Tulisan nan partamo dikirim ka milis ko mungkin opini urang partai nandi
ambiak dari berita/artikel nan ambo kirim.
Makonyo subyektif jadinyo.

Memang susah kini mambedakan maa nan tulisan wartawan profesional jo
blog-blog amatiran.
Tapi wartawan pun adoh juo nan kacau balau macam tulisan di bawah ko...

Wassalam
fitr

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/18/antara-ilmuwan-dan-wartawan/
Antara Ilmuwan dan Wartawan

Teman saya, Dr. Khoirul Anwar, yang bekerja sebagai peneliti di Jepang
diwawancarai dalam acara Kick Andy di Metro TV. Artikel di situs resmi Kick
Andy menuliskan sebagai berikut.

Putra Indonesia yang banyak mendapat simpati para ilmuwan dunia lainnya
adalah Dr Khoirul Anwar. Pria asal Kediri, Jawa Timur itu baru-baru ini
telah menciptakan sistem telekomunikasi berbasis 4 G alias generasi ke
empat. Artinya, ciptaan pemuda desa, yang berusia 32 tahun itu telah
menyempurnakan sistem komunikasi yang kita kenal saat ini yaitu 3 G alias
generasi ketiga. “Jadi, dengan sistem komunikasi 4 G ini hambatan yang ada
di 3 G bisa disempurnakan di 4 G, kata Dr Khoirul menjelaskan. Tentu saja
penemuan atau karya Dr Khoirul itu telah dipatenkan di Jepang.

Karena awam dalam soal teknologi komunikasi, saya tanyakan hal ini kepada
teman saya yang paham soal ini. Penjelasan dia sebagai berikut.

Intinya, biasanya, agar suatu komunikasi wireless bisa bekerja tanpa adanya
interferensi dari sesi komunikasi lainnya, dibutuhkan yang namanya guard
interval. Dia membuat mekanisme komunikasi tanpa guardinterval ini. Hasilnya
sudah dipatenkan (like many other researchers did) dan “katanya” bisa
digunakan dalam teknologi 4G.

Di media lain nama peneliti ini ditulis sebagai Prof. Dr. Khoirul Anwar.
Padahal jabatan dia sekarang adalah assistant professor (bukan research
associate seperti yang saya tulis sebelumnya). Ini mengingatkan saya pada
berita bombastis tentang Nelson Tansu yang disebut sebagai profesor termuda
di Amerika Serikat. Padahal jabatan Nelson Tansu saat itu adalah assistant
professor, sebuah jabatan yang lumrah bagi seorang peneliti yang baru lulus
doktor.

Kesalahan soal jabatan profesor ini sepertinya sudah jadi penyakit kronis.
Wartawan bahkan masih banyak yang tidak tahu bahwa profesor itu bukan gelar,
melainkan jabatan.

Pekerjaan riset Khoirul memang bukan konsumsi awam. Tak mudah untuk
menjelaskannya ke dalam bahasa yang bisa dipahami awam. Pada level tertentu,
mungkin kesalahan wartawan masih bisa dimaafkan. Namun saya lihat beberapa
media seperti Koran Tempo dan Kompas mampu memberitakan masalah ini sesuai
dengan porsinya, walaupun beritanya bertaburan istilah teknis yang bisa
membuat kening orang awam berkerut.

Saya paham, tak semua wartawan punya bekal yang cukup untuk memahami
soal-soal yang rumit itu. Apalagi kemudian ia harus menuliskannya ke dalam
bahasa yang dipahami publik. Maka tak sedikit wartawan yang kemudian
mengambil jalan pintas, menuliskan sesuai dengan presepsi dia sendiri.
Terlebih, dunia jurnalistik punya pameo “orang menggigit anjing, jadi
berita”. Artinya perlu ada yang bombastis agar sesuatu bisa jadi berita.
Maka lahirlah berita-berita yang bukan memberi informasi, melainkan
menyesatkan publik.

Minimnya pengetahuan, ditambah keinginan untuk membuat berita besar, sering
membuat berita-berita sains menjadi jauh dari proporsi sebenarnya. Dalam
bahasa guyonan teman saya di milis, bila seorang membuat pernyataan berikut:

Saya menemukan satu konstanta yang menyempurnakan Salmonmagurosky-Iikuranov
equation yang membuat akurasi pengamatan virus oleh mikroskop elektron jadi
lebih super drpd yang ada sekarang. Temuan ini diharapkan dapat
mempercepatupaya penelitian menuju penemuan obat penyakit AIDS.

dalam bahasa wartawan bisa berubah menjadi:

Ilmuwan telah menemukan mikroskop super yang dapat menyembuhkan AIDS.
http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/18/antara-ilmuwan-dan-wartawan/

2011/5/28 Indra J Piliang <[email protected]>

> Coba baca dua alenia penutup ini, bukan malah mencari solusi, tetapi
> menuduh dan malah berdoa:
>
> "Jika memang ternyata dana tersebut hilang dikarenakan dibagi-bagi antara
> sesama pejabat tinggi di Pusat, sungguh tidak ada rasa perikemanusiaan
> sekali mereka. Saya Cuma berharap agar dana tersebut benar-benar
> direalisasikan agar masyarakat Sumatera Barat yang terkena bencana pada
> waktu itu, bisa beraktifitas sebagaimana biasanya lagi.
>
> Jika tidak, maka saya hanya bisa berdo’a agar Allah SWT memberikan azab
> bagi kalian. Azab yang berupa rasa sakit yang luar biasa sehingga kalian
> tidak bisa beraktifitas lagi…"
>
> Justru artikel ini membuka konfrontasi tdk jelas.
>
>
>
>
> ~~."IJP".~~
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke