BAWA “BOKA’ KE KANTOR FOR LUNCH
By : Jepe

 
Terinspirasi satu kata kunci dari dunsanak Anwar Jambak yaitu “boka” pikiran 
saya melayang di awal tahun 1992 ketika saya masih bujangan, tinggal di rumah 
orang tua dan bekerja setahun lebih di sebuah perusahaan kayu (HPH) di kota 
Padang.Ya masih terbayang dipelupuk mata saya paling tidak dalam 6 hari kerja 
kantor pada saat itu minimal 3 kali saya membawa ‘boka”, sebelumnya mungkin ada 
yang bertanya apa itu  “boka”
 

Boka tak lain tak bukan adalah bahasa kampung saya atau rata-rata orang darek 
(darat) di ranah minang yang berkampung halaman di nagari-nagari yang termasuk 
Kabupaten Tanah Datar, Boka begitu orang kampung saya menyebutnya jika ke sawah 
ladang pagi hari membawa makan siang lengkap dengan lauk pauknya (samba), 
kira-kira dalam bahasa indonesia “bawa boka” ini sama artinya dengan “bawa 
bekal”
 

Saya selalu merindukan bawa boka buat makan siang di kantor yang disiapkan oleh 
ibu saya paginya, walau saya saat itu sebagai lelaki yang masih muda tapi saya 
boleh dikatakan tidak ada malu dan gengsi membawa boka buat makan siang di 
kantor. Boka makan siang yang dibuatkan ibu saya selalu terasa istimewa bagi 
saya dengan menu-menunya yang khas “kampungan” (samba-samba buruak), tanpa 
bumbu 
vetsin dan sejenisnya pokoknya serba alami dan apa adanya baik bumbu, bahan dan 
cara mengolahnya.
 
Inilah isi boka makan siang yang selalu saya rindukan dari masakan ibu saya 
yang 
boleh dikatakan rata-rata ibu (padusi) minang yang lahir sekira tahun 30 an 
membawa keahlian masak-memasak cara kampung dengan aneka menu yang selalu 
membuat anak-anaknya rasa-rasanya tidak mau berpisah sampai kapanpun di ketiak 
induknya jika mengingat segala masakannya walau sederhana tapi membangkitkan 
selera.
 

Menu Utama Boka

Menu utama fovorit saya adalah asam pedas ikan laut dengan sedikit kuah agak 
kental dengan pedas yang menghentak serta rasa asamnya yang memecahkan air 
liur, 
ikannya bisa tandeman, suaso tiga jari, gambolo aceh atau potongan ikan sisiak 
yang padat daging. Bosan asam pedas ikan kalio ayam kampuang mudo belah empat 
untuk saya suka bagian sayap ke dadanya plus satu set hati samo rempolonya 
(ehemm gadang salero deh). Besoknya lagi atau minggu depannya lagi goreng 
kariang balado dengan irisan serong petai berkulit atau goreng ikan mungkuih 
balado dengan jengkol yang tua belum muda sudah terlampau, ahayy mantap kali 
lah 
ya jengkol seperti ini, asli piring terbang eksotik si ranah minang  yang 
membuat nanar lidah bergoyang tak terkendali.

Satu hal lagi yang saya rindukan juga menu utama isi boka  saya gulai telor 
dengan tapak leman dengan potongan tahu atau tempe dan yang tak pernah 
bosan-bosannya saya sampai saat ini walau saya lahir, remaja di kota padang 
dengan ikan laut yang berlimpah yaitu goreng balado ikan ambu-ambu tapi yang 
paling top adalah sisiak. Itulah beberapa menu andalan ibu saya jika saya 
membawa boka ke kantor untuk santap siang

 
Menu Tambahan Boka

Bisa sapek buto/bingung di goreng kering dengan taburan bawang goreng, ibu saya 
sangat teliti membersihkan sapek binguang ini hingga keduri-duri disiripnya 
yang 
tajam di buang (dia nggak mau dalam keenakan makan anaknya tertusuk 
kerongkongan 
gara-gara duri sapek binguang yang tajam dan menghujam ini). Lalu ada goreng 
bada balado dengan irisan tempe kecil-kecil bisa juga dengan irisan petai 
serong 
berkulit yang boneh khas dari parak petani di Lubuk Minturun.Perkedel kentang 
kecil-kecil yang padat dan harum dengan bumbu daun bawang dan saledri serta 
aroma khas cairan telor ayam kampung yang di goreng membalut tipis perkedel 
kentang ini. Banyak lagi menu-menu tambahan yang menggugah selera sebut saja 
“samba lado tanak” yang sangat complicated bahan dan rasanya  khas masakan 
kampung ala orang darek.
Tambahan lainnya bekal saya ini biasanya kerupuk ubi putih bulat sebesar piring 
tadah asli buatan orang batu sangka dan sekitarnya, kerupuk jangek atau kerupuk 
baghuak (emping)
 

Samba Lado Boka

Nah ini dia wajib dalam setiap boka yang saya bawa dan  atas nama lelaki minang 
makan tanpa samba lado itu akan membuat  hidup saya  terasa hampa dan hambar 
(berkelebihan..pasti begitu) salah satu favorit samba lado buatan ibu saya yang 
perlu diperhitungan dalam dunia samba lado ala orang minang bergaya dan cita 
rasa “kampungan” adalah samba lado karambia, begini rasanya pedasnya sedikit 
menggigit dengan rasa eksotis dengan bawang mentah yang di giling dan bersatu 
dengan parutan kelapa menjelang tua lalu sentuhan asam perasan asam kapehnya 
(jeruk nipisnya) mampu menggugah dan memecah air selera anda. Anda patah hati 
karena bercinta boleh tidak ada obatnya tapi jika anda patah selera saya akan 
merekomendasikan samba lado karambia ini obatnya biar selera makan anda kembali 
bergairah.
Samba lado ala kampungan lainya yaitu samba lado dompak (putiak ambacang) 
dengan 
sentuhan minyak tanak asli (minyak kelapa), samba lado uok taruang, samba lado 
bada kuriak bagonseng dengan tetap memberikan sentuhan gurih dari minyak tanak, 
samba lado tomat yang di tumis pokoknya komplit malah ada juga sekali-kali 
samba 
lado jariang panggang batokok ..edunn.
 

Uok-uokan Boka
 
Ibu saya dalam masalah uok-uok (kukusan) sayur sebagi menu yang berserat dalam 
boka saya yang paling sering tampil dalam isi boka saya adalah uok taruang 
ungu, 
uok buncih, uok kacang panjang dan uok labu siam dan untuk ulamannya saya atau 
keluarga saya selalu menyukai mentimun kuriak lokal yang dimakan tanpa di kupas 
kulitnya. Keluarga saya kurang atau tidak begitu menyukai uok pucuak ubi jadi 
boleh dikatakan jika ada razia boka oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung 
jawab ketika itu dipastikan dalam boka saya tidak akan ditemui uok pucuak ubi.
 

Nasi Boka
 
Nah yang satu ini ibu saya memang tidak pernah main-main dan kompromi, beliau 
selalu mengutamakan nasi dari beras ranah minang kelas wahid kami punya 
langganan beras solok talang atau solok cupak yang nasinya begitu nikmat, tahan 
lama istilah ibu saya ‘anak gadih sayang, kambangnyo katiko di tanak kambang 
bungo limau bana” Nasi dari beras solok ini  saking enaknya dan selalu “mecing” 
 dengan menu apapun di boka yang saya bawa rasanya rimah-rimah nasipun 
kalausangat sayang dibuang atau disingkir dan ibu saya selalu mewanti-wanti 
(dipasakan ka talingo) jika sudah menyangkut nasi ini agar jangan sekali-kali 
di 
buang sia-sia, maksudnya nasi boka yang saya bawa diambil dulu secukupnya tanpa 
diaduk semuanya dengan menu yang di bawa, jika ada nasi dalam keadaan bersih 
tersisa (tidak habis) agar di bawa pulang lagi sorenya dari kantor< tapi 
rata-rata saya selalu menghabiskan nasi dari beras Solok yang enak ini.
 

Buah Boka
 
Ibu saya juga menyelipkan dalam boka saya buah sebagai pencuci mulut, bagi ibu 
saya buah yang paling favorit itu adalah pepaya, boleh dikatakan hampir tiap 
hari kami anak-anaknya di cekoki buah pepaya alasannya sederhana saja disamping 
bervitamin, pencernaan jadi bagus dan BAB nya lancar dan tuntas, Jadi beberapa 
potong pepaya selalu mendampingi menu boka saya. Buah lainya yaitu pisang ambon 
Bukit Tinggi atau Batu Sangkar dan Jeruk (limau) ketiga buah itu secara 
bergilir 
dalam boka saya atau bisa dua macam Pepaya-Pisang, Pisang-Jeruk satu lagi 
tentunya Jeruk-Pepaya.
 
Itulah menu boka dari ibu saya saat  itu yang saya bawa kekantor buat makan 
siang (kalau di judul tulisan ini  di gayakan dikit For Lunch gitu). Ketika 
saya 
membuat tulisan ini saya sedikit merebakan air mata ingat ibu saya seorang guru 
yang sederhana begitu peduli pada anak-anaknya terutama menghadirkan menu yang 
sehat, bersih tanpa bumbu mengandung zat kimia. Saya memang sedikit rada-rada 
“nyeleneh” kelakuan saya di keluarga yang terkadang suka asal dan usil tapi ibu 
saya tak pernah berhenti selalu menasehati saya jika sekira ada perilaku saya 
yang kurang berkenan di hatinya seperti dia akan selalu marah, benci, menangis 
dan sedih saya melihat merokok yang sudah tahunan, kata-katanya yang paling 
membuat menusuk hati dan jiwa saya adalah “dari ketek mama merawat nanda, 
bapaliharo kesehatan tu jo makanan nan sehat-sehat kini lah gadang baracuni 
badan tu yo ndak rela mama do (termasuk menyediakan boka)” dan saya memang 
tidak 
berani merokok di depannya sampai saya berhenti total merokok walau ibu saya 
tahu pasti di belakangnya saya merokok.
 

Terima kasih mama, cinta, kasih, sayangmu memang tidak pernah putus sepanjang 
hayat dikandung badanmu, perjayalah ma, ananda akan selalu berdoa buatmu 
disetiap habis shalat dan disetiap kesempatan yang tersisa disela kesibukan 
anakmu. Boka darimu Ma akan selalu terkenang dan abadi terpatri dalam hatiku 
sebagai bentuk cinta seorang ibunda kepada anaknya yang tidak pernah padam, 
luntur dan cinta sej
ati di dunia ini memang dari seorang Ibunda.
 

Sendawar, 7 Juni 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke