Jawaban dari GA sudah benar-2 manusiawi, dan rahmat lil alamin.
Usulan yang sejenis sudah pernah pula saya usulkan kepada Garuda Airways 
(2003), 
dan jawaban GA ---waktu itu--- ya, senada dengan yang diterima Angku Reflus 
Ramli.

Kalau kembali kepada makna "Islam itu Rakhmat Lil Alamin", akan sadarlah kita 
betapa besar dan maha agungnya ajaran Islam itu ketika ajaran demi ajaran-NYA 
kita implementasikan dalam hidup dan kehidupan dengan kaafah (konsisiten dan 
konsekuen).

Saum selama Ramadahan disiratkan para Ulama dengan istilah bulan berkah, sejuta 
rahmah, segudang makfirah..... Kalau Manajemen GA mengikuti usulan Pak Reflus 
---mungkin dengan alasan permintaan kaum mayoritas dari passenger-nya--- 
bayangkan, berapa banyak pula tatanan yang selama ini sudah terjalin baik di 
lingkungan manajemen GA, menjadi terganggu karena "menghormati' bulan puasa 
yang 
cuma 29 atau 30 hari saja?

Jatah makan siang (sebut sajalah begitu, istilahnya...===>m.m) yang semestinya 
wajib diberikan oleh Manajamaen GA buat seluruh penumpangnya yang terbang di 
siang hari Ramadhan, mesti dihentikan. Dampak dominonya sudah tentu akan 
terjadi, seperti ini, :

1).Harga tiket GA harus didiskon seharga nilai makanan yang telah dianggarkan 
oleh GA untuk seluruh penumpangnya.
2).Hubungan bisnis GA dengan seluruh mitra yang menyediakan makanan untuk 
penumpang, selama bulan Ramadhan harus ditinjau ulang besaran cash flow-nya.
3).Katering yang menjadi mitra kerja GA, akan menghentikan sekian puluh ribu 
box 
Jatah makan siang penumpang GA di seluruh route penerbangannya DN, demi 
"meghormati" bulan puasa yang (konon kabarnya akan dilaksanakan oleh umat Islam 
yang bertaqwa). Berapa banyak pula cost atau perputaran ekonomi (yang 
menyangkut 
hayat hidup anak manusia di sekitarnya : koki, tukang sayur, tukang daging, 
juru 
antar, supir mobil box ke bandara, out sourcing di sekitar bandara yang 
membongkar muat katering GA, dll, dst yang tidak sempat saya sebutkan rangkaian 
teori dominonya) yang terganggu akibat GA menerima usulan agar umat Islam yang 
terbang dengan GA jangan "diusik" oleh aroma menu makan siang penumpang yang 
tidak puasa di siang Ramadhan.

Ujung-ujung dari tiga paragrap yang saya uraikan di atas, akan paradoks jadinya 
dengan kebanggaan kita umat Islam yang menyatakan bahwa "Islam itu Rakhmat Lil 
Alamin".

Akan timbul imej bagi orang kafir (ingat : dalam Al Qur'an, selain pemeluk 
Islam 
sebutannya adalah kafir, tapi di negara Pancasila yang selalu memfotokopi 
istilah kaum Sepilis (JIL), maka istilah kafir diperhalus dengan istilah non 
muslim).., bahwa orang islam itu di bulan Ramadhan nyusahin gue aja...!!! "Ente 
yang puasa di dalam pesawat, koq gue yang menanggung derita kelaparannya?".

Nah, oleh karena itu, saya sampaikan kepada Sanakmbo Reflus Ramli, untuk lebih 
bijaksana, dan selalu empati dalam mengerjakan ibadah wajib di bulan Ramadhan. 
"Jangan pernah ada taniaik di hati untuk minta keistimewaaan kepada lingkungan 
kita karena awak sedang menahan, rasa haus dan lapar, serta menahan hawa nafsu 
yang maha dahsyat".

Sekedar berbagi cerita dan pengalaman, menyangkut puasa Ramadhan ini, masih 
belum sirna dari ingatan saya --karena saya catat dalam "buku agenda" He 
heee.., 
bahwa di empat tahun terakhir yang lewat selalu saja di bulan Ramadhan tersebut 
saya ditakdirkanNYA untuk tidak pernah full mengerjakan saur, saum, shalat 
tarwih & witir di tengah keluarga di rumah, dan masjid di dekat rumah kami di 
Bekasi.

Ramadhan 2006 (1327 H saya lima hari mengerjakannya di (perantauan Batam), dan 
tarwih di masjid raya di depan Hotel Panorama tempat saya menginap. 

Ramadhan 2007 (1328 h) satu pekan saya mengerjakannya di (perantauan Ambon), 
dan 
tarwih di masjid raya Al Fattah sekitar 1200 mtr dari  Hotel Manise tempat saya 
menginap selama tugas di Ambon.
Ramadhan 2008 (1329 H) saya tiga hari mengerjakannya di (perantauan 
Banjarmasin), dan tarwih di masjid raya At Taqwaa sekitar 400 m dari  hotel 
tempat saya menginap. 

Ramadhan 2009 (1430 H) saya lima hari mengerjakannya di (perantauan Medan), dan 
tarwih di masjid raya "Raja Deli" yang lumayan jauhnya dari  Hotel JW Mariot 
tempat saya menginap. 

Ramadhan 2010 (1431 H) yang lalu, saya tiga hari mengerjakannya di (perantauan 
Cilacap), dan tarwih di masjid raya Al Iman sekitar 1200 m dari  Hotel Wijaya 
Kusuma tempat saya menginap.

Lho, apa gunanya saya menceritakan soal nginap dari Ramadhan ke Ramadhan ini?. 
Sudah tentu dimaksudkan, bahwa makin banyak kita mendapat ujian (berpisah 
dengan 
keluarga di bulan seribu rahmat, otomatis mendapat ujian & godaan ketika ada 
"jam makan siang" di pesawat GA) semakin banyak dan besar pula nilai pahala 
yang 
akan dibukukan malaikat Rakid dan Atid selama bulan sejuta nikmat kita 
laksanakan dengan ikhlas, tanpa minta dispensasi atau usulan yang neko-neko 
kepada Manajemen GA.
Jadi, sarancaknyo seka sajolah niaik Sanakmbo Reflus Ramliuntuak mamintak "a 
nan 
kalamak dek awak" ka Manajemen GA, nantun. 


Nah, labiah kurang, diangkek jari.... sabaleh jo kapalo..., mohon maaf kalau 
nan 
ditulih si m.m di ateh ado pulo galeh garobak urang nan talando atau tacido 
tanpo ambo sangajo.
"Marhabban Ya Ramadhan" untuak saluruah komunitas r@ntau-net di ateh dunie nan 
fana.....

Salam......................,
mm***
Lk-2; >50th; Bks

NB : Buek Sanakmbo Ridha, tantu sangaik rancak pulo manambah & malangkok-i ruok 
ambo di ateh jo isi Kitab-kitab nan panah baliau baco saputa godaan dan 
'gangguan' di bulan puaso basarato kiek nabi awak untuak maatehinyo. Mokasi.





________________________________
From:Reflus <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, July 25, 2011 9:45:32 AM
Subject: [R@ntau-Net] Sajian Makanan Di Pesawat Pada Bulan Puasa.

 
Assalamualaikum ww.
Sanak Palanta nan Ambo hormati.
Setelah mendapat dukungan dari Ajo Duta Dan Bapak Abraham Ilyas, Ambo posting 
topic di atas sebagai berikut.

Begini ceritanya.
Bulan Puasa tahun lalu, kami naik Pesawat Garuda dari Pekanbaru ke Jakata, take 
off jam 8 pagi.
Sebagaimana biasanya, setelah Pesawat terbang beberapa menit, pramugari 
membagikan makanan. Saya menolak makanan yang diberikan  dengan alas an saya 
sedang berpuasa.

Penumpang yang tidak berpuasa, menyantap makanan yang diberikan, bisa jadi Ada 
orang yang sedang berpuasa duduk disampingnya.

Karen a sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, kami berpendapat 
bahwa 
 sewajarnya orang berpuasa dihormati. Kepada Pramugari, kami Sampaikan pendapat 
Dan usulan. Selama bulan puasa, khususnya penerbangan dal am Negeri agar tidak 
membagikan makanan . " Hormatilah   orang yang sedang berpuasa", bukan 
sebaliknya, 
"Hormati orang yang tidak berpuasa"
Pramugari meminta kami memberikan usulan Dan pendapat di atas secara tertulis. 
Di bawah ini jawaban dari GARUDA.



Kepada Yth.
Bapak Reflus
Komp. Pertamina
Jatiwaringin Asri
Pulogadung
[email protected]
 
 
 
  
31 Agustus 2010
GARUDA/JKTCSL-28708/10
Tanggapan Saran
 
Dengan hormat,
 
Mewakili Manajemen PT. Garuda Indonesia (Persero) perkenankan kami menyampaikan 
ucapan terima kasih dan penghargaan atas kepercayaan serta 
kesetiaan Bapak selama ini, terbang bersama Garuda Indonesia. Kami sangat 
menghargai masukan yang telah Bapak tuliskan melalui Suggestion Form pada saat 
melakukan penerbangan dengan GA-173 dari Pekanbarumenuju Jakarta.
 
 
Kami menyadari sadar bahwa Suara Pelanggan berupa saran dan harapan yang 
diberikan merupakan acuan untuk melakukan berbagai upaya perbaikan. Pelayanan 
kami yang semakin membaik saat ini tidak terlepas dari peran sebagai salah 
satu Attentive Customer kami yang dengan aktif memberikan masukan positif 
terhadap kemajuan Garuda Indonesia.
 
Perkenankan kami menyampaikan permohonan maaf atas berbagai ketidaknyamanan 
yang 
alami terkait dengan sajian makanan di pesawat. Kami sangat menghargai masukan 
yang perihal penyajian makanan bagi penumpang berpuasa. Terkait dengan 
penyajian 
makanan selama bulan Ramadhan, dapat kami sampaikan bahwa kami tetap menyajikan 
makanan bagi setiap penumpang dengan menu dan kemasan yang disesuaikan. Sajian 
makanan kami kemas untuk dapat dibawa pulang dan dapat dinikmati saat berbuka 
puasa.
 
 
Demikian disampaikan, terima kasih atas waktu yang telah disediakan. Kiranya 
pelayanan Garuda Indonesia menjadi lebih baik sehingga perjalanan 
udara  Bapak menjadi semakin nyaman.
 
 
 
Hormat kami,
PT GARUDA INDONESIA (PERSERO)
MANAGER CUSTOMER AFFAIRS
 
Agatha T. Simatupang

Mohon pendapat dari Dunsanak. Apokah protest atau usul Ambo pad a tempatnya ?.
Sebelumnya Ambo sampaikan tarimo kasih.

Salam
Reflus/L 53 th.
Sedang di Martapura, Banjarmasin.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke