Assalamualaikum w.w. Khusus untuk para sanak penggemar sastra, saya teruskan posting dari rekan saya, mbak Drg Dina Napitulu, yang mengirim puisi ini kepada kita yang merayakan Isra' dan Mi'raj hari ini.
Secara pribadi saya sangat tersentuh oleh kandungan pesan karya ini. Wassalam, Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo (Laki-laki, Tanjung, masuk 75 th, Jakarta) Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita. --- On Wed, 6/29/11, Dina Napitupulu <[email protected]> wrote: > From: Dina Napitupulu <[email protected]>> Didalam memperingati Isra Miraj yang jatuh pada hari ini, tanggal 29 juni 2011, saya posting sebuah cerita tentang Pencari "Kebenaran"...... > > Berhala Kekhusyu’an > > Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, > penat, pegal, dan pening. > > Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, > dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan > ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. > > Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat > noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir > hanyut bersama air. > > Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan > Sang Pencipta. > > Tiap bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar > keagungan. > > Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam > sujudnya. > Hatinya di selimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh > makna. > Dia merasakan sebuah ekstase. > > Saat lain ia lewat di masjid itu. > Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu > kekhusyu’annya. > > Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak > kokoh, > Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang > berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi > aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar itu. > Ia kehilangan kekhusyu’annya. > Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. > Tak ada ekstase. > Tak ada kelezatan rohani. > Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia > menguluk salam. > Ke kanan, lalu ke kiri. > Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding > selatan. Terbaca olehnya; > ”Barang siapa mencari Allah, ia mendapatkan > kekhusyu’an. > Barangsiapa mengejar kekhusyu’an, ia kehilangan > Allah.” > > Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. > Khusyu’ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah > > Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada > bagaimana caranya agar khusyu’, atau setidaknya terlihat > khusyu’. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang > Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan > kekhusyu’an > bukan karena mencarinya. > Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar perhentian dari > aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para > pejuang. > Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang > membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati. > > Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa ’Ali ibn Abi > Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar > sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. > > Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’? > > Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’. > Dan alangkah indah kekhusyu’annya. Kekhusyu’an > yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya > tangis seorang bayi. > Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa > jompo dalam jama’ahnya. > Kekhusyu’an yang membuat sujudnya begitu panjang karena > Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan di punggungnya. > > Sahabat, > inilah jalan cinta para pejuang. > Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan > rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas > penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. > > Ini bukan jalan para penikmat kelaparan > yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja > menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah > yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk > pintu rumahnya yang selalu terkunci. > > Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang > menghimpit. Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa > melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya. > > Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam > kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluq yang paling > dicintai Allah. > Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah > dilecehkan. > Tak pernah ia merasa terluka melihat kezhaliman. > > Ekstase. > Kenikmatan ruhani. > Kekhusyu’an. > Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. > Bukan itu. > Bukan itu yang kita cari. > Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam > kerja-kerja besar > Menebar kebajikan, > menghentikan kebiadaban, > menyeru pada iman. > > Larilah hanya menujuNya. > Meloncatlah hanya ke haribaanNya. Walau duri merantaskan > kaki. Walau kerikil mencacah telapak. > Sampai engkau lelah. > Sampai engkau payah. > Sampai keringat dan darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan > datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam > shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan > Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah.. > Saat itulah, engkau akan meyakini dengan melihatNya, dan > Dia > pasti melihatmu.. > > Selamat hari Isra Miraj > 29 Juni 2011 > > > Sent from my BlackBerry® > powered by dina jabez > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
