Mudah-mudahan lai indak pak Suryadi. Sabab ado 114 group randai palin tidak di Sumbar nan tasebar di seluruh nagari. Kelompok kesenian randai nan ko masih berjalan dengan swadaya masayarakat nagari & melakukan pertunjukan apabila ado nan maundang dalam acara pulang basamo, baralek gadang batagak gala ataupun pernikahan.
Kutiko menginap di rumah pak Syafrudin di Simpang Ampek, ambo sempat mancaliak atraksi kesenian randai dari Nagari Koto Alam Silungkang kec. Palembayan kab. Agam. Kabatulan pak Syafrudin nan masih bako ambo ko sadang maadokan acara Akikah cucunyo nan katigo. Di nagari-nagari kelompok kesenian randai nan ko berlatih setiap sekali seminggu & seluruhnyo adolah masyarakat nan bamukim di nagari. Apokah kegiatan budaya nan ko paralu dilakukan pembinaan oleh pemda di masing-masing kabupaten? Ambo kiro sangat paralu adonyo. Tantunyo labiah rancak & tapek pabilo langsung ka nagari-nagari dari pado melalui perantara budayawan nan ado di Padang. Ambo kiro masing-masing dinas Budaya & Pariwisata nan ado di 11 Kabupaten & 7 Kota alah mafhum untuak itu. Tantunyo labiah rancak pulo kito nan ado diperantauan nan ko bisa pulo membantu kelompok kesenian nan ado di nagari kito masing-masing. Mengenai minimnya minat remaja mempelajari kesenian minangkabau, ambo kiro iko berpulang pado urang tuonyo juo. Hal iko samo dengan masalah pemahaman ajaran agamo pado anak-anak kito nan paralu diberikan perhatian khusus oleh orang tua. Karano itu perlu ditambahkan kegiatan ekstra kokulikuler di sekolah-sekolah terutama di SMP & SMA nan memang labiah rawan kondisinyo sesuai pertumbuhan perkembangan remaja di Sumbar sendiri. wasalam AZ/lk/33th Padang insya Allah pabilo alah ado wakatu nan lapang bisa ambo lewakan pulo daftar kelompok kesenian randai nan ado di Sumbar ________________________________ Dari: Lies Suryadi <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sab, 7 Mei, 2011 22:38:56 Judul: Bls: [R@ntau-Net] ORANG ASING MAIN RANDAI 'Memandang' Minangkabau dari Luar He he...Dinda Nofend, Takana komen di lapau kapatang terhadap Silek nan dipostingkan dek Kakanda Aslim. Kalau anak2 Minang nan gadang di rantau disuruah baraja silek: "Belajar silat?? Cape deh!". Di Eropa sapanjang nan ambo ketahui ado perguruan silek Minang beberapa kota, nan paliang manonjol di Amsterdam dan Wina. Murik2nyo bule-bule nan bulek-bulek. Antahlah, Pak Wisran. Mungkin katajadi nan Pak Wisran kuatirkan. Masalanyo, kok ka baranya breakdance bana lo urang asiang ka awak, awak serba tangguang lo menguasainyo. Wassalam, Suryadi --- Pada Ming, 8/5/11, Nofendri T. Lare <[email protected]> menulis: >Dari: Nofendri T. Lare <[email protected]> >Judul: [R@ntau-Net] ORANG ASING MAIN RANDAI 'Memandang' Minangkabau dari Luar >Kepada: [email protected] >Tanggal: Minggu, 8 Mei, 2011, 9:48 AM > > >LAPORAN ANDIKA D. KHAGEN DAN DENI PRIMA >E-Paper Harian Haluan, MINGGU, 8 MEI 2011 > >Manolah ninih mamak kasadonyo Randai kami nan bajudul satahun di Minangkabau >kaulai Terbata-bata Jeki melafazkan kata-kata dalam dialek Minang itu. >Niniak terucap niniah, Kadimulai diucapkan kaulai. Selama 40 menit >memainkan randai, lebih banyak lagi dialek-dialek itu yang salah. Tapi, >kesalahan itu dalam tahap wajar. Jeki, dan 19 orang teman lainnya, cuma >setahun >belajar bahasa yang jauh dari nenek moyang mereka, nun jauh di luar >Minangkabau. > >Jeki berasal dari Amerika. Selain Jeki, ada Rico dari India. Lainnya, >dari Polandia, Thailand, Republik Ceko, dan Vietnam. Rektor ISI Padang >Panjang Prof.Dr. Mahdi Bahar.S.Kar.M.Hum menyebutkan, mahasiswa tersebut >menuntut ilmu di ISI, dengan pelbagai disiplin ilmu. > >Jeki misalnya, belajar di ISI tentang talempong dan saluang. Riskan dari >Italia >belajar tari Minang, randai, silat, dan tari piring. Sementara Rico mendalami >seni lukis. Syem dari Vietnam belajar talempong pacik dan dendang. > >Namun, kesemua ilmu yang dilepajari menjadi satu dalam pertunjukan >randai "Setahun di Minangkabau" di Taman Budaya Sumatera Barat Senin (2/5). >Selama mereka tampil, banyak yang terpukau, tiap sebentar bertepuk tangan >bila lafaz kata yang diucapkan pas betul dengan dialek Minangkabau. Tapi >lebih banyak yang heran karena tak menyangka mereka mampu (mau) berbahasa >Minang. > >Begitulah, tampilan mereka di panggung Laga-Laga Taman Budaya jadi >semacam hiburan, tak lagi memikirkan makna-makna gerak yang dibawa randai. > >Hai, Namo Awak. Sesuai dengan judul cerita, randai yang dibawakan itu memang >bercerita tentang pengalaman mahasiswa asing itu selama menuntut ilmu. >Pengalamannya mengalir dalam cerita, persis seperti pemain randai >profesional. "Hai, namo awak Rico. Awak berasal dari." Ia memandang ke >sekitar >dan mengelilingi penonton. "Cayya.cayya.cayya." Tangannya diangkat ke atas, >pinggulnya di goyang-goyang, persis seperti sedang menari. Penonton sontak >tertawa. > >Dan, yang lainnya secara bergiliran, dengan gaya kasnya >masing-masing, memperkenalkan diri. Lalu, menampilkan pelajaran yang didapat >selama di ISI. Selain bahasa, setidaknya, ke-20 orang ini, telah mengenal >Indonesia, sebuah negara yang dalam banyak pemahaman, disebut negara >tertinggal. >Tapi, orang-orang asing ini, setelah tinggal dan belajar di dalamnya, >menyebutnya unik. "Ada banyak buku yang bicara tentang Jawa. Di banyak buku >juga >saya baca tentang randai Sumatera. Saya tertarik. Dan, ingin sekali saya >berada >di sana mempelajarinya. Dalam sebuah literatur saya menemukan daerah >Padang Panjang. Setelah belajar, wow, banyak tradisi yang beautiful ," kata >Riskan dari Italia. Rata-rata, ke-20 pelajar tersebut mengaku mengenal >Indonesia 'yang lain' ketika sudah berada di dalamnya. Kebudayaannya, >adat istiadatnya, membuat mereka betah berada di Padang Panjang. "Waktu >setahun terlalu sebentar untuk saya mempelajari yang lainnya. Terlalu sedikit >yang saya pelajari," tutur Jeki dari Amerika. > >Ironi Kebudayaan >"Sebelum sampai di sini (Laga-Laga), saya melihat orang Melayu sedang bermain >breakdance. Saya terkejut, Anda-anda semua malah sebaliknya. Kami menyebut >kalian bule, malah mempelajari yang tidak menarik bagi orang Melayu," kata >Budayawan Wisran Hadi kepada ke-20 orang tersebut selesai pertunjukan. Wisran >menyebutnya ironi kebudayaan. Menurut Wisran, ini sesuatu yang mencemaskan. >Bahkan, bukan tidak mungkin, suatu ketika, randai justru ditonton oleh orang >Melayu, sementara pemainnya justru dari Eropa. > >Jeki menyebutkan, sebelum tampil di Taman Budaya, mereka pertama kali latihan >pada 26 Maret. Artinya, tidak sampai dua bulan, mereka telah mampu >menampilkannya, meski belum terlalu sanggup untuk memahaminya. Dan, tampilan >mereka tidak hanya di Taman Budaya. Mereka juga telah menampilkan randai itu >di >Jakarta dan Surabaya. Menurut Jeki, ini sesuatu yang luar biasa. Dan >pengalaman >itu tak bisa ia lupakan. Wajar, jika budayawan Wisran merasa kuatir. >Kekuatiran >yang sangat berasalan. >============ > >Wassalam >Nofend/34+/M-CKRG > >-- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
