Angku Nofend,

Ado babarapo kakaliruan dalam tulisan nan diambiak dari Padang Ekspres
ko. Apokoh itu kasalahan wartawan Padang Ekspres atau kakaliaruan
Angku Damanhuri Gafur.  Rasaonyo ambo panah mandanga atau basuo jo
Angku D. Gafur. Nan jaleh, angku Harun Malik, nan disabuikkan mamak
baliau tu, jaleh bana di ambo sabagai urang dakek dan sponsor ambo
salamo di Sumpur Kudus 1958-60.

Pantun nan dikutip tu disabuik "pesan M Natsir ketika berada di Sumpur
Kudus". Kemungkinan Angku D. Gafoer sebagai kurir waktu itu kaliru jo
Laksamana Nazir  nan mungkin panah ditamuinyo. Agak ragu ambo. Takana
di ambo, mungkin dapek dipareso dalam sejarah, rasonyo Pak M. Natsir
indak pernah ado di Sumpur Kudus doh waktu PDRI (Pemerintah Darurat
Republik Indonesia) 1948-49 tu.

Pak M. Natsir memang pernah ado di Sumpur Kudus tahun 1959, waktu PRRI
(Pemerintah Revolusioner Republik Indoneisa). Indak banyak urang nan
tahu, karano baliau ado di "Kincia" tampek pasambunyian kami salamo
tigo minggu di Rimbo Sumpu, indak panah bacarai jo MakNgah doh. Salamo
tigo minggu tu waktu Pak M.Natsir sangat produktif manulih dan MakNgah
salalu diimbau ka dakek baliau bilo diparalukan, manulihkan, dan
mambaco baliak apo nan ditulih.

Dalam dua paragraf terakhir juga terdapat kekeliruan nama, antara
"Syafruddin Prawiranegara" dan "Syarifuddin" dalam kalimat "PRRI
adalah perjuangan Syarifuddin ... "

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
11Sept 2011

On Sep 11, 10:09 pm, "Nofend St. Mudo" <[email protected]> wrote:
> Pernah Diancam Cukong Kayu
>
> Padang Ekspres • Minggu, 11/09/2011 11:07 WIB
>
> Anak urang Padang Mangateh, Andak lalu ka Payokumbuah, Singgah sabanta
> di Tanjuang Bonai, Sajak hinggo iko kateh, Bijo barandang nan
> katumbuah, Jarek bakumpa nan kamanganai.
>
> Begitu pesan M Natsir ketika berada di Sumpur Kudus, Sijunjung, kepada
> Damhoeri Gafoer, 77, sebelum keberangkatannya kembali ke pulau jawa
> usai perang 1949.
>
> Sebagai orang yang terlibat dalam pembentukan Republik Indonesia,
> Damhoeri Gafoer, patut kecewa dengan kondisi negara hari ini. Berbagai
> macam moral dan sikap anak bangsa yang melenceng dari pegangan
> Pancasila silih berganti muncul seperti benalu yang akan membunuh
> batang yang belum kokoh berdiri.
>
> Di usianya yang telah memasuki uzur, kakek yang akrab dipanggil Adam
> ini merasa terbeban dengan situasi nusantara yang semakin lama semakin
> memprihatinkan. Berbagai kasus korupsi di berbagai wilayah semakin
> menjamur bak sedang mengadakan kompetisi dan terus saling berpacu
> tanpa henti, belum lagi kemelaratan masyarakat miskin yang
> menjadi-jadi, dan tingkah polah para pejabat, pemimpin yang banyak
> tingkah dan ulah.
>
> Dalam ingatannya masih melekat, begitu sakitnya meraih kebebasan dari
> jajahan bangsa Belanda di masa dulu. Semasa perang, desanya yang
> terisolir, Sumpurkudus, Sijunjung, dijadikan basis pemerintahan oleh
> Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dengan lokasi yang
> dikelilingi Bukit Barisan, membuat sekutu tidak dapat menembus benteng
> Sumpurkudus.
>
> Wilayah yang memiliki jarak lebih kurang 80 kilometer dari jalan
> lintas Sumatera Sijunjung ini memang sangat sulit dijangkau. Hingga
> kini, jalan menuju Sumpurkudus tetap melewati hutan belantara.
> Orang-orang menyebut nagari ini sebagai kota dalam rimba. Tidak salah
> Syafruddin Prawiranegara dulu memilih wilayah yang akrab dipanggil
> orang dengan sebutan nagari Sumpu ini. Sehingga, pejuang yang tak
> tercatat sebagai pahlawan itu dulunya dapat leluasa menyusun strategi
> dan mempersiapkan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di
> sana.
>
> Pada zaman perang PDRI itu, yang menjabat sebagai wali perang Sumpur
> Kudus adalah Harun Malik. Tidak lain dan tidak bukan adalah paman
> Damhoeri Gafoer. Ketika itu, Damhoeri ditugaskan sebagai pengantar
> surat-surat penting kepada pejabat PDRI dan komandan tentara di Sumpu.
> Oleh karena itu, tokoh PDRI seperti Syafruddin Prawiranegara, Tengku
> Mohammad Hasan, Sutan Mohammad Rasyid, Laksamana Nazir, Suyono, dan
> Umar Said, kenal dekat dengan Damhoeri yang ketika itu masih muda.
>
> Selain mengantar surat dan dokumen-dokumen, Damhoeri juga membantu
> membagikan nasi bungkus untuk para tentara pengawal pejabat PDRI.
> Karena begitu dekatnya dengan pimpinan PDRI, Damhoeri sering diajak
> ngobrol oleh Syafruddin. Dari situ ia tahu, tujuan perjuangan PDRI
> adalah sebagai penyelamat, dan pemerintahan yang syah. Karena, pada
> masa itu pemerintah pusat telah vakum, Soekarno, Hatta dan beberapa
> pejabat lainnya yang sebelumnya menjabat sebagai pimpinan
> pemerintahan, telah ditawan oleh Belanda di Pulau Bangka.
>
> Setelah perang agresi Belanda kedua, Belanda menyerahkan kedaulatan
> kembali kepada Republik Indonesia. Damhoeri kemudian melanjutkan
> sekolahnya ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Lintau. Setelah
> menamatkan sekolah di sana, Damhoeri terpaksa mengurungkan niatnya
> untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Lantaran
> ayahnya sudah meninggal, dan ia bersama ibunya hidup dalam kemiskinan.
>
> Begitu banyak lika-liku hidup yang ia lalui semasa perjuangan itu.
> Belum lagi ketika PRRI bergolak menuntut pembangunan dan otonomi, yang
> ketika itu, tentara PRRI juga menetap di daerah Sumpu. Sehingga,
> ketika tentara pusat berhasil menduduki wilayah itu, masyarakat Sumpu
> dibebani dengan berbagai kewajiban, dan segala gerak-gerik masyarakat
> selalu diawasi. Hingga masyarakat hidup dalam tekanan ketika itu.
>
> Walau demikian, Damhoeri terus memperjuangkan hidupnya sampai pada
> akhirnya ia diterima bekerja sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS) yang
> berdinas di Kantor Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sawahlunto
> Sijunjung pada tahun 1964, hingga pada 1 Juli 1990, ia mendapat hak
> pensiun dari negara sekaligus penghargaan dari Menteri Koperasi,
> sebagai pegawai yang berprestasi baik.
>
> Walau bisa dikatakan Damhoeri hanya lulusan SMP, namun pemikiran,
> pengetahuan, dan kebijakannya terlihat seperti orang yang
> berpendidikan tinggi. Ia terkenal sebagai tokoh sejarah yang bijak dan
> arif. Ia sering diminta sebagai pembicara dalam berbagai acara
> seminar. Tidak luput di hari bela negara, ia selalu diundang untuk
> memberikan sambutan. Baik di Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, atau pun
> di kabupatennya sendiri, Sijunjung.
>
> Namanya tidak terlalu termahsyur, tapi, tidak jarang tokoh-tokoh yang
> dulunya belum cukup besar, seperti, Menteri Dalam Negeri Indonesia,
> Gamawan Fauzi (sebelum menjadi Gubernur Sumbar), Kepala Kejaksaan
> Tinggi Sumbar, Bagindho Fachmi (semasa bertugas di Sijunjung), Yuswir
> Arifin, Bupati Kabupaten Sijunjung, dan sejumlah tokoh besar lainnya,
> bertandang menemui Damhoeri untuk meminta pendapat dan kearifan,
> tentang kepemimpinan.
>
> ”Tidak ada yang istimewa dari saya sebenarnya. Saya ingat, ketika saya
> masih bujang tanggung, Bapak Syafruddin dan M Natsir sering
> mengingatkan saya, kalau negara ini bisa diselamatkan kelak,
> bimbinglah anak cucumu yang memimpin negeri ini. Jangan sampai
> melenceng dari tujuan Pancasila. Karena, membentuk sebuah negara
> tidaklah begitu sulit dari pada mempertahankannya. Begitu inti amanah
> dari mereka yang saya terima. Tapi, dengan kondisi negara hari ini,
> saya menjadi prihatin. Bersua juga kiranya pantun sekaligus ramalan
> dari Bapak M Natsir yang dulu beliau sampaikan kepada saya,” tutur
> bapak beranak empat ini.
>
> Pantun yang dituturkan Adam ternyata bukan hanya ramalan. Berkali-kali
> ia membuka, memperlihatkan sekaligus mengenang tulisan demi tulisan
> yang ia catat ketika masih muda dulu. Nasihat orang-orang besar itu
> masih jelas untuk dibaca. Walau kertasnya sudah lusuh dan berwarna
> kecokelatan. ”Benar-benar bersua,” begitu ia mengulang-ngulang dengan
> pilu.
>
> Pernah sekali, ketika Priyo Sambodo menjabat sebagai Kejati Sumbar
> pada tahun 2000, Adam merasa tidak tahan mendengar pengakuan Anrasyid,
> salah seorang pengusaha kayu dari Gunungmedan. Ketika Anrasyid
> memalsukan surat kayu dan mengatakan berasal dari Sumpurkudus. Padahal
> kayu yang terbilang sebanyak 507 batang itu suratnya dari Solok
> Selatan, yang rencananya akan diangkut dari Teluk Bayur menuju
> Surabaya. Adam datang ke Padang dan mengadukan langsung ke Kejati.
> Awalnya Kejati kurang yakin dan mengatakan harus ada bukti dan alasan
> kuat untuk penangkapan. Akhirnya pengusaha kayu itu tertangkap karena
> kasus narkoba. Ketika itulah kasus kayu kemudian terbongkar.
>
> ”Setelah kasus itu terbongkar, Kejati mengangguk-angguk, tersenyum,
> dan bertanya, mengapa saya mau mengambil risiko mengadukan masalah
> pengusaha kayu itu. Karena Kajati juga tahu, ketika itu saya diancam
> pengusaha kayu itu. Saya menjawab, saya tidak takut atas ancaman apa
> pun. Karena, mempertahankan republik ini dulunya sangat sakit dan
> sangat susah, masak hanya karena ancaman dan gertak sambalado kita
> akan membiarkan sesuatu yang menyimpang dan menyalahi aturan. Kajati
> tampaknya baru mengerti ketika itu, kalau keberanian atas sebuah
> kesalahan itu adalah kebenaran,” tutur
>
> Adam juga turut prihatin atas perebutan pembuatan monumen PDRI antara
> dua wilayah di Limapuluh Kota belakangan ini. Menurutnya, tidak
> seharusnya ke dua wilayah saling bersikeras untuk pembuatan monumen di
> wilayah masing-masing untuk pengakuan bahwa PDRI pernah berdiri di
> sana. Karena, pada dasarnya, ada yang lebih hakikat daripada itu,
> melanjutkan perjuangan yang sebenarnya belum usai.
>
> Lain dari itu, Adam sangat berharap, Syafruddin Prawiranegara bisa
> dicatat pemerintah sebagai pejuang nasional. Karena, bagaimana pun,
> usaha Syafruddin berjuang masuk keluar rimba dan berpindah-pindah
> untuk mempertahankan negara, bukanlah perjuangan yang mudah, paling
> tidak, sebagai tanda sedikit terimakasih atas perjuangan yang
> mengorbankan jiwa dan raga.
>
> ”PRRI adalah perjuangan Syarifuddin untuk meminta janji yang pernah
> diucapkan pemerintah untuk memberikan otonomi di setiap daerah-daerah.
> Bukan pemberontakan untuk mengambil alih kekuasaan pemerintah. Simpang
> siur sejarah harus diluruskan. Setidaknya, kalau Syafruddin dapat
> tercatat sebagai pahlawan nasional, dapat membuktikan bahwa kita
> adalah bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarah,” pungkas
> Adam. (***)
> [ Red/Redaksi_ILS ]
>
> http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=12165
>
> Wassalam
> Nofend | 34+ | Cikasel
>
> Sent from Pinggiran JABODETABEK®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke