Angku Dt Bagindo, Iko namonyo latah.. namuah manjua gala ka rang Cino... bapantang dek rang tuo-tuo saisuak.... Tolong kumpakan datua-datuak se Minangkabau... adokan seminar mampajaleh apo bana nan gala adat tu.. wassalam Nan indak bagala Datuak...
2011/6/30 azmi abu kasim azmi abu kasim <[email protected]> > > > Assalamalikum W.W.* > * > > Angku2/Bapak2/Ibu2 /Dunanak dipalanta nan ambo hormati > > > Dibawah ko ambo kirimkan tulisan ambo yang berkaitan dengan pemberian gelar > adat yang diberikan tidak pada tempatnya, semoga ada manfatnya, dan mohon > maaf jika ada yang kurang pada tempatnya, dan terima kasih ateh sagalo > pehtian. > > > Wassalam, > ** > > > ** > > * > * > > *GELAR ADAT* > > *DIBERIKAN TIDAK PADA TEMPATNYA* > > * * > > Pada hari Rabu tanggal 28 Juni pukul 09,03 pagi ambo > mendapat SMS dari Bapak Wali Nagari Pasia Bukittinggi Bapak Asrafery, yang > isinya adalah menyampaikan berita duka cita, bahwa telah berpulang ke > alam akhir Bapak Wisran Hadi (66 tahun) di Lapai Padang, pada jam 07,30 pagi > tgl 28 /6/11 beliau terima dari bapak Darman Moenir dan beliau meneruskan > kepada ambo. Lansung ambo baleh SMSnya, dengan menyatakan atas nama *Lembaga > Adat Kebudayaan Minangkabau (LAKM) Jakarta*, turut berduka cita yang > sedalam-dalamnya dan kita mendoakan semoga arwah beliau di terima di sisi > Allah, di terima segala amal kebaikan dan di maafkan segala kekilapannya. > Kemudian ambo susul dengan telepon kepada Bapak Asrafery dengan menyatakan > bahwa kita sangat kehilangan atas kepergian beliau. > > * * > > *Penghulu Padang Manjagoan Ula Lalok.* > > > > Bebarapa hari sebelumnya, sebenarnya kita telah di kejutkan oleh tulisan > beliau Bapak Wisran Hadi, yang di muat di harian Singalang dan di tulis di > milis nangko. Tulisan diberi judul *“Penghulu Padang Manjagoan Ula Lalok” > * hal tersebut berkaitan dengan adanya pemberian gelar Datuak olek KAN > niniak mamak nan salapan suku di Padang, beserta Bundo Kandung, yang > diberikan kepada orang non Islam. > > Kami atas nama pribadi, sangat sepandapek dengan beliau Alm Bapak Wisran > Hadi, bahwa hal ini merupakan kesalahan besar yang dapat mengkaburkan > nilai-nilai *Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kibullah,* (ABS-SBK), > yang merupakan jati diri masyarakat Minangkau. Yang mana bahwa masyarakat > Minangkabau telah sepakat, menganut Agama hanya satu-satunya adalah Agam > Islam, setiap orang Minang itu pasti Islam apalagi nan bagala Datuak atau > Penghulu. Jika ada orang Minang yang berpindah Agama, baik bagala Datuak > atau Sutan, maka dia secara otomatis keluar dari orang Minang, atau dia > bukanlah orang Minang lagi, tetapi hanyalah orang Sumatera Barat. > > Menerut pendapat kami pemberian gelar tersebut adalah pelecehan : *Yang > pertama,* pelecehan terhadap yang menerima, karena dia menerima sesuatu > yang tidak dapat di manfaatkan. Hal ini sama dengan menerima cek kosong > tidak dapat di uangkan, dalam pepatah adat disebutkan “*berdiri penghulu > sepakat kaum*” sedang dia sendiri tidak punya kaum, lalu siapa yang > mengangkatnya? > > *Yang kedua,* pelecehan terhadap nilai-nilai adat itu sendiri, jangankan > gelar yang diberikan kepada orang non Islam. Sedangkan orang Minangkabau > sendiri yang telah di beri gelar, apakah itu gelar datuak, atau gelar yang > lain, apabila dia berpindah agama dari agam Islam, maka gelar yang di telah > di berikan kepadanya di cabut kembali, begitu juga seluruh hak-hak adat atau > yang disebut sako jo pusako, dan kepadanya diberikan sanksi adat dengan > dibuang sepanjang adat. > > *Yang ketiga*, pelecehan terhadap yang memberi, karena mereka telah > melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan adat nan sabatang > panjang, yaitu “*Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) > * yang berlaku di seluruh Minangkabau. Masyarakat Minangkabau menjunjung > tinggi nilai yang terkandung di dalamnya. Ini sangat berbahaya karena > pemberian > ini berarti telah memberikan peluang kepada pihak Agama lain untuk masuk > kedalam tatanan Adat Minangkabau, hal ini tentu tidak dapat di biarkan. Kita > belum tahu apa alasan pemberian tersebut, apa ada unsur kesengajaan atau > mungkin beliau-beliau itu lupa, dalam hal ini perlu ada kejelasan. Kalau > Bulando bapaga basi, Minangkabau bapaga Adat, maka sekarang paga itu yang > telah dibuka oleh orang dalam sendiri, jadi jalan tidak dianjak urang lalu, > cupak indak dirubah urang manggalek, tetapi urang dalam sendiri nan maasak > jalan dan nan marubah cupak, mako sehubungan dengan hal tersebut diatas, > bersama ini ambo manyarankan sebagai berikut : > > > > (1) Kiranya KAN niniak mamak nan salapan suku nagri Padang berserta > Bundo Kandung, dapat mengadakan koreksi kembali dengan pertimbangan dan > mengkaji melarat dan manfaatnya, tentu lebih banyak melarat dari manfaatnya > dan kemudian mencabut kembali pemberian gelar tersebut, dan selanjut membuat > pernyataan maaf melalui media cetak kepada seluruh masyarakat Minangkabau > > (2) Kepada yang menerima gelar tersebut, kiranya dengan jiwa besar, > dapat membuat pernyataan, mengembalikan gelar tersebut kepada KAN salapan > suku di Padang. Dengan alasan, lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya, > dan kemudian membuat pernyataan maaf melalui media cetak kepada seluruh > masyarakat Minangkabau > > (3) Kepada seluruh masyarakat Minang yang terkait, terutama para pemuka > dan pemangku Adat, kiranya dapat lebih berhati-hati untuk dimasa datang, > sehingga hal seperti ini tidak terulang kembali > > (4) Kepada pihak luar yang tidak terkait dan tidak berhak dan tidak ada > hubungan dengan garis keturunan system matrilineal Minagkabau, kiranya dapat > lebih berhati-hati, terhadap iming-iming pemeberian gelar tersebut, karena > hal terbut jelas-jelas tidak ada manfaatnya bagi pihak luar. > > Demikianlah semetara yang dapek ambo sampaikan, dan tentu kito berharap ado > ketegasan dari LKAAM Sumbar, dan pendapek dari Gebu Minang, karena ini juga > menyangkut soal Budaya, dan selanjutnyo jika ada yang kurang pada tempatnya > ambo mohon maaf, dan terima kasih ateh sagalo perhatin > > > > Wasslam, > > > > Azmi Dt,Bagindo (59 th) > > Sekum LAKM Jkt. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- Zulharbi Salim -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
