Bravo Rina, berdiri bulu kuduk saya membaca baris-baris berikut ini. Ketika lapar dan dahaga menusuk hati
Ketika daunan hutanpun menjadi santapan Diselimuti dinginnya pelukan Rimba Sumatera Menjaga teguh jiwa-jiwa yang bersih 1961 akhir pergolakan DR Mohammad Natsir Sang Guru Si penebar benih-benih kehidupan penuh wibawa Peristiwa PRRI memang banyak menyimpan kebajikan dan kisah-kisah heroik--termasuk kisah Papa Rina itu--yang belum sepenuhnya terangkat ke permukaan. Saya jadi teringat cerita ayah saya yang juga murid Sang Guru dan mengikuti Sang Guru 'masuk hutan' selama tiga tahun lebih, bahwa beliau selalu selamat, antara lain karena sering diberitahu orang-orang yang tidak beliau kenal bahwa patroli APRI akan lewat. "Babeloklah Angku dulu", ujar orang-orang itu kepada beliau. Kembali kepada Sang Guru, menarik untuk menyimak telaah indonesianis George Mcturnan Kahin, jasa terbesar M Natsir, Syafrudin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap adalah justru keterlibatannya dalan PRRI dan RPI. Keterlibatan mereka telah berhasil mencegah pergolakan daerah itu dari kemungkinan menjadi gerakan separatis (Kompas, Senin, 30 Mei 2011) Wassalam, HDB-SBK [R@ntau-Net] Puisi berjudul "PAPA" Posted by: "rinapermadi" [email protected] Sun Jun 12, 2011 10:13 pm (PDT) PAPA By : Ritrina Tangan kokoh yang telah dibaluti jengat tua itu Selalu bergetar kini ..... Penyakit yang mengkhianati tubuhmu Namun kau tetap terus berlari Pikulan berat tanggung jawab kehidupanmu Tangan kokoh yang bergetar itu Pernah membidikkan 12,7 Membumihanguskan ketakutan Menolak intimidasi tirani Menampar kelaliman Menghantam kelicikan Melibas kesewenang-wenangan Berlari dan menyalib diantara peluru berdesingan Berkejaran memintas keserakahan Bertabur daun-daun rimba yang berguguran Ranting-ranting patah terkoyak mortar kecongkakan Dia.... Empunya tangan kokoh itu Gigilan yang sama Ketika lapar dan dahaga menusuk hati Ketika daunan hutanpun menjadi santapan Diselimuti dinginnya pelukan Rimba Sumatera Menjaga teguh jiwa-jiwa yang bersih 1961 akhir pergolakan DR Mohammad Natsir Sang Guru Si penebar benih-benih kehidupan penuh wibawa Wibawa nan penuh santun Walau waktu bergerak menutup Lembar demi lembar kehidupan ini Menelan segala peristiwa demi peristiwa Nafas ketegaran itu tak pernah redup darimu Menghembuskan semangat bagi penerusmu Ikut berlari, menerjang dan memelintir kehidupan kejam ini Tanpa sebijipun medali bagimu Tapi , "Ku bangga padamu.. PAPA..." Batam, June 13, 2011 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
