dua kali diusulkan sbg pahlawan nasional (2007, 2009) tapi selalu kandas. inikan aneh, tanggal 19 des '48 yang menandai terbentuknya PDRI, sudah dinyatakan sebagai hari bela negara, tapi orang yang menyelamatkan republik dari karam, malah tak diakui sebagai pahlawan sampai sekarang. kalau mau dijadikan satu paket, bisa juga sekalian dengan mr. datuk muda assaat. untuk nama-nama yang lain, tanpa mengurangi rasa hormat, bisa saja diusulkan tahun depan, a.l, sambil melengkapi syarat administratif yang (mungkin) kurang. mohon maaf jika ada yang kurang berkenan, salam, akmal nasery basral cibubur --- In <mailto:RantauNet%40yahoogroups.com> [email protected], Darwin Chalidi <dchalidi@...> wrote: > > Sanak Palanta RN nan Ambo Hormati, -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
