LAPORAN ANDIKA D. KHAGEN DAN DENI PRIMA E-Paper Harian Haluan, MINGGU, 8 MEI 2011
Manolah ninih mamak kasadonyo Randai kami nan bajudul satahun di Minangkabau kaulai Terbata-bata Jeki melafazkan kata-kata dalam dialek Minang itu. Niniak terucap niniah, Kadimulai diucapkan kaulai. Selama 40 menit memainkan randai, lebih banyak lagi dialek-dialek itu yang salah. Tapi, kesalahan itu dalam tahap wajar. Jeki, dan 19 orang teman lainnya, cuma setahun belajar bahasa yang jauh dari nenek moyang mereka, nun jauh di luar Minangkabau. Jeki berasal dari Amerika. Selain Jeki, ada Rico dari India. Lainnya, dari Polandia, Thailand, Republik Ceko, dan Vietnam. Rektor ISI Padang Panjang Prof.Dr. Mahdi Bahar.S.Kar.M.Hum menyebutkan, mahasiswa tersebut menuntut ilmu di ISI, dengan pelbagai disiplin ilmu. Jeki misalnya, belajar di ISI tentang talempong dan saluang. Riskan dari Italia belajar tari Minang, randai, silat, dan tari piring. Sementara Rico mendalami seni lukis. Syem dari Vietnam belajar talempong pacik dan dendang. Namun, kesemua ilmu yang dilepajari menjadi satu dalam pertunjukan randai "Setahun di Minangkabau" di Taman Budaya Sumatera Barat Senin (2/5). Selama mereka tampil, banyak yang terpukau, tiap sebentar bertepuk tangan bila lafaz kata yang diucapkan pas betul dengan dialek Minangkabau. Tapi lebih banyak yang heran karena tak menyangka mereka mampu (mau) berbahasa Minang. Begitulah, tampilan mereka di panggung Laga-Laga Taman Budaya jadi semacam hiburan, tak lagi memikirkan makna-makna gerak yang dibawa randai. Hai, Namo Awak. Sesuai dengan judul cerita, randai yang dibawakan itu memang bercerita tentang pengalaman mahasiswa asing itu selama menuntut ilmu. Pengalamannya mengalir dalam cerita, persis seperti pemain randai profesional. "Hai, namo awak Rico. Awak berasal dari." Ia memandang ke sekitar dan mengelilingi penonton. "Cayya.cayya.cayya." Tangannya diangkat ke atas, pinggulnya di goyang-goyang, persis seperti sedang menari. Penonton sontak tertawa. Dan, yang lainnya secara bergiliran, dengan gaya kasnya masing-masing, memperkenalkan diri. Lalu, menampilkan pelajaran yang didapat selama di ISI. Selain bahasa, setidaknya, ke-20 orang ini, telah mengenal Indonesia, sebuah negara yang dalam banyak pemahaman, disebut negara tertinggal. Tapi, orang-orang asing ini, setelah tinggal dan belajar di dalamnya, menyebutnya unik. "Ada banyak buku yang bicara tentang Jawa. Di banyak buku juga saya baca tentang randai Sumatera. Saya tertarik. Dan, ingin sekali saya berada di sana mempelajarinya. Dalam sebuah literatur saya menemukan daerah Padang Panjang. Setelah belajar, wow, banyak tradisi yang beautiful ," kata Riskan dari Italia. Rata-rata, ke-20 pelajar tersebut mengaku mengenal Indonesia 'yang lain' ketika sudah berada di dalamnya. Kebudayaannya, adat istiadatnya, membuat mereka betah berada di Padang Panjang. "Waktu setahun terlalu sebentar untuk saya mempelajari yang lainnya. Terlalu sedikit yang saya pelajari," tutur Jeki dari Amerika. Ironi Kebudayaan "Sebelum sampai di sini (Laga-Laga), saya melihat orang Melayu sedang bermain breakdance. Saya terkejut, Anda-anda semua malah sebaliknya. Kami menyebut kalian bule, malah mempelajari yang tidak menarik bagi orang Melayu," kata Budayawan Wisran Hadi kepada ke-20 orang tersebut selesai pertunjukan. Wisran menyebutnya ironi kebudayaan. Menurut Wisran, ini sesuatu yang mencemaskan. Bahkan, bukan tidak mungkin, suatu ketika, randai justru ditonton oleh orang Melayu, sementara pemainnya justru dari Eropa. Jeki menyebutkan, sebelum tampil di Taman Budaya, mereka pertama kali latihan pada 26 Maret. Artinya, tidak sampai dua bulan, mereka telah mampu menampilkannya, meski belum terlalu sanggup untuk memahaminya. Dan, tampilan mereka tidak hanya di Taman Budaya. Mereka juga telah menampilkan randai itu di Jakarta dan Surabaya. Menurut Jeki, ini sesuatu yang luar biasa. Dan pengalaman itu tak bisa ia lupakan. Wajar, jika budayawan Wisran merasa kuatir. Kekuatiran yang sangat berasalan. ============ Wassalam Nofend/34+/M-CKRG -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
