Pernah Diancam Cukong Kayu Padang Ekspres • Minggu, 11/09/2011 11:07 WIB
Anak urang Padang Mangateh, Andak lalu ka Payokumbuah, Singgah sabanta di Tanjuang Bonai, Sajak hinggo iko kateh, Bijo barandang nan katumbuah, Jarek bakumpa nan kamanganai. Begitu pesan M Natsir ketika berada di Sumpur Kudus, Sijunjung, kepada Damhoeri Gafoer, 77, sebelum keberangkatannya kembali ke pulau jawa usai perang 1949. Sebagai orang yang terlibat dalam pembentukan Republik Indonesia, Damhoeri Gafoer, patut kecewa dengan kondisi negara hari ini. Berbagai macam moral dan sikap anak bangsa yang melenceng dari pegangan Pancasila silih berganti muncul seperti benalu yang akan membunuh batang yang belum kokoh berdiri. Di usianya yang telah memasuki uzur, kakek yang akrab dipanggil Adam ini merasa terbeban dengan situasi nusantara yang semakin lama semakin memprihatinkan. Berbagai kasus korupsi di berbagai wilayah semakin menjamur bak sedang mengadakan kompetisi dan terus saling berpacu tanpa henti, belum lagi kemelaratan masyarakat miskin yang menjadi-jadi, dan tingkah polah para pejabat, pemimpin yang banyak tingkah dan ulah. Dalam ingatannya masih melekat, begitu sakitnya meraih kebebasan dari jajahan bangsa Belanda di masa dulu. Semasa perang, desanya yang terisolir, Sumpurkudus, Sijunjung, dijadikan basis pemerintahan oleh Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dengan lokasi yang dikelilingi Bukit Barisan, membuat sekutu tidak dapat menembus benteng Sumpurkudus. Wilayah yang memiliki jarak lebih kurang 80 kilometer dari jalan lintas Sumatera Sijunjung ini memang sangat sulit dijangkau. Hingga kini, jalan menuju Sumpurkudus tetap melewati hutan belantara. Orang-orang menyebut nagari ini sebagai kota dalam rimba. Tidak salah Syafruddin Prawiranegara dulu memilih wilayah yang akrab dipanggil orang dengan sebutan nagari Sumpu ini. Sehingga, pejuang yang tak tercatat sebagai pahlawan itu dulunya dapat leluasa menyusun strategi dan mempersiapkan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di sana. Pada zaman perang PDRI itu, yang menjabat sebagai wali perang Sumpur Kudus adalah Harun Malik. Tidak lain dan tidak bukan adalah paman Damhoeri Gafoer. Ketika itu, Damhoeri ditugaskan sebagai pengantar surat-surat penting kepada pejabat PDRI dan komandan tentara di Sumpu. Oleh karena itu, tokoh PDRI seperti Syafruddin Prawiranegara, Tengku Mohammad Hasan, Sutan Mohammad Rasyid, Laksamana Nazir, Suyono, dan Umar Said, kenal dekat dengan Damhoeri yang ketika itu masih muda. Selain mengantar surat dan dokumen-dokumen, Damhoeri juga membantu membagikan nasi bungkus untuk para tentara pengawal pejabat PDRI. Karena begitu dekatnya dengan pimpinan PDRI, Damhoeri sering diajak ngobrol oleh Syafruddin. Dari situ ia tahu, tujuan perjuangan PDRI adalah sebagai penyelamat, dan pemerintahan yang syah. Karena, pada masa itu pemerintah pusat telah vakum, Soekarno, Hatta dan beberapa pejabat lainnya yang sebelumnya menjabat sebagai pimpinan pemerintahan, telah ditawan oleh Belanda di Pulau Bangka. Setelah perang agresi Belanda kedua, Belanda menyerahkan kedaulatan kembali kepada Republik Indonesia. Damhoeri kemudian melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Lintau. Setelah menamatkan sekolah di sana, Damhoeri terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Lantaran ayahnya sudah meninggal, dan ia bersama ibunya hidup dalam kemiskinan. Begitu banyak lika-liku hidup yang ia lalui semasa perjuangan itu. Belum lagi ketika PRRI bergolak menuntut pembangunan dan otonomi, yang ketika itu, tentara PRRI juga menetap di daerah Sumpu. Sehingga, ketika tentara pusat berhasil menduduki wilayah itu, masyarakat Sumpu dibebani dengan berbagai kewajiban, dan segala gerak-gerik masyarakat selalu diawasi. Hingga masyarakat hidup dalam tekanan ketika itu. Walau demikian, Damhoeri terus memperjuangkan hidupnya sampai pada akhirnya ia diterima bekerja sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS) yang berdinas di Kantor Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sawahlunto Sijunjung pada tahun 1964, hingga pada 1 Juli 1990, ia mendapat hak pensiun dari negara sekaligus penghargaan dari Menteri Koperasi, sebagai pegawai yang berprestasi baik. Walau bisa dikatakan Damhoeri hanya lulusan SMP, namun pemikiran, pengetahuan, dan kebijakannya terlihat seperti orang yang berpendidikan tinggi. Ia terkenal sebagai tokoh sejarah yang bijak dan arif. Ia sering diminta sebagai pembicara dalam berbagai acara seminar. Tidak luput di hari bela negara, ia selalu diundang untuk memberikan sambutan. Baik di Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, atau pun di kabupatennya sendiri, Sijunjung. Namanya tidak terlalu termahsyur, tapi, tidak jarang tokoh-tokoh yang dulunya belum cukup besar, seperti, Menteri Dalam Negeri Indonesia, Gamawan Fauzi (sebelum menjadi Gubernur Sumbar), Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar, Bagindho Fachmi (semasa bertugas di Sijunjung), Yuswir Arifin, Bupati Kabupaten Sijunjung, dan sejumlah tokoh besar lainnya, bertandang menemui Damhoeri untuk meminta pendapat dan kearifan, tentang kepemimpinan. ”Tidak ada yang istimewa dari saya sebenarnya. Saya ingat, ketika saya masih bujang tanggung, Bapak Syafruddin dan M Natsir sering mengingatkan saya, kalau negara ini bisa diselamatkan kelak, bimbinglah anak cucumu yang memimpin negeri ini. Jangan sampai melenceng dari tujuan Pancasila. Karena, membentuk sebuah negara tidaklah begitu sulit dari pada mempertahankannya. Begitu inti amanah dari mereka yang saya terima. Tapi, dengan kondisi negara hari ini, saya menjadi prihatin. Bersua juga kiranya pantun sekaligus ramalan dari Bapak M Natsir yang dulu beliau sampaikan kepada saya,” tutur bapak beranak empat ini. Pantun yang dituturkan Adam ternyata bukan hanya ramalan. Berkali-kali ia membuka, memperlihatkan sekaligus mengenang tulisan demi tulisan yang ia catat ketika masih muda dulu. Nasihat orang-orang besar itu masih jelas untuk dibaca. Walau kertasnya sudah lusuh dan berwarna kecokelatan. ”Benar-benar bersua,” begitu ia mengulang-ngulang dengan pilu. Pernah sekali, ketika Priyo Sambodo menjabat sebagai Kejati Sumbar pada tahun 2000, Adam merasa tidak tahan mendengar pengakuan Anrasyid, salah seorang pengusaha kayu dari Gunungmedan. Ketika Anrasyid memalsukan surat kayu dan mengatakan berasal dari Sumpurkudus. Padahal kayu yang terbilang sebanyak 507 batang itu suratnya dari Solok Selatan, yang rencananya akan diangkut dari Teluk Bayur menuju Surabaya. Adam datang ke Padang dan mengadukan langsung ke Kejati. Awalnya Kejati kurang yakin dan mengatakan harus ada bukti dan alasan kuat untuk penangkapan. Akhirnya pengusaha kayu itu tertangkap karena kasus narkoba. Ketika itulah kasus kayu kemudian terbongkar. ”Setelah kasus itu terbongkar, Kejati mengangguk-angguk, tersenyum, dan bertanya, mengapa saya mau mengambil risiko mengadukan masalah pengusaha kayu itu. Karena Kajati juga tahu, ketika itu saya diancam pengusaha kayu itu. Saya menjawab, saya tidak takut atas ancaman apa pun. Karena, mempertahankan republik ini dulunya sangat sakit dan sangat susah, masak hanya karena ancaman dan gertak sambalado kita akan membiarkan sesuatu yang menyimpang dan menyalahi aturan. Kajati tampaknya baru mengerti ketika itu, kalau keberanian atas sebuah kesalahan itu adalah kebenaran,” tutur Adam juga turut prihatin atas perebutan pembuatan monumen PDRI antara dua wilayah di Limapuluh Kota belakangan ini. Menurutnya, tidak seharusnya ke dua wilayah saling bersikeras untuk pembuatan monumen di wilayah masing-masing untuk pengakuan bahwa PDRI pernah berdiri di sana. Karena, pada dasarnya, ada yang lebih hakikat daripada itu, melanjutkan perjuangan yang sebenarnya belum usai. Lain dari itu, Adam sangat berharap, Syafruddin Prawiranegara bisa dicatat pemerintah sebagai pejuang nasional. Karena, bagaimana pun, usaha Syafruddin berjuang masuk keluar rimba dan berpindah-pindah untuk mempertahankan negara, bukanlah perjuangan yang mudah, paling tidak, sebagai tanda sedikit terimakasih atas perjuangan yang mengorbankan jiwa dan raga. ”PRRI adalah perjuangan Syarifuddin untuk meminta janji yang pernah diucapkan pemerintah untuk memberikan otonomi di setiap daerah-daerah. Bukan pemberontakan untuk mengambil alih kekuasaan pemerintah. Simpang siur sejarah harus diluruskan. Setidaknya, kalau Syafruddin dapat tercatat sebagai pahlawan nasional, dapat membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarah,” pungkas Adam. (***) [ Red/Redaksi_ILS ] http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=12165 Wassalam Nofend | 34+ | Cikasel Sent from Pinggiran JABODETABEK® -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
