Refleksi kenangan yang mengerikan! Salah satu peristiwa genocide yang tidak 
boleh terjadi lagi di muka bumi ini.
 
Cari srebrenica di Google, banyak terlihat. Salah satu lihat:
http://srebrenica-genocide.blogspot.com/2011/03/bosnian-genocide-pictures-are-worth.html

Jangan lupa, di Kampung kita sendiri pernah terjadi peristiwa dahsyat 
mengerikan, banyak orang  yang "hilang" tidak terfoto, tidak banyak terberita 
...
-- MakNgah
--- In [email protected], andi ko <andi.ko.ko@...> wrote:
>
>  Tulisan reflektif yang menarik.
> Salam
> 
> andiko
> 
> Srebrenica <http://caping.wordpress.com/2011/07/25/srebrenica/> *Juli 25,
> 2011* *Posted by anick in All Posts <http://id.wordpress.com/tag/all-posts/>,
> Islam <http://id.wordpress.com/tag/islam/>,
> Perang<http://id.wordpress.com/tag/perang/>.
> 
> 3 comments <http://caping.wordpress.com/2011/07/25/srebrenica/#comments> * Di
> sebuah tempat yang dulu tak dikenal dunia, sekitar 8.000 muslim dibunuh.
> Sejak itu Srebrenica, sebuah kota kecil pegunungan di sebelah timur Bosnia
> dan Herzegovina, jadi sebuah nama yang menakutkan. Atau menjijikkan. Atau
> memalukan.
> 
> Di situlah selama tujuh hari di pertengahan kedua Juli 1995, Jenderal Ratko
> Mladic, panglima tentara yang berdarah Serbia, menjalankan apa yang jadi
> kehendak dan rencananya. Mungkin baginya inilah penyelesaian final untuk
> persoalan masa depan Bosnia, seperti endgültige Lösung Hitler untuk masalah
> Yahudi: orang-orang Bos­nia yang bukan Serbia, terutama yang muslim, harus
> dihabisi.
> 
> Mladic memang perwujudan klise tokoh algojo dalam cerita picisan: tambun dan
> kasar, ia pernah diceritakan membunuh seseorang dengan tangan
> telanjang—setelah ia meyakinkan si korban bahwa tak akan terjadi apa-apa,
> sambil ia melatih otot-otot tangannya untuk membinasakan si tahanan. Ketika
> pasukannya mengepung Kota Sarajevo, ia perintahkan pasukannya untuk
> meningkatkan gempuran artileri secara ber-"irama" sampai pikiran penghuni
> kota itu "terpelintir".
> 
> Dalam salah satu sajaknya, penyair Bos­nia Abdullah Sidran menyebut Mladic
> sebagai "monster dengan epaulet". Orang lain menamainya "jagal dari
> Srebrenica".
> 
> Semula Srebrenica adalah wilayah yang terlindung: orang-orang muslim
> menemukan tempat yang aman di sana. Ada pasukan PBB yang menjaga orang-orang
> yang melarikan diri dari perang etnis di Yugoslavia yang pecah itu. Terutama
> mereka yang melarikan diri dari pembantaian, yang tahu bahwa kaum
> "nasionalis" Serbia akan menghabisi mereka.
> 
> Tapi Juli itu keadaan berubah. Sejak pekan pertama bulan itu, pasukan Serbia
> mengepung. Berangsur-angsur Srebrenica kehabisan bahan bakar. Persediaan
> makanan menipis. Dalam Postcards from the Grave Emir Suljagic mengisahkan
> bagaimana ratusan orang dengan tali dan kapak mendaki tebing yang terjal di
> atas kota, menuju hutan untuk mencari kayu buat menyalakan api, jauh sebelum
> kabut hilang….
> 
> Di tengah pengepungan itu, pasukan PBB yang bertugas di sana, satu kontingen
> tentara Belanda yang terdiri atas 600 personel dan tak bersenjata berat,
> mencoba bertahan. Komandan mereka, Letkol Karremans, meminta ke Panglima
> Pasukan PBB, Jenderal Bernard Janvier dari Prancis, agar mendapat dukungan
> dari udara. Tapi yang terjadi adalah kecelakaan prosedur: permintaan
> Karremans untuk mendapat bantuan udara ternyata ditulis di formulir yang
> salah. Akhirnya memang dipenuhi, tapi terlambat.
> 
> Karremans memang mendapatkan bantuan lain. Dua pesawat tempur F-16 Belanda
> menjatuhkan dua bom di atas posisi pasukan Serbia yang mengepung. Tapi
> tentara di bawah Mladic telah berhasil memiliki kartu kuat tersendiri:
> sebelumnya mereka telah menyerang satu pos pasukan PBB dan menahan 30
> prajurit Belanda. Jenderal Serbia itu mengultimatum: jika pengeboman
> diteruskan, tahanan itu akan mereka bunuh.
> 
> Sekitar dua jam setelah itu, menjelang sore hari 11 Juli, Mladic dan
> tentaranya memasuki Srebrenica. Malamnya ia memanggil Karremans untuk
> menemuinya dan mendengarkan sebuah tuntutan: orang-orang muslim harus
> menyerahkan senjata mereka atau dihabisi. Direkam oleh juru kamera Serbia,
> di malam itu Karremans mengangkat gelas, bersulang dengan Mladic. Terdengar
> suaranya: "Saya seorang pemain piano. Jangan tembak sang pianis." Dan Mladic
> menjawab, entah bergurau entah tidak: "Tuan seorang pianis yang buruk."
> 
> Yang mungkin bisa dikatakan: opsir Belanda itu komandan pasukan yang buruk.
> Pasukannya meninggalkan Srebrenica, membiarkan orang-orang muslim mulai
> ditembaki. Tanggal 13 Juli, pembunuhan mulai dilakukan di sebuah gudang
> dekat Desa Kravica. Di hari yang sama, Karremans menyerahkan 5.000 muslim ke
> tangan Mladic, untuk dipertukarkan dengan 15 prajurit Belanda yang ditahan
> di Nova Kasaba. Tiga hari kemudian, mulai masuk laporan pembantaian….
> 
> Dan Karremans tak melaporkan peristiwa itu ke atasannya. Seorang wartawan
> Belanda, Frank Westerman, pengarang buku Srebrenica: Het zwartste scenario,
> menulis: di saat perpisahan resmi, Karremans bahkan menerima sebuah cendera
> mata dari Mladic: "Yang ini buat istri saya?" tanyanya, tersenyum.
> 
> Tapi mereka yang jadi korban tak diam. Dua muslim Bosnia yang keluarganya
> dibantai Mladic berusaha mengajukan kasus itu ke pengadilan negeri Den Haag.
> Persis 16 tahun setelah kebuasan di Srebrenica itu, para hakim Belanda
> memutuskan: Negara Belanda memang bertanggung jawab atas kesalahan tindakan
> tentaranya yang membiarkan ribuan orang tak bersenjata dibantai.
> 
> Persis 16 tahun juga dunia menyaksikan Mladic bisa dibawa ke Den Haag, untuk
> diadili di Mahkamah Internasional.
> 
> Hari-hari ini, sebuah negeri sedang merasa malu dan menebus kesalahan di
> masa lalu: kesalahan bangsa sendiri terhadap mereka yang datang dari negeri
> jauh, dengan iman dan sejarah yang berjarak. Di saat seperti itu, "liyan"
> tak hanya berarti mereka yang bukan-kami, tapi juga "sesama" yang tak
> berbeda dari kami. Di wajah-wajah yang tak berdaya di depan para algojo, di
> deretan kepala yang berlubang ditembak, di tumpukan jasad yang dibantai
> hanya karena asal-usul yang janggal dan biodata yang beda, seorang muslim di
> Srebrenica menyerupai seorang Yahudi di kamp Auschwitz.
> 
> Srebrenica berlumur darah karena orang macam Mladic tak hendak mengakui
> bahwa mereka yang paling lemah dan paling dianiaya yang justru mengingatkan
> apa yang menakjubkan dalam manusia: sebuah pertalian yang tak tampak.
> 
> *Majalah Tempo Edisi 25 Juli 2011*


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke