Angku Akmal,

Saya kira ada empat temat penting untuk itu:
 
1. Bidar Alam, 
2. Halaban, 
3. Kototinggi, 
4. Sumpur Kudus. 

Saya susun menurut abjad, bukan menurut urutan pentingnya atau menurut urutan 
sejarahnya bagaimana penghijrahan PDRI itu. 

Sebagai penulis yang menfokuskan Sjafruddin Prairanegara dengan PDRI barangkali 
Angku akmal dapat menyoroti kita bersama di Lapau ini bagaimana rententan 
urutan perjalanan PDRI itu. Kita tahu, seperti sudah Angku Akmal utarakan tadi; 
sesudah dari Bukittinggi ke Halaban. Dari Halaban ke mana? Ke Selatan ke Sumpur 
Kudus dan Bidar Alam? Kemudian dari Bidar Alam kembali ke Sumpur Kudus, Halaban 
dan ke Kototinggi? Bagaimana detail perjalanannya? Kita memerlukan referensinya.

Saya tahu sudah ada Tugu PDRI di Kototinggi dan di Sumpur Kudus. Saya sudah 
melihat sendiri yang di Sumpur Kudus, melihat gambarnya yang di Kototinggi. 
Saya tidak tahu apakah juga sudah ada Tugu PDRI itu di Halaban dan Bidar Alam. 
Saya sudah hilirmudiki Kototinggi - Halaban - Sumpur Kudus setengah abad yang 
lalu, namun saya belum pernah ke Bidar Alam; selalu terniat dalam hati 
berkunjung nanti.

Saya kurang paham apa yang dimaksud dengan Monas PDRI dalam berita ini; 
mungkinkah suatu monumen yang lebih besar dan tinggi untuk dengan biaya 
nasional dengan mengganti yang telah ada sekarang ini, atau membangun baru 
Monas PDRI itu. Apakah Tugu PDRI yang ada sekarang di Kototinggi dan Sumpur 
Kudus itu hanya biaya lokal (Nagari, Kabupaten, Propinsi) atau sudah dibiayai 
secara nasional? Kapankah masing2 Tugu PDRI yang sudah ada itu didirikan? Saya 
tanyakan itu karena terumbang-ambingnya Rekognisi Nasional PDRI itu dalam 
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], "Akmal N. Basral" <anb99@...> wrote:
> 
> Menurut saya, keduanya cocok.
> Halaban adalah awal deklarasi PDRI, 22 Desember 1948.
> Tanpa ada awal deklarasi di Dangau Yaya itu, tentu tak ada 
> pergerakan/perpindahan PDRI ke Kototinggi, setelah sebelumnya (yang paling 
> lama) justru di Bidar Alam.
> 
> Sebaiknya para pemuka adat di Minang tidak perlu sampai berebut mana yang 
> lebih penting wilayahnya untuk didirikan monumen ini, apalagi sampai 
> mengklaim wilayahnya yang paling penting dalam perjuangan PDRI. Sebab PDRI 
> bergerak dalam sebuah kontinuitas ruang, berbeda dengan ibu kota (stationer) 
> Jakarta, atau Jogjakarta pada saat terjadinya Agresi Militer ke-2 yang 
> mengawali kelahiran PDRI itu.
> 
> Salam,
> 
> Akmal Nasery Basral
> Penulis novel "Presiden Prawiranegara"
> 
> --- In [email protected], Hambo Ciek <hambociek@> wrote:
> >
> > Monas PDRI:  Koto Tinggi dan Halaban Rebutan                        
> >                                                             
> >                     Ditulis oleh Teguh              
> >                     
> >             Senin, 02 May 2011 02:14        
> > 
> > Setelah dilaksanakan rangkaian
> >  seminar tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dalam 
> > peringatan Satu Abad Syafruddin Prawiranegara di Jakarta, Banda Aceh, 
> > Bukittinggi, dan Pa­yakumbuh. Pada seminar yang digelar di Tan­jung 
> > Pati, Limapuluh Kota beberapa waktu lalu, sejumlah peserta seminar 
> > mem­per­­tanyakan kepastian lokasi pendirian mo­nu­men nasional (Monas) 
> > PDRI. Pasalnya, hing­ga saat ini dua kubu saling klaim tentang 
> > ke­pan­tasan kampung mereka layak untuk lo­kasi Monas tersebut: Koto 
> > Tinggi atau Halaban
> > Perkembangan terakhir, Peme­rintah Kabupaten Limapuluh Kota sendiri 
> > mengusulkan dua lokasi untuk didirikan Monas itu, yaitu di Kototinggi 
> > Kecamatan Gunuang Omeh dan Lareh Sago Halaban kepada panitia pusat di 
> > Jakarta.
> >  
> > Melihat hal ini, tokoh masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, Bri­gadir
> >  Jenderal TNI (Purn) Aditya­warman Thaha, dan H Safri Jalinus, tokoh 
> > masyarakat Padang Jopang dan Antoni, tokoh masyarakat Koto Tinggi 
> > meminta kepada panitia untuk segera menegaskan kepastian pendi­rian 
> > Monas tersebut.
> > Menurut Adityawarman, Koto Tinggi layak untuk  dijadikan lokasi 
> > tersebut, sebab, Koto Tinggi sebagai basis perjuangan utama PDRI.
> > "Bayangkan, sembilan orang pejuang Koto Tinggi gugur di Sungai Dodok 
> > ditembak tentara Belanda dalam menghadapi serangan saat menuju pusat 
> > PDRI di Koto Tinggi. Selain  itu, dua kali perjuangan besar dalam PDRI 
> > dan PRRI, diterima masyarakat tanpa penolakan. Ini adalah bukti, kalau 
> > Koto Tinggi, layak menjadi lokasi pendirian Monas tersebut," kata 
> > Adityawarman kepada Haluan Minggu (1/5).
> > ... dst ...lihat Halauan
> > 
> > -- 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke