Mas Franky, Sungguh Saya BerhutangKamis, 21 April 2011  Mas Franky, Sungguh 
Saya Berhutang     Oleh  Indra J Piliang     Untaian
 lagu seakan teman yang setia, setiap kali manusia berada dalam 
kesendiriannya. Bisa dibayangkan, bagaimana lagu (dalam artian 
keseluruhan menyangkut music, syair, nada, sampai irama dan penyanyinya)
 telah mengikat manusia dalam imajinasi tertentu. Barangkali tidak 
sepenuhnya sama dengan imajinasi yang dilantunkan oleh pencipta lagu. 
Tetapi, dalam sebuah “konser kecil” di dalam rumah kontrakan atau sedang
 berkemah di alam bebas, lagu-lagu tertentu telah menjadi identitas 
kolektif manusia.      Tadi
 malam, saya bertemu untuk terakhir kali dengan jenazah Franky 
Sahilatua. Seorang musisi yang idealis. Seseorang yang diingat sebagai 
pejuang, bukan hanya lewat syair, melainkan juga dengan tindakan. 
Keterlibatannya hampir total dalam setiap kali ada pameran kepedulian 
terhadap masalah-masalah rakyat. Tidak heran kalau Franky tiba-tiba 
muncul dengan sosok yang lebih politis, sekalipun dengan kandungan 
kemanusian yang lengkap, pada hari-hari terakhir kehidupannya.      Nama
 Franky Sahilatua akrab di telinga anak-anak remaja era 1980-an. Saya 
hanyalah salah seorang di antara anak-anak remaja itu, ketika menempuh 
pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA 2 Pariaman, Sumatera Barat. 
Dalam keterbatasan pergaulan, mengingat saya masuk jurusan A-1 (Fisika),
 alias anak-anak yang paling cerdas di sekolah (ehem), tentu tidak 
banyak sosok yang suka bersenandung di kelas kami.      Satu
 yang saya ingat bernama Surya. Julukannya si Bulan, karena mukanya ada 
jerawat batu. Wajahnya yang putih memperlihatkan jerawat yang tak 
sembuh-sembuh itu. Si Bulan inilah yang suka bersenandung, duduk di 
belakang. Kalau ada kericuhan, si Bulan ini sering jadi tersangka. 
Barangkali karena asal SMP-nya yang minoritas pas SMA. Dia anak Pasaman.
      Saya
 tak ingat, apakah si Bulan ini suka bernyanyi lagu-lagu Franky. Yang 
jelas, perlahan saya memiliki koleksi kaset Franky Sahilatua. Ketika di 
kelas dua terjadi “perubahan identitas diri” dalam diri kami, yakni 
munculnya sikap individu yang semakin kuat, maka perlahan saya mendapat 
julukan si Franky. Ya, nick name. Nama itu mengacu kepada Franky 
Sahilatua. Teman-teman SMA lain juga memiliki nama panggilan diluar nama
 asli, seperti Bram, Ricci, dllnya. Tentu ada julukan tambahan, sesuai 
dengan ciri fisik seperti si Bulan.  M Noval, misalnya, 
mendapat julukan si Peot, karena salah satu giginya lebih panjang dari 
gigi yang lain. Ada yang dapat julukan si Elang, karena hidungnya 
semancung hidung bule. Saya juga dapat julukan si Cengkok, karena tangan
 kiri saya patah sejak taman kanak-kanak di Mentawai. Jadi, untuk satu 
anak di SMA saya, ada tiga sebutan atau nama panggilan.      Tapi
 jangan salah, tidak semua orang di lingkungan sekolah boleh memanggil 
si Franky atau si Cengkok. Harus yang benar-benar paling akrab. 
Misalnya, kalau Franky adalah sebutan yang “diijinkan” untuk lingkungan 
Kelas A-1 saja. Sementara si Cengkok, hanya boleh untuk teman-teman yang
 paling akrab atau genk di Kelas A-1. Ada anggota genk dari Kelas A-2, 
jago karate dan kung fu. Genk ini adalah untuk anak-anak yang pulang 
sekolah atau pergi sekolah saja. Anggota genk tidak selamanya harus satu
 kost. Nama teman satu kost saya adalah Syahrul, tetapi dia lebih banyak
 masuk genk anak-anak lain yang “lebih alim”.      Dalam
 dinamika kehidupan seperti itulah kaset-kaset Iwan Fals, Ebiet G Ade, 
Chrisye, dan Franky Sahilatua muncul. Dan segera kaset-kaset itu 
membentuk komunitas penyenandung. Tentu ada juga grup-grup band lain, 
seperti Panbers, Salem (asal Malaysia). Acara olah suara masuk dalam 
agenda rutin berupa class meeting (pertandingan kesenian dan olahraga). 
Karena saya aktif juga di Pramuka, maka lagu-lagu balada menemani setiap
 kali ada kegiatan hiking, berkemah, dan lain-lain.      Syair-syair dalam lagu 
Franky terasa lebih dekat dengan kehidupan saya sebagai anak kampung.  Sejak
 sekolah dasar sampai SMA, pulang pergi ke rumah saya melewati sungai 
berair deras. Namanya Batang Naras. Baru tahun 2011 ini sebuah jembatan 
hadir di kampong saya. Bisa dibayangkan, setiap kali sungai banjir, lalu
 menyeberangi sungai atau mencari ikan, senandung kecil lagu-lagu balada
 otomatis akan menghiasi mulut. Namun, karena memang bukan penghafal 
yang baik, jarang lagu-lagu itu hafal seluruh baitnya.      Syair
 lagu Ebiet G Ade memang juga bertema alam. Tetapi ada yang terasa 
hilang, konteks dari lagu-lagu itu tidak terlalu terlihat. Terlalu jauh 
ruang imajinasi yang harus disediakan, untuk bisa memahami syair-syair 
Ebiet G Ade. Sementara, untuk lagu-lagu Franky Sahilatua, terasa ada 
konteksnya “Surabaya yang panas”, “Kereta”, dan semacamnya. Begitu juga 
dengan lagu-lagu Iwan Fals, saya lebih menangkap maknanya ketika kuliah 
di UI. Ada “nuansa politik” dalam lagu-lagu Iwan. Sebagai anak kampong, 
tentu nuansa politis yang dibawa lagu-lagu Iwan Fals terasa jauh.      Singkat
 kata, Franky Sahilatua telah membawakan imajinasi kolektif yang tidak 
liar ke alam pikiran masa SMA saya. Makanya, ketika kuliah di UI mulai 
tahun 1991, saya mencari kaset-kasetnya. Memang, mendengarkan kaset 
Franky di lingkungan Jakarta dan Depok tentu berbeda dengan mendengarkan
 di kesunyian malam hari di dusun saya yang jauh dari suara-suara 
apapun, kecuali suara alam. Baru tahun 2000-an kampong saya mulai 
mendengar suara-suara knalpot motor di malam hari, itupun terbatas.      Jadi,
 ketika menempuh perjalanan selama 3 jam pergi dan 2 jam pulang ke 
rumah, menjenguk jasad Franky Sahilatua, bagi saya itu adalah sebuah 
ucapan terima kasih. Walau di usia akhirnya saya mengenal Franky sebagai
 seorang teman diskusi. Dalam masa pilpres 2009, saya beberapa kali 
ketemu Franky, begitupun sesudahnya. Kalau ada massa berkumpul di 
jalanan Jakarta, Franky dipastikan menyelip di antaranya, apalagi kalau 
disediakan tenda untuk mengisi acara berupa nyanyian.      Mas
 Franky, “Dia yang memanggil saya dengan sebutan ‘Bung Indra’”, selamat 
jalan. Alam akan kembali sunyi tanpa nyanyianmu. Mudah-mudahan di alam 
sana, semakin banyak syair yang kau tulis dan inspirasikan kepada 
musisi-musisi baru kami. Selamat jalan. Terima kasih. Saya sudah 
berhutang kepadamu…

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke