AYAH DAN IBU TERTIMBUN SAAT GEMPA Bocah Cumanak Terlantar di Bukittinggi (MUHAMMAD BAYU VESKY)
(Iko ado kisah nan ditulih Harian 'Singgalang' ambo postingan ka dunsanak kasadonyo. Sawir Pribadi (40) TENG...! Malam semakin larut. Bukittinggi yang tabah sedang menidurkan anak-anaknya. Jam Gadang, berdentang memecah kesunyian. Di pojok kiri landmark Kota Wisata tersebut, duduk bersimpuh seorang bocah laki-laki. Namanya Rahmad Hidayat, 10. Akrab disapa Rahmad Cumanak. Ia putra asli Cumanak, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman. Semenjak kampungnya luluhlantak akibat gempa 7,9 SR 30 September 2009, Rahmad tertatih dan diayunkan nasib. Hidup sebatangkara, adalah takdir yang tidak bisa ia elakkan. Ayah tiada, ibupun tak punya. Yatim Piatu. Sesekali, teramat dalam di lubuk hati, bocah ini rindu pada kedua orangtuanya. Jika rasa rindu itu sudah datang, tak dapat yang akan disebutnya. Bocah ini menangis terlalu sedih. Dan itu, selalu malam hari, ketika keheningan sedang berlabuh di Bukittinggi. Ketika lain, saat pasar lagi ramai, pandangannya acap terhenti pada anak-anak manja yang bergayut pada ayah bundanya. “Ibo bana ati wak da,” katanya. Sejuta cerita, segumpal resah dan setumpuk tekanan perasaan yang mengerumuni kehidupannya, dia benamkan ke relung kalbu terdalam. Tak ada lagi tempat mengadu. Rahmad hanya ingat, Ijon-ayahnya dan Siti-ibunya meninggal terhimpit longsoran tanah. Kedua sosok yang ia banggakan tersebut, dikebumikan di pandam pekuburan massal, bersama korban gempa lainnya. Kepada Singgalang Kamis (2/6) dinihari di pelataran parkir Jam Gadang Bukittinggi, Rahmad bercerita panjang. Seulas kisah suram, dia tuturkan dengan paras muram. Pandangannya kosong. Nasib telah merampas hari-harinya nan indah. Menurut Rahmad, sebelum bumi Piaman bergetar dan menumbangkan kokohnya bangunan. Dia bersama belasan bocah Cumanak, tengah bermain sepakbola di lapangan Stasiun Padang Pariaman. Tidak lama berselang terjadi gempa, Rahmad berjalan menuju kediamannya. Sesampai di rumah (menurut Rahmad tidak terlalu besar-red), ia mendapati bangunan sudah luluhlantak. Orang-orang menjerit. Negeri Cumanak, dibungkus cerita duka. “Wak imbau-imbau amak jo apak waktu itu, indak ado nan manjawek do. (saya panggil-panggil ayah dan ibu waktu itu, tidak ada yang menyahut,” tutur Rahmad. Dari sudut matanya tampak ada bulir air jatuh. Dua hari setelah kampungnya ditelan gempa, Rahmad tidak kunjung menemukan orangtuanya. Sejumlah warga ketika ditanya Rahmad, mengatakan kalau orangtuanya sudah ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. “Sampai kini, indak tahu awak dima amak jo apak dikubuan do. Kecek ughang kubughan e di kubughan massal. (sampai sekarang saya tidak tahu di mana kuburannya. Kata orang, kuburannya di kuburan massal),” sambut Rahmad polos. Tinggalkan kampung Tepat pada hari ke-3 setelah gempa, bocah yang mengaku terakhir kali menginjak pendidikan di bangku kelas I SD Negeri 14 Cumanak tersebut, menumpangi angkutan umum Padang Sago menuju terminal Pariaman. Sesampai di sana, Rahmad sembunyi-sembunyi naik ke dalam bus jurusan Pariaman-Bukittinggi. Alasannya, dia takut diusir sopir dari dalam bus karena tidak punya uang. Singkat cerita, bus yang ditumpangi berhenti di terminal Aua Kuniang. Dengan langkah sigap, Rahmad turun dan menyelip ke keramaian. Di Terminal Aua Kuniang, Rahmad tinggal selama satu pekan. Segala pekerjaan dia lakukan. Malangnya, Rahmad tidak bisa bertahan lama di pasar konveksi terbesar di Sumatra tersebut. Sebab, menurutnya hampir tiap malam ia diusir sejumlah oknum petugas dan preman, karena tidur di depan kios dan toko. Berbekal kenalan dengan sejumlah sopir angkot, Rahmad menumpang ke Pasar Ateh dengan maksud ingin melihat Jam Gadang. Diselamatkan dua saudara Hidup di jalanan bukan perkara gampang. Hal ini dirasakan benar oleh Rahmad. Apalagi selama tinggal di Bukittinggi, penyakit mimisannya acap tiba. Tiap sebentar, hidungnya mengeluarkan darah. Berbulan-bulan di Jam Gadang, akhirnya Rahmad bersua dengan dua orang anak jalanan bersaudara kandung. Mereka adalah, Kevin Akbar, 16 dan Ali,11. Bersama kedua anak jalanan itu pula, Rahmad tinggal di emperan pos keamanan depan The Hills Hotel. Tiap hari, mereka bekerja serabutan hingga larut malam. Mulai menjadi tukang angkek, sampai menjadi tukang parkir. Ingin sunat Rahmad kepada Singgalang mengaku, kalau dirinya ingin segera disunat. “Kalau ado pitih, wak taragak disunat. Sudah itu, wak taragak sikolah. Kini, wak sadang ngumpuan pitih untuak sunat,” tambahnya. Teeng! Jam Gadang kembali berdentang. Jarum terpendek, menunjukkan pukul 02.00 WIB, dinihari. Jalanan lengang. Bukittinggi, mirip kota mati. Warganya sudah tertidur pulas dan dibuai mimpi. Tapi tidak dengan Rahmad, Kevin dan Ali. Mereka, masih sibuk mencari sesuap nasi dengan cara mengumpulkan barang bekas, untuk dijual kepada tukang loak esok pagi. Siapa yang peduli? (*) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
