Terima kasih untuk keterangannya Angku DArwin Bahar. Saya tidak tahu kapan 
Angku Darwin "kebetulan  saya yang ketika itu saya masih murid sebuah SLTA", 
tetapi melihat angka-angka 2002-2003 itu, memang bukan masa saya di Indonesia. 
Saya meninggalkan Indonesia tahun 1966 jauh sebelum itu. Jadi saya tidak 
mengikuti suasana debat danserangan itu. Saya di SLTA [SGA-Negeri Payakumbah] 
tahun 1952-55.

Salam,
--MakNgah


--- In [email protected], "Darwin Bahar" <dbahar@...> wrote:
>
> Nakan Akmal sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati
> 
> Alhamdulillah, terima kasih atas pencerahan soal kalimat Nakan Akmal: "sudah
> tidak pada saatnya mengusulkan pahlawan nasional hanya berdasarkan
> primordialisme, apalagi dalam jumlah banyak sekaligus".
> 
> BTW,  setantang polemik mengenai  tudingan plagiator terhadap Buya Hamka,
> kebetulan  saya yang ketika itu saya masih murid sebuah SLTA di JL
> Percetakan Negara Jakarta, mengikutinya dari media. Saya masih ingat tuduhan
> itu pertama kali dilontarkan oleh Abdullah di rubrik LENTERA yang diasuh
> Pramudya di harian Bintang Timur yang berafiliasi kepada Partai Komunis
> Indonesia (PKI), antara tahun 2002 - 2003 (saya tidak  ingat persis, yang
> pasti ketika itu saya belum lulus SLTA). Saya malah sempat membaca
> "Majdulin"-nya  Manfaluthi yang diterjemahkan dengan sangat indah ke bahasa
> Indonesia oleh Ali Audah. Seperti kita ketahui,  Ali Audah. juga
> menerjemahkan Biografi Nabi yang ditulis oleh Haikal.
> 
> Dan tentu saja apa yang dikemukakan HB Jassin berikut alasan-alasannya,
> bahwa Buya Hamka tidak melakukan  plagiarisme benar adanya.
> 
> Dari rubrik LENTERA itu pula Pramudya meneror dengan ganasnya para  seniman
> dan sastrawan yang berseberangan dengannya dan melakukan perlawanan
> intelektual terhadap kediktatoran Bung Karno -- terutama--para penanda tangan
> "Manifes Kebudayaan, yang distigmakan sebagai kelompok "Manikebu",  seperti
> HB Jassin alm,  GM, Bur Rasuanto, Taufiq Ismail (ketika itu masih
> menggunakan nama Taufiq AG Ismail, Arifin C Noor alm dan Soe Hok Djim (Arif
> Budiman). Seperti diketahui, sebagai  akibatnya  para sastrawan tersebut
> tidak boleh menerbitkan karya mereka di mana saja. Para PNS seperti HB
> Jassin dan Taufiq Ismail dipecat dari jabatannya. Dan seperti ditulis GM
> dalam Caping tanggal 9 Agustus 2010, di masa "demokrasi terpimpin", yang
> sudah membredel sejumlah surat kabar dan majalah dan memenjarakan sejumlah
> orang, misalnya Mochtar Lubis, larangan itu punya efek yang tak main-main
> 
> Sejak saat itu penilaian saya terhadap pribadi Pramudya rendah sekali.
> Satu-satunya bukunya yang dpernah saya baca dulu adalah "Midah si Manis
> Bergigi Emas'. Hanya kemudian seperti kita ketahui, karena dizalimi oleh
> pemerintah ORBA banyak orang bersimpati, terutama yang tidak tahu kurenahnya
> dulu. Apalagi dia sering tampil seperti 'orang suci'  Yang tahu, seperti
> Mochtar Lubis mengembalikan hadiah Magsaysay yang diterimanya sebelumnya,
> ketika Pram menerima hadiah yang sama dari the Ramon Magsaysay Award
> Foundation. 
> 
> Itu beberapa hal yang saya ingat dari salah satu aspek sejarah masa lalu
> yang saya ikut menyaksikan, yang masih menyisakan kekaguman saya sampai saat
> ini kepada sejumlah sastrawan kelompok "Manikebu"--termasuk GM tentu saja--
> sebagai sastrawan, intelektual, humanis dan pejuang demokrasi yang konsisten
> dan berdedikasi tinggi.
> 
> Wallahualam bissawab
> 
> Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 68-)
> 
> . 
> 
> 
>  
> <http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/141751;_ylc=X3oDMTJzb2k3dHV
> rBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE0MTc
> 1MQRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMzAzMzg5NjI3> @ Mak Darwin, soal Hamka
> ... Re: [R@ntau-Net] Kepahlawanan Hamka Ter 
> 
> 
> Posted by: "Akmal N. Basral"
> <mailto:anb99@...?Subject=%20Re%3A%20%40%20Mak%20Darwin%2C%20soal%20Ha
> mka%20%2E%2E%2E%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20Kepahlawanan%20Hamka%20Ter>
> anb99@... 
> 
> 
> Wed Apr 20, 2011 10:42 pm (PDT) 
> 
> 
> 
> Mak Darwin Bahar nan ambo muliakan,
> insya Allah saya paham bahwa Buya Hamka bukan hanya milik Minang, bukan
> hanya milik Indonesia, bahkan milik dunia Islam.
> 
> 1/
> Waktu saya kuliah di FISIP UI, salah seorang cucu Buya, Amalia, adalah
> senior saya. Lalu sekitar tahun 1988, kami satu jurusan (Sosiologi FISIP UI)
> "studi banding" ke Unand dan sekitarnya (biar agak mirip dengan DPR saketek
> lah yo mak). Dan setelah "studi banding" 1 hari, kami "raun-raun" selama
> beberapa hari di beberapa obyek wisata Minang (samo juo dengan anggota Dewan
> yo mak), salah satunya mangunjungi rumah Buya di pinggiran danau Maninjau.
> 
> Lalu ketika ambo mulai tertarik sastra, dan mambaco saat tinggi-tingginyo
> tuduhan PAT (Pramoedya Ananta Toer) terhadap karya Buya Hamka,
> "Tenggelammnya Kapal Van Der Wijck", ambo palajari karya nan dituduahkan
> itu, "Al Majdulin" karya sastrawan tuna netra Mesir, Mustafa Al-Manfaluthi.
> 
> Ternyata, karya Manfaluthi ko juo tapangaruah karya sastrawan Prancis,
> Alphonse Karr yang judulnya "Sous les Tilleul", dalam baso awaknyo kiro-kiro
> "Di bawah Pohon (semacam) Limau". 
> 
> Pada carito Monsieur Karr ko, namo tokoh carito adalah Stephan dan
> Magdalene, yang dalam baso Arab-Mesir, manjadi "Majdulin (Magdalene)". Salah
> satu terjemahan dalam bahasa Indonesia thd novel ini memberikan judul:
> Magdalena: Di Bawah Pohon Tilia (yang ambo raso dilakukan untuak manjaga
> rima/rhyme kalimat antara "Magdalena" dan "Tilia" dari "Tilleul")
> 
> Sangkek carito, manuruik HB Jassin, Buya Hamka indak malakuin plagiatisme
> nan dituduahkan PAT, meski karya "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" dengan
> tokoh Zainuddin-Hayati memang memiliki kemiripan problematik dengan tokoh
> Stephan-Magdalene (dari Alphonse Karr yang tetap dipertahankan Manfaluthi).
> Salah satu perbedaannya, jelas pada setting sosial, kultural, dan geografis
> karya Buya Hamka sudah begitu, menurut istilah sekarang "lokal", dengan
> tokoh yang berbudaya Minang, dalam sebuah perjalanan kapal Belanda, yang
> akhirnya tenggelam di lepas pantai Brondong, Lamongan (kisah sebenarnya,
> kapal itu tenggelam pada 28 Oktober 1936). Jadi, keahlian Buya Hamka sebagai
> sastra yang membuat jalin berkelindan antara imajinasi kisah Zai-Hayati
> dalam setting historis, membuat ini layak disebut sebagai karya baru, meski
> tentu saja layaknya banyak karya sastra lain, selalu terpengaruh oleh
> karya-karya sebelumnya.
> 
> Itu baru dari satu sisi Buya Hamka sebagai sastrawan, belum lagi dari sisi
> beliau sebagai seorang ulama.
> 
> 2
> 
>  
> 
> //////////////
> 
> Salam,
> 
> Akmal Nasery Basral
> Cibubur.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke