Ketika Papa Bercerita (14 bag. II) By : Ritrina
Dulu aku kurang paham, mengapa setiap ada yang diputuskan dengan sekolah, menikah atau merantau diantara kami harus memiliki izin dari semua paman. Seperti aku yang memutuskan untuk merantau ke kota rantauanku ini, mengikuti seorang adik Papa (Pak Ciak). Bukankah hal itu biasa saja, sebab aku awalnya hanya pergi liburan sambil itung-itung dapat kerja di kota industry ini. Ketika beberapa pekerjaan berhasil kudapatkan, aku diharuskan pulang dulu untuk izin ke semua paman-pamanku untuk bisa kuteruskan merantaunya. Sekarang aku paham akan halnya sistim kekeluargaan sukuku ini. Bersifat sangat melindungi. Bila terjadi sesuatu denganku, Papa dengan keluarga besar akan bertindak sebab kepergian telah seizin mereka semua. Pertanyaan mereka tentang apa yang ingin kucari di Rantau kujawab dengan tegas. Mencari pengalaman. Sehingga tidak ada yang mereka bantah dari keinginanku itu. Bila kujawab nyari duit, berkemungkinan besar mereka akan memberiku duit dan tak boleh pergi, bila kujawab mencari pekerjaan setelah selesainya perkuliahanku, tentunya mereka juga berusaha mencarikan itu di kotaku di kampung sana. Jadi cari pengalaman saja, sebab nyari pengalaman kan harus kemana-mana. Papa selalu mensupport segala kegiatan yang berhubungan dengan kaum Mama. Keluarga kami sangat kompak. Bisa kurasakan sumbu kekompakan itu mengalir dari rumah sederhana kami, sebab Papa selalu bisa menjadi penengah bahkan pencari solusi dari masalah-masalah yang timbul. Banyak masalah juga bisa selesai dengan acara makan bersama di rumah. Masakan Mama yang begitu lezat memudarkan perselisihan atau masalah yang telah ada menjadi pudar, begitu tangan-tangan mereka cuci di kibasuah (mangkok kecil tempat cuci tangan). Sangat banyak masalah di keluarga besar yang melibatkan campur tangan beliau dan diselesaikan sampai tuntas. Keluarga Papa sebenarnya jauh lebih besar dari keluarga Mama, sebab Kakek kami memiliki empat orang istri seperti yang telah kuceritakan di episode terdahulu. Salah satu yang masih kuingat sewaktu Kakek berpulang setelah beberapa lama sakit terbaring karena telah dimakan usia. Papa yang tengah bekerja di Rumah Sakit Achmad Muchtar tiba-tiba langsung ke kampung ke rumah Kakek. Ternyata tidak lama setelah itu Kakek sakratul maut dan dilepas sendiri oleh Papa dan Pak Ciak yang kebetulan pulang kampung dari rantaunya di Batam. Sedangkan anak-anak kakek dari istri-istri beliau yang lain baru diberitahu setelah Kakek menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 1988. Kesalutanku akan feeling yang kuat dirasakan Papa terhadap orantuanya ini kembali terjadi ketika nenek kami meninggal dunia. Papa yang telah pensiun waktu di tahun 2006 itu berulangkali menjenguk nenek yang tinggal bersama salah seorang cucu yang dibesarkannya sejak lahir karena menantunya keburu dipanggil yang Kuasa 6 bulan setelah melahirkan kakak sepupuku itu karena sakit. Nenek yang telah berumur hampir 100 tahun itu telah mengecil tubuhnya dan terbaring lemah. Menurut pemeriksaan dokter tidak ada yang masalah di badan nenek, hanya beliau tidak mau makan beberapa hari itu menjadi sangat lemah. Dokter menganjurkan untuk memberi infuse kepada nenek. Papa yang tengah perjalanan membeli infuse ke apotik tiba-tiba berbalik arah dan pulang kembali ke rumah kakak sepupuku itu. Saat itulah nenek mulai sakratul maut dan dilepas oleh beliau dengan tenang. Begitupun dengan kehidupan bermasyarakat bagi Papa. Sewaktu kami telah menetap dan punya rumah sendiri di sebuah kampung di pinggiran kota Bukittinggi , Papa selalu ikut dengan kegiatan kemasyarakatan. Diantara kegiatan Papa yang pernah kutahu adalah ikut menjadi pengurus LABERS. LABERS adalah kependekan dari Luak Anyir Bersatu. Sebuah klub bola di kampungku yang bernama Luak Anyir. Papa masuk di jajaran pengurusnya sebagai wakil ketua. Tidak jarang pula Papa juga ikut bermian bola bersama pemuda-pemuda di sana. Gara-gara kedekatan Papa dengan para pemuda, aku yang masih sangat kecil sering dibawa Papa ikut mengekori kegiatan Papa ini. Papa selalu memanggilku dengan sebutan Upiak. Jadilah panggilanku si Upiak bisa kudengar dimana-mana di panggil orang. Ohya, Labers ini sering menjadi juara bila ada pertandingan-pertandingan sepak di Bukittinggi sehingga Labers masuk ke jajaran 4 besar klub di Bukittinggi yang disebut dengan Divisi 1 sejajar dengan klub PLN dan 3 lainnya. Waktu kemenangan itu para pemuda mengadakan syukuran di rumah kami, sederhana tapi meriah sebab disertai dengan pengajian. Papa juga pernah beberapa periode menjadi Ketua Pembangunan Mesjid di kampungku. Awalnya sebuah mushalla yang telah lama ada dan berada di pinggir jalan antara Simpang Luak Anyir dengan Bukit Ambacang bernama Baburrahmah. Mushalla ini sudah susah menampung jama'ah yang kian hari kian banyak. Kegiatan didikan shubuh, remaja mesjid, MIS (Madrasah Ibtidaiyah Swasta), remaja mesjid, pengajian malam dan pengajian ibu-ibu. Keinginan masyarakat untuk memperluas mushalla menjadi mesjid akhirnya diwujudkan di masa kepemimpinan Papa beberapa periode. Mesjid itu sekarang berdiri megah disana. Di halamannya banyak ditanam tanaman buah dan bunga. Sebab Papa memang juga suka bertanaman. Bukan tidak sedikit benturan yang dialami Papa selama menjadi Ketua Pembangunan Mesjid. Mulai dari seorang tetua warga yang meragukan kemampuan Papa sebab Papa adalah kaum pendatang disana bukan penduduk asli. Hal ini dijawab Papa dengan usaha lebih keras untuk mengusahakan berdirinya mesjid. Cime'eh bukan tak sedikit datang, semua itu jadi bahan bakar penyemangat. Hingga mesjid yang dibilang tak mungkin selesai itu sekarang bisa dinikmati semua orang. Satu yang kuingat dari ketegasan Papa memimpin, bila ada anak kecil yang ribut-ribut berlarian, maka Papa akan berdiri dan memukul si anak sambil teriak," Ang nak ka maaadu Den jo Ayah Ang atau jo Inyiak Ang, aduan sinan!! (Kamu mau mengadukan saya ke ayahmu atau kakekmu, adukan sana!) Semenjak kejadian itu, banyak orangtua yang berpikir untuk membawa anak-anak mereka yang kecil-kecil ikut sembahyang. Takut diancam Papa, hasilnya sungguh positif, bila sembahyang berjama'ah semuanya tanpa terkecuali ikut sembahyang dan tidak ada lagi yang meribut. Untuk anak-anak kecilpun telah disiapkan acara khusus untuk mereka yaitu Didikan Subuh di hari Minggu pagi. Sehingga ada seorang pejabat yang sembahyang waktu itu di mesjid kami itu mengatakan, bahwa inilah mesjid paling tenang yang pernah dimasukinya, walaupun jemaah banyak dan juga ada anak-anaknya. Kegiatan lainnya yang tidak kalah menyita waktu Papa di masa Orde Baru bahkan masih dia teruskan sampai sekarang adalah menjadi seorang Komisaris Golkar. Papa sebagai Pegawai Negeri Sipil selalu bilang kepadaku bila Golkarlah yang membelikan kami beras untuk makan sekelurga. Kalimat ini sebuah kalimat pengandaian yang mau tidak mau bila jadi PNS maka harus berpartaikan Golkar. Aku ingat banyak sekali accessories partai ini di rumah bila musim pemilu tiba. Ada baju kaos, selendang, pin, bros baju dan bendera. Semuanya serba kuning. Papa suka memberi kaos ini pada pemuda-pemuda di kampung terutama yang kurang mampu. Menurut Papa, bila musim kampanye usai, maka baju-baju itu sangat berguna bagi mereka untuk dipakai ke sawah, ladang atau bertukang. Daripada dikasih ke yang mampu hanya jadi kain pel atau kain lap setelah kampanye usai. Kegiatan sosial lainnya yang dilakoni Papa adalah kegiatan Papa di kampung halamannya dimana dia ikut mengurus supaya di kampung kecil bekas markas Kompi Biruang itu dibangun sekolah dasar. Sehingga anak-anak kampung tersuruk itu tidak lagi jauh untuk bersekolah. Kawan, adalagi prestasi Papa yang kupikir akan menjadi contoh bagus bagi pengurus mesjid lainnya untuk ditiru. Ceritanya begini, Papa yang aktif di mesjid juga membawa angin perubahan untuk penyelenggaraan jenazah dari segi adat istiadatnya. Dulu bila ada yang meninggal maka keluarga yang berduka akan sibuk menyediakan hidangan baik bagi pelayat, orang tahlilan ataupun bagi penggali kubur. Sejak Papa aktif sebagai ketua mesjid, Papa membuat semacam kas yang diperoleh dari sumbangan warga jema'ah mesjid. Sekalipun hal ini kegiatan mesjid, tapi Papa tidak membeda-bedakannya bagi yang bukan jema'ah. Seluruh warga kampung yang meninggal akan diperlakukan sama. Ibu-ibu PKK akan mengkoordinir memasak makanan di rumah salah seorang warga lain, makanan itu dibawa ke rumah duka begitu berita kematian didengar. Sehingga yang berduka tidak perlu menyediakan apa-apa untuk konsumsi orang-orang yang menyelenggarakan jenazah. Seiring dengan hal itu, Papa bila pergi tahlilan tidak mau dihidangkan makanan atau minuman. Sebab keluarga berduka dan tidak sepantasnyalah malah bikin syukuran. Lambat laun tradisi ini berubah dengan apa yang diinginkan Papa. Sebab hal ini meringankan beban warga bukan sebaliknya. Demikianlah Kawan, kuberitakan kepadamu dengan seadanya. Kepandaianku menceritakannya barangkali belumlah begitu mewakili apa yang telah diperbuat oleh Papaku ini dalam mengisi kehidupannya yang pernah dilandasi oleh sebuah perjuangan besar masa PRRI terutama pelajaran-pelajaran yang sempat dia serap dari seorang tkokh besar yaitu DR. Mohammad Natsir. Bagaimanapun juga mengingat perjuangan beliau dan orang-orang di lingkaran hidup beliau sungguh sangat beragam dan patut kita hormati dan hargai. Terutama mereka yang kini telah tiada, gugur sebagai tumbal marwah sebingkah negerinya yang dianiaya. Di tangan kitalah sekarang yang memberi makna pada tulang-belulang mereka yang didekap bumi itu menjadi berarti atau tidak. Batam, 26 April 2011 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
