Mak Darwin Bahar nan ambo muliakan,
insya Allah saya paham bahwa Buya Hamka bukan hanya milik Minang, bukan hanya 
milik Indonesia, bahkan milik dunia Islam.

1/
Waktu saya kuliah di FISIP UI, salah seorang cucu Buya, Amalia, adalah senior 
saya. Lalu sekitar tahun 1988, kami satu jurusan (Sosiologi FISIP UI) "studi 
banding" ke Unand dan sekitarnya (biar agak mirip dengan DPR saketek lah yo 
mak). Dan setelah "studi banding" 1 hari, kami "raun-raun" selama beberapa hari 
di beberapa obyek wisata Minang (samo juo dengan anggota Dewan yo mak), salah 
satunya mangunjungi rumah Buya di pinggiran danau Maninjau.

Lalu ketika ambo mulai tertarik sastra, dan mambaco saat tinggi-tingginyo 
tuduhan PAT (Pramoedya Ananta Toer) terhadap karya Buya Hamka, "Tenggelammnya 
Kapal Van Der Wijck", ambo palajari karya nan dituduahkan itu, "Al Majdulin" 
karya sastrawan tuna netra Mesir, Mustafa Al-Manfaluthi.

Ternyata, karya Manfaluthi ko juo tapangaruah karya sastrawan Prancis, Alphonse 
Karr yang judulnya "Sous les Tilleul", dalam baso awaknyo kiro-kiro "Di bawah 
Pohon (semacam) Limau". 

Pada carito Monsieur Karr ko, namo tokoh carito adalah Stephan dan Magdalene, 
yang dalam baso Arab-Mesir, manjadi "Majdulin (Magdalene)". Salah satu 
terjemahan dalam bahasa Indonesia thd novel ini memberikan judul: Magdalena: Di 
Bawah Pohon Tilia (yang ambo raso dilakukan untuak manjaga rima/rhyme kalimat 
antara "Magdalena" dan "Tilia" dari "Tilleul")

Sangkek carito, manuruik HB Jassin, Buya Hamka indak malakuin plagiatisme nan 
dituduahkan PAT, meski karya "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" dengan tokoh 
Zainuddin-Hayati memang memiliki kemiripan problematik dengan tokoh 
Stephan-Magdalene (dari Alphonse Karr yang tetap dipertahankan Manfaluthi). 
Salah satu perbedaannya, jelas pada setting sosial, kultural, dan geografis 
karya Buya Hamka sudah begitu, menurut istilah sekarang "lokal", dengan tokoh 
yang berbudaya Minang, dalam sebuah perjalanan kapal Belanda, yang akhirnya 
tenggelam di lepas pantai Brondong, Lamongan (kisah sebenarnya, kapal itu 
tenggelam pada 28 Oktober 1936). Jadi, keahlian Buya Hamka sebagai sastra yang 
membuat jalin berkelindan antara imajinasi kisah Zai-Hayati dalam setting 
historis, membuat ini layak disebut sebagai karya baru, meski tentu saja 
layaknya banyak karya sastra lain, selalu terpengaruh oleh karya-karya 
sebelumnya.

Itu baru dari satu sisi Buya Hamka sebagai sastrawan, belum lagi dari sisi 
beliau sebagai seorang ulama.


2/
Yang menjadi concern saya dengan kalimat yang Mak Darwin kutip itu adalah, 
sering kali para birokrat ini "banyak keinginan" (untuk tidak menyebutnya 
"ambisius") dalam mengusulkan seseorang sebagai Pahlawan Nasional, sehingga 
seperti sekarang, langsung 4 nama sekaligus, sementara selama ini masih ada 
"PR" yang terbengkalai, khususnya untuk Mr. Sjafruddin dan Mr. Assaat.

Mengapa tidak seluruh upaya dikonsolidasikan dulu untuk menggolkan dua orang 
ini sebagai Pahlawan Nasional tahun ini?

Karena kalau tidak, percuma saja menurut saya menggelar selebrasi Satu Abad Pak 
Sjaf di Bukittinggi 3 April lalu, bahkan sampai menghadirkan Mendagri sebagai 
keynote speaker.


Yang saya cemaskan adalah kondisi "sikua capang, sikua capeh" Mak Darwin Bahar, 
dengan kondisi terburuk sudahlah Pak Sjaf dan Pak Assaat gagal (lagi) menjadi 
Pahlawan Nasional, pencalonan Buya Hamka pun tak mulus karena, seperti berita 
yang dikutip, masih kurangnya bahan pendukung.

Apa tidak sebaiknya kita fokus dulu menangani satu per satu keinginan, 
dibanding mengumbar banyak nama (itu yang saya istilahkan "primordialisme") 
tapi tanpa ada upaya yang serius, solid, dan terkoordinasi baik untuk 
mengegolkannya?

Mr. Sjafruddin Prawiranegara memang bukan orang Minang (beliau orang Banten), 
meski dalam tubuhnya mengalir darah Pagaruyung karena beliau keturunan Sutan 
Alamintan). Tapi seperti Pak Natsir berhasil "digolkan" sebagai Pahlawan 
Nasional sekitar dua tahun lalu karena bertepatan dengan satu abad beliau, saat 
ini selayaknya, menurut saya, kita fokus pada dua nama ini saja: Mr. Sjaf dan 
Mr. Asaat.

Begitulah konteksnya, Mak Darwin Bahar ysh.

Salam,

Akmal Nasery Basral
Cibubur.











--- In [email protected], "Darwin Bahar" <dbahar@...> wrote:
>
> Nakan Akmal sarato Sanak Sa Palanta nan ambo hormati
> 
> Sejujurnya, kurang begitu paham bagi saya makna kalimat Nakan Akmal: "sudah
> tidak pada saatnya mengusulkan pahlawan nasional hanya berdasarkan
> primordialisme, apalagi dalam jumlah banyak sekaligus".
> 
> As a matter of fact, Buya Hamka bukan hanya milik masyarakat Sumbar, bahkan
> bukan hanya milik bangsa Indonesia.
> 
> Orang-orang seusia saya  yang rajin menngikuti ceramah dan acara tanya-jawab
> Buya melalui RRI Nusantara Jakarta di pertengahan tahun tujuhpulahan tahu
> persis pendengar acara itu sampai ke Singapura dan Malaysia. Dengan suara
> beliau yang serak-serak basah beliau menjawab semua pertanyaan dengan
> lembut, rasa hormat sekalipun yang bertanya itu anak remaja (beliau
> menyapanya dengan ananada) dan bersifat solusi.
> 
> Pertanyaan yang menggelitik bagi saya, perlu kah gelar itu bagi ulama besar
> seperti Buya Hamka, apalagi ada embel-embel tunjangan segala. Kita tahu,
> Buya juga dikenal sebagai ulama tassawuf. Dari beberapa riwayat ulama dan
> sufi besar yang pernah saya baca, beliau-beliau itu selalu menjaga jarak
> dari Sultan dan dirinya serta keluarganya tidak mau hidup dengan nafkah yang
> berasal dari Sultan.
> 
> Saya menduga--tentu saja bisa  salah--tidak 'antusias' keluarga Buya
> melengkapi dokumen yang diperlukan sejak tahun 2000 karena pertimbanganan
> ini.
> 
> Pada sisi lain, sejauh Pak Syafrudin saya sependapat sekali, karena ini
> sekaligus merehabilitasi nama beliau dari stigmatisasi 'pemberontak' yang
> dinisbatkan pemerintah ORLA  dan kemudian karena tujuan-tujuan politik
> jangka pendek, diteruskan oleh pemerintahan ORBA.
> 
> Wallahualam bissawab 
> 
> Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok
> 
> 
>  
> 
> . 
> 
> 
>  
> <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/141668;_ylc=X3oDMTJzOGRiN2h
> mBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE0MTY
> 2OARzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMzAzMjg3ODkz> Re: [R@ntau-Net]
> Kepahlawanan Hamka Terancam 
> 
> 
> Posted by: "Akmal N. Basral"
> <mailto:anb99@...?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20Kepahlawanan
> %20Hamka%20Terancam> anb99@... 
> 
> 
> Tue Apr 19, 2011 10:51 pm (PDT) 
> 
> 
> 
> sanak palanta yang terpelajar,
> menurut saya sudah tidak pada saatnya mengusulkan pahlawan nasional hanya
> berdasarkan primordialisme, apalagi dalam jumlah banyak sekaligus.
> 
> apa tidak sebaiknya fokus dulu, misalnya pada mr. sjafruddin prawiranegara
> yang sudah dua kali diusulkan sbg pahlawan nasional (2007, 2009) tapi selalu
> kandas. inikan aneh, tanggal 19 des '48 yang menandai terbentuknya PDRI,
> sudah dinyatakan sebagai hari bela negara, tapi orang yang menyelamatkan
> republik dari karam, malah tak diakui sebagai pahlawan sampai sekarang.
> 
> kalau mau dijadikan satu paket, bisa juga sekalian dengan mr. datuk muda
> assaat. 
> 
> untuk nama-nama yang lain, tanpa mengurangi rasa hormat, bisa saja diusulkan
> tahun depan, a.l, sambil melengkapi syarat administratif yang (mungkin)
> kurang.
> 
> mohon maaf jika ada yang kurang berkenan,
> 
> salam,
> 
> akmal nasery basral
> cibubur
> 
> --- In  <mailto:RantauNet%40yahoogroups.com> [email protected],
> Darwin Chalidi <dchalidi@> wrote:
> >
> > Sanak Palanta RN nan Ambo Hormati,
> 
> 
> 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke