Waalaikum Salam Wr Wb Bapak Saaf Hanifah teruskan pula tulisan seorang sahabat di FB ya. Biar seimbang
Wass Hanifah Himah Isra' mi'raj oleh Aifi Ar Rahman <http://www.facebook.com/profile.php?id=100002148657082>pada 29 Juni 2011 jam 9:09 Hikmah Isra' Mi'raj Ditulis oleh Dewan Asatidz Sekarang kita telah memasuki separo lebih bulan rojab dimana pada akhir bulan ini kita sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam. Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi'raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut: *Pertama: Konteks situasi terjadinya* Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas. Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi'at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan. Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan. Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah). *Kedua: Pensucian Hati* Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma'shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya? Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah". Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup. Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati. *ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله.* Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu 'alaa quluubihim". Di Al Qur'an sendiri, Allah berfirman" *قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا* Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut. *Ketiga: Memilih Susu - Menolak Khamar* Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci". Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya. Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan. *Keempat: Imam Shalat Berjama'ah* Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya. Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama'ah, dan tidak tanggung-tanggung ma'mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma'mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam. Kempimpinan dalam shalat berjama'ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya. Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur'an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami". Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama'ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif. *Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat* Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni'matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni'mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni'matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya. Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj). http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1170&Itemid=1 Pada 29 Juni 2011 10:18, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis: > Assalamualaikum w.w. > > Khusus untuk para sanak penggemar sastra, saya teruskan posting dari rekan > saya, mbak Drg Dina Napitulu, yang mengirim puisi ini kepada kita yang > merayakan Isra' dan Mi'raj hari ini. > > Secara pribadi saya sangat tersentuh oleh kandungan pesan karya ini. > > Wassalam, > Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo > (Laki-laki, Tanjung, masuk 75 th, Jakarta) > Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita. > > --- On Wed, 6/29/11, Dina Napitupulu <[email protected]> wrote: > > > From: Dina Napitupulu <[email protected]>> > > Didalam memperingati Isra Miraj yang jatuh pada hari ini, tanggal 29 juni > 2011, saya posting sebuah cerita tentang Pencari "Kebenaran"...... > > > > Berhala Kekhusyu’an > > > > Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, > > penat, pegal, dan pening. > > > > Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, > > dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan > > ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. > > > > Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat > > noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir > > hanyut bersama air. > > > > Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan > > Sang Pencipta. > > > > Tiap bacaannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar > > keagungan. > > > > Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam > > sujudnya. > > Hatinya di selimuti perasaan tenteram, sejuk, penuh > > makna. > > Dia merasakan sebuah ekstase. > > > > Saat lain ia lewat di masjid itu. > > Ia memang sengaja ingin shalat di sana. Ia rindu > > kekhusyu’annya. > > > > Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak > > kokoh, > > Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang > > berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi > > aneh. Kali ini, ia tak menemukan getar itu. > > Ia kehilangan kekhusyu’annya. > > Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. > > Tak ada ekstase. > > Tak ada kelezatan rohani. > > Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia > > menguluk salam. > > Ke kanan, lalu ke kiri. > > Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding > > selatan. Terbaca olehnya; > > ”Barang siapa mencari Allah, ia mendapatkan > > kekhusyu’an. > > Barangsiapa mengejar kekhusyu’an, ia kehilangan > > Allah.” > > > > Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. > > Khusyu’ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah > > > > Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada > > bagaimana caranya agar khusyu’, atau setidaknya terlihat > > khusyu’. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang > > Nabi dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan > > kekhusyu’an > > bukan karena mencarinya. > > Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar perhentian dari > > aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para > > pejuang. > > Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang > > membelit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati. > > > > Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa ’Ali ibn Abi > > Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat. Agar > > sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. > > > > Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’? > > > > Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’. > > Dan alangkah indah kekhusyu’annya. Kekhusyu’an > > yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya > > tangis seorang bayi. > > Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa > > jompo dalam jama’ahnya. > > Kekhusyu’an yang membuat sujudnya begitu panjang karena > > Al Husain ibn ’Ali main kuda-kudaan di punggungnya. > > > > Sahabat, > > inilah jalan cinta para pejuang. > > Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan > > rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas > > penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. > > > > Ini bukan jalan para penikmat kelaparan > > yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja > > menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah > > yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk > > pintu rumahnya yang selalu terkunci. > > > > Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang > > menghimpit. Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa > > melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya. > > > > Ia bertapa dalam pakaian campingnya, hidup dalam > > kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluq yang paling > > dicintai Allah. > > Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah > > dilecehkan. > > Tak pernah ia merasa terluka melihat kezhaliman. > > > > Ekstase. > > Kenikmatan ruhani. > > Kekhusyu’an. > > Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. > > Bukan itu. > > Bukan itu yang kita cari. > > Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam > > kerja-kerja besar > > Menebar kebajikan, > > menghentikan kebiadaban, > > menyeru pada iman. > > > > Larilah hanya menujuNya. > > Meloncatlah hanya ke haribaanNya. Walau duri merantaskan > > kaki. Walau kerikil mencacah telapak. > > Sampai engkau lelah. > > Sampai engkau payah. > > Sampai keringat dan darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan > > datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam > > shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan > > Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah.. > > Saat itulah, engkau akan meyakini dengan melihatNya, dan > > Dia > > pasti melihatmu.. > > > > Selamat hari Isra Miraj > > 29 Juni 2011 > > > > > Sent from my BlackBerry® > > powered by dina jabez > > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
