He he...Dinda Nofend,
Takana komen di lapau kapatang terhadap Silek nan dipostingkan dek Kakanda 
Aslim. Kalau anak2 Minang nan gadang di rantau disuruah baraja silek: "Belajar 
silat?? Cape deh!".
 
Di Eropa sapanjang nan ambo ketahui ado perguruan silek Minang beberapa kota, 
nan paliang manonjol di Amsterdam dan Wina. Murik2nyo bule-bule nan bulek-bulek.
 
Antahlah, Pak Wisran. Mungkin katajadi nan Pak Wisran kuatirkan. Masalanyo, kok 
ka baranya breakdance bana lo urang asiang ka awak, awak serba tangguang lo 
menguasainyo.
 
Wassalam,
Suryadi

--- Pada Ming, 8/5/11, Nofendri T. Lare <[email protected]> menulis:


Dari: Nofendri T. Lare <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] ORANG ASING MAIN RANDAI 'Memandang' Minangkabau dari Luar
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 8 Mei, 2011, 9:48 AM


LAPORAN ANDIKA D. KHAGEN DAN DENI PRIMA
E-Paper Harian Haluan, MINGGU, 8 MEI 2011

Manolah ninih mamak kasadonyo
Randai kami nan bajudul satahun di Minangkabau kaulai
Terbata-bata Jeki melafazkan kata-kata dalam dialek Minang itu. Niniak
terucap niniah, Kadimulai diucapkan kaulai. Selama 40 menit memainkan
randai, lebih banyak lagi dialek-dialek itu yang salah. Tapi, kesalahan itu
dalam tahap wajar. Jeki, dan 19 orang teman lainnya, cuma setahun belajar
bahasa yang jauh dari nenek moyang mereka, nun jauh di luar Minangkabau.

Jeki berasal dari Amerika. Selain Jeki, ada Rico dari India. Lainnya, dari
Polandia, Thailand, Republik Ceko, dan Vietnam. Rektor ISI Padang Panjang
Prof.Dr. Mahdi Bahar.S.Kar.M.Hum menyebutkan, mahasiswa tersebut menuntut
ilmu di ISI, dengan pelbagai disiplin ilmu.

Jeki misalnya, belajar di ISI tentang talempong dan saluang. Riskan dari
Italia belajar tari Minang, randai, silat, dan tari piring. Sementara Rico
mendalami seni lukis. Syem dari Vietnam belajar talempong pacik dan dendang.

Namun, kesemua ilmu yang dilepajari menjadi satu dalam pertunjukan randai
"Setahun di Minangkabau" di Taman Budaya Sumatera Barat Senin (2/5). Selama
mereka tampil, banyak yang terpukau, tiap sebentar bertepuk tangan bila
lafaz kata yang diucapkan pas betul dengan dialek Minangkabau. Tapi lebih
banyak yang heran karena tak menyangka mereka mampu (mau) berbahasa Minang.

Begitulah, tampilan mereka di panggung Laga-Laga Taman Budaya jadi semacam
hiburan, tak lagi memikirkan makna-makna gerak yang dibawa randai.

Hai, Namo Awak.
Sesuai dengan judul cerita, randai yang dibawakan itu memang bercerita
tentang pengalaman mahasiswa asing itu selama menuntut ilmu. Pengalamannya
mengalir dalam cerita, persis seperti pemain randai profesional.
"Hai, namo awak Rico. Awak berasal dari." Ia memandang ke sekitar dan
mengelilingi penonton.
"Cayya.cayya.cayya." Tangannya diangkat ke atas, pinggulnya di
goyang-goyang, persis seperti sedang menari. Penonton sontak tertawa.

Dan, yang lainnya secara bergiliran, dengan gaya kasnya masing-masing,
memperkenalkan diri. Lalu, menampilkan pelajaran yang didapat selama di ISI.
Selain bahasa, setidaknya, ke-20 orang ini, telah mengenal Indonesia, sebuah
negara yang dalam banyak pemahaman, disebut negara tertinggal. Tapi,
orang-orang asing ini, setelah tinggal dan belajar di dalamnya, menyebutnya
unik.
"Ada banyak buku yang bicara tentang Jawa. Di banyak buku juga saya baca
tentang randai Sumatera. Saya tertarik. Dan, ingin sekali saya berada di
sana mempelajarinya. Dalam sebuah literatur saya menemukan daerah Padang
Panjang. Setelah belajar, wow, banyak tradisi yang beautiful ," kata Riskan
dari Italia. Rata-rata, ke-20 pelajar tersebut mengaku mengenal Indonesia
'yang lain' ketika sudah berada di dalamnya. Kebudayaannya, adat
istiadatnya, membuat mereka betah berada di Padang Panjang. "Waktu setahun
terlalu sebentar untuk saya mempelajari yang lainnya. Terlalu sedikit yang
saya pelajari," tutur Jeki dari Amerika.

Ironi Kebudayaan
"Sebelum sampai di sini (Laga-Laga), saya melihat orang Melayu sedang
bermain breakdance. Saya terkejut, Anda-anda semua malah sebaliknya. Kami
menyebut kalian bule, malah mempelajari yang tidak menarik bagi orang
Melayu," kata Budayawan Wisran Hadi kepada ke-20 orang tersebut selesai
pertunjukan.
Wisran menyebutnya ironi kebudayaan. Menurut Wisran, ini sesuatu yang
mencemaskan. Bahkan, bukan tidak mungkin, suatu ketika, randai justru
ditonton oleh orang Melayu, sementara pemainnya justru dari Eropa.

Jeki menyebutkan, sebelum tampil di Taman Budaya, mereka pertama kali
latihan pada 26 Maret. 
Artinya, tidak sampai dua bulan, mereka telah mampu menampilkannya, meski
belum terlalu sanggup untuk memahaminya.
Dan, tampilan mereka tidak hanya di Taman Budaya.
Mereka juga telah menampilkan randai itu di Jakarta dan Surabaya. Menurut
Jeki, ini sesuatu yang luar biasa. Dan pengalaman itu tak bisa ia lupakan.
Wajar, jika budayawan Wisran merasa kuatir. Kekuatiran yang sangat
berasalan.

============


Wassalam
Nofend/34+/M-CKRG

-- 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke