aslm wr wb.

frasa dari dua paragraf sebagaimana dikutip uda IJP dan sejumlah paragraf di 
tubuh berita itu, awak nilai sebuah opini pribadi dari pengirim dengan alamat 
email [email protected]" <[email protected]> yang juga dikirimkan juga ke 
"Forhami group" 
<[email protected]>, "pkdp indonesia" 
<[email protected]>

kemudian di respon dengan nada emosi oleh ZulTan" <[email protected])... dll

kalau kerja jurnalistik, dia telah memiliki kode etik tersendiri.. rasa nya tak 
mungkin ada unsur opini yang bisa menyesatkan pembaca ada di batang tubuh 
sebuah berita sebagaimana dipostingkan oleh pemilik email : 
"[email protected]" <[email protected]>............

saran: kalau pengirim dari komunitas ini mengutip hasil kerja jurnalistik, lalu
 menambahkan opini pribadi di dalamnya, tentu yang akan terjadi adalah bias... 

agar tidak terjadi fitnah, kalau mau mempostingkan sesuatu, kirim saja tulisan 
itu dulu.. setelah itu baru dikomentari dan diperdebatkan...

kebetulan, tulisan yang dipostingkan iko, merupakan rekan kerja ambo di grup 
RPG Divre Padang (grup Jawa Pos)... rasonyo, tulisan yang benar itu sebagaimana 
telah dilansir di padang-today.com dengan link berikut: 
http://www.padang-today.com/index.php?mod=berita&today=detil&id=28483

sedangkan tulisan dibawah iko ([email protected]): antah baa carito nyo bisa 
takah itu jadi nyo...

Mei 27th, 2011 @ 10:46 AM

Kasihan Gubernur dari PKS

Kategori: Tulisanku



Irwan Prayitno

Tentunya
 kita masih ingat dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami yang menimpa 
beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Barat pada 30 September 2009 
yang lalu. Bencana tersebut memakan korban ribuan orang dan merusak 
sekitar ratusan rumah warga dan juga puluhan gedung.

Sebagai 
seorang pemimpin daerah, Gubernur Sumatera Barat yang bernama Irwan 
Prayitno harus memikirkan bagaimana nasib orang-orang yang dipimpinnya. 
Berbagai cara mungkin telah dilakukannya. Salah satunya adalah dengan 
meminta bantuan dana dari pemerintah pusat.

Pemerintah telah 
menyiapkan dana buat penanggulangan bencana alam yang diambil melalui 
APBN. Sumatera Barat yang kebetulan pada waktu itu tertimpa bencana 
alam, pemerintah menyiapkan dana sebesar 6,4 Triliun guna melakukan 
perbaikan-perbaikan setelah terjadinya bencana tersebut.

Gubernur
 Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan, dana bantuan gempa bumi untuk
 pembangunan infrastruktur di Sumatra Barat sebesar Rp3 triliun dari 
Rp6,4 triliun menguap (HILANG TANPA KETAHUAN).

“Awalnya ada dan 
terdapat dalam APBN untuk dana bantuan kepada Sumbar sebanyak Rp6,4 
triliun. Dari Rp6,4 triliun, sekitar Rp3,3 triliun untuk bantuan rumah 
masyarakat itu sudah turun dan telah disalurkan,” kata Irwan usai 
bertemu Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman di Gedung 
Nusantara II DPR RI, Jakarta, Jumat.

Pemerintah daerah Sumatera 
Barat dikirimkan dana awal sebesar 3 Triliun rupiah yang akan digunakan 
untuk merenovasi rumah-rumah penduduk dan juga merenovasi gedung-gedung 
pemerintahan yang rusak akibat bencana tersebut.

Uang sebesar 
itu, oleh pemerintah daerah Sumatera Barat dibawah kepemimpinan Irwan 
Prayitno, langsung digunakan untuk memperbaiki rumah warga dan 
memberikan bantuan kepada warga yang tertimpa bencana. Hasilnya, dalam 
waktu sekitar tiga bulan, sekitar 154 ribu rumah telah berhasil dibantu 
oleh pemerintah daerah Sumatera Barat. Berdasarkan kinerja tersebut, 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana memberikan penghargaan kepada 
Pemerintahan Daerah Sumatera Barat karena merupakan provinsi yang 
tercepat dalam menyalurkan bantuan terhadap 154 ribu rumah dan memiliki 
track record terbaik dalam penanggulangan darurat.

Penanganan 
korban gempa, Pemda Sumbar dalam waktu 3 bulan mampu menyelesaikannya 
secara tuntas dan bahkan mendapat penghargaan dari BNPB sebagai provinsi
 tercepat menyalurkan bantuan terhadap 154 ribu rumah dan memiliki track
 record terbaik dalam penanggulangan darurat. (Islamedia.web.id)

Seiring
 perjalanan waktu, sisa uang dari pemerintah yang berjumlah sekitar 3,4 
Triliun rupiah pun tidak turun-turun, padahal masih ada sekitar 50 ribu 
rumah warga dan puluhan gedung pemerintahan daerah yang masih perlu 
membutuhkan bantuan. Mungkinkah karena pemerintah melihat bahwa 
pembangunan pasca bencana alam di Sumatera Barat tergolong baik, 
sehingga pemerintah tidak mau menurunkan sisa dana tersebut?

Setelah
 lama menunggu dan tidak ada kepastian, akhirnya sang Gubernur pun 
bertindak. Beliau mendatangi Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana
 guna meminta sisa dana bantuan tersebut. Ternyata, BNPB menyarankan 
kepada Sang Gubernur untuk meminta kepada Menteri Keuangan. 
Menindaklanjuti saran tersebut, akhirnya Sang Gubernur pun meminta 
kepada Menteri Keuangan yang waktu itu dijabat oleh Sri Mulyani. Tetapi 
tidak ada hasil.

Setelah tidak menemui jalan tengah, Sang 
Gubernur tetap berjuang mencari kepastian dana untuk pembangunan 
daerahnya pasca terjadinya bencana. Akhirnya, Sang Gubernur pun meminta 
penjelasan kepada Badan Anggaran DPR. Di badan anggaran DPR tersebut, 
Sang Gubernur pun mendapatkan informasi bahwa dana tersebut sudah 
dimasukkan kembali kepada Kementerian Keuangan. Tidak lama berselang, 
Sang Gubernur mendapatkan surat dari Kementerian PU soal pembangunan 
gedung-gedung perkantoran diserahkan pada kementerian masing-masing.

Waktu
 itu, ujarnya, BNPB menyarankan untuk diminta kepada Menteri Keuangan 
dan dirinya meminta Menkeu (Sri Mulyani ketika itu) dan kemudian ke 
Dirjen Anggaran serta meminta penjelasan kepada Badan Anggaran DPR. Di 
Badan Anggaran DPR dikatakan bahwa dana tersebut sudah dimasukkan 
kembali ke Kemenkeu. Tak lama, datang surat dari Kementerian PU soal 
pembangunan gedung itu diserahkan pada kementerian masing-masing. 
(islamedia.web.id) 

Mungkin, karena kesal “dipermainkan” seperti 
itu, akhirnya Sang Gubernur pun mengirimkan surat kepada Presiden SBY. 
Ternyata, surat tersebut tidak direspon oleh Presiden SBY, melainkan 
direspon oleh Wakil Presiden. Sang Gubernur pun mendapatkan informasi 
bahwa ternyata dana tersebut SUDAH TIDAK ADA SAMA SEKALi.

“Akhirnya
 kami surati Presiden SBY sebanyak dua kali dan direspon oleh Wakil 
Presiden yang ternyata uangnya SUDAH TIDAK ADA SAMA SEKALI,” kata Irwan.

Sungguh
 malang nasib Sang Gubernur. Seorang Gubernur pun bisa “dioper sana, 
dioper sini”. Padahal yang dilakukannya adalah mencari dana guna 
melakukan renovasi daerah yang dipimpinnya guna perbaikan kembali 
kondisi rakyat di Sumatera Barat.

Kisah Sang Gubernur, mungkin 
juga sering kita alami dalam kehidupan kita ketika kita berurusan dengan
 aparat pemerintahan. Kita dioper kesana, dioper keisini, tanpa 
mendapatkan hasil terbaik yang kita inginkan. Ya memang, untuk sementara
 beginilah negeri yang kita cintai itu.

Tetapi Sang Gubernur 
mungkin tidak ingin dikasihani. Hal yang mungkin adalah, beliau bingung 
dikarenakan uang penanggulangan bencana yang berjumlah 3,4 Triliun bisa 
hilang begitu saja, padahal telah dianggarkan. Bahkan mungkin saja, Sang
 Gubernur bertambah bingung ketika Dirjen Anggaran Kementrian Keuangan 
meminta agar Pemerintah Daerah Sumatera Barat membangun 19 Gedung 
pemerintahan melalui dana APBD.

“Dirjen Anggaran bilang pakai 
APBD saja, lalu saya jawab sama saja dengan mati berdiri. Mana ada dana 
provinsi untuk membangun itu. Sama sekali tidak ada,” ungkap mantan 
Ketua Komisi VIII DPR itu.

Jika dana APBD Sumatera Barat tahun 
2011 yang berjumlah Rp.2.123.681.661.518 tersebut digunakan untuk 
membangun kembali daerah yang terkena bencana dan juga digunakan ntuk 
membangun gedung-gedung perkantoran, bagaimana dengan bagian-bagian lain
 yang juga membutuhkan dana guna dilakukan perbaikan? Sedangkan, dana 
tersebut telah dialokasikan untuk pembangunan daerah. Anda bisa membaca 
pembagian dana alokasi tersebut disini, disini, disini, disini, dan 
disini.

Oleh karena itu, Sang Gubernur pun meminta semua anggota 
DPR RI dari Provinsi Sumatera Barat untuk memanggil pihak-pihak yang 
terkait guna dimintai pertanggungjawaban mengapa dana penanggulangan 
bencana sebesar 3,4 Triliun tersebut bisa hilang.

“Saya mau 
konkrit, mohon kiranya kalau tidak ada keberatan, kekuatan kita di 
parlemen ini memanggil Menteri Keuangan Agus Martowardjojo untuk 
mengatakan jangan kira Sumbar itu sudah selesai dari penanganan gempa 
bumi. Masih ada sekitar 50 ribu rumah masyarakat dan 19 gedung 
Pemerintah Daerah (Pemda) yang masih rata dengan tanah dan pegawai kita 
semuanya berserakan,” kata Irwan Ptrayitno.

Jika memang ternyata 
dana tersebut hilang dikarenakan dibagi-bagi antara sesama pejabat 
tinggi di Pusat, sungguh tidak ada rasa perikemanusiaan sekali mereka. 
Saya Cuma berharap agar dana tersebut benar-benar direalisasikan agar 
masyarakat Sumatera Barat yang terkena bencana pada waktu itu, bisa 
beraktifitas sebagaimana biasanya lagi.

Jika tidak, maka saya 
hanya bisa berdo’a agar Allah SWT memberikan azab bagi kalian. Azab yang
 berupa rasa sakit yang luar biasa sehingga kalian tidak bisa 
beraktifitas lagi…

O
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke