Mak Abraham jo Mak Ngah,

Manuruik nan ambo danga dari Papa nan samo turun jo Pak Imam sebagai
rombongan tarakhir nan manyarah kutiko tu, salain  keluarga ado nan
mairiangi yaitu:

1.      Bukhari Tamam asal Bukittinggi
2.      Tk. Suleman yang kemudian bergelar Dt. Tan Kabasaran asal
Bukittinggi  
3.      Masri asal Aia Kidjang Kumpulan
4.      Yarnani (Wali nagari Kumpulan)
5.      Papa (H. Djasri .S) Asal Tilatang Kamang, Bukik
6.      Seorang pemuda Sunda yang lihai mengetik
7.      Dt Tumangguang asal Durian Kunik Kumpulan 
8.      Su'ud orang Kumpulan yang pintar masak

Beberapa orang dari nan disabuikkan Papa ko masih iduik sampai kini.
Sedangkan Pak DD indak namuah manyarah doh sampai caritonyo ado 2 versi ijok
ciek, tatangkok trus ditembak ciek nan kubuanyo ado di Lariang Palupuah.

Iko ambo kutipkan dari tulisan Ketika Papa Bercerita 4 wawancara ambo dan
tambahan keterangan dari Buya HMA saat akhir Pak Imam (Pak Natsir) 'turun'
dari rimbo Masang :

Keterangan Buya Mas'oed Abidin tentang keterangan Papa di seri Ketika Papa
Bercerita bagian ketiga sebelumnya :

"Yang ditulis Rang Gaek atau Pak Natsir itu adalah saran kepada Pemerintah
RI pimpinan Soekarno melalui Jendral Abdul Harris Nasution tentang bagaimana
menyelesaikan bekas anggota PRRI secara nasional, agar tidak menjadi beban
sosial masyarakat Indonesia. Hebatnya beliau (Rang Gaek, panggilan kami
terhadap Pak Natsir, sebab ada beberapa panggilan terhadap beliau itu, ada
dengan panggilan 'Pak Imam' (bagi pencinta Masyumi), Abah (bagi anak anak
beliau di Jabar), 'Pak Natsir' (umum panggilan kekerabatan), ada 'Abu
Fauzie' ini panggilan khusus yang hanya diketahui beberapa anak anak beliau
tertentu saja, sekali lagi hebatnya beliau tidak menulis bagaimana
semestinya pemerintah memperlakukan beliau agar bebas, tetapi beliau
menyarankan bagaima seharusnya pemerintah menyelesaikan kemelut PRRI agar
tidak menjadi beban sosial masyarakat Indonesia. Yang ditulis Pak Natsir itu
banyaknya 42 halaman diketik oleh Pak Buchari Tamam, Mazni Salam dan juga
Buya sekali sekali, diketik, dikoreksi, diketik lagi, dikoreksi lagi,
berkali-kali sampai pas untuk konsumsi penguasa, tanpa harus mengemis
merendah diri, inilah khasnya konsepsi Pak Imam itu. Judulnya adalah
"Mengumpulkan Kerikil Kerikil Terpelanting", yang kelak dimasukkan kedalam
Capita Selecta 3 sampai hari ini ... Buya juga mengutip kembali tulisan itu
di dalam Buku yang sedang Buya ulangi mengeditnya dengan judul "Hidpkan
Da'wah Bangun Negeri (HDBN), Taushiyah Da'wah Mohamad natsir", buku ini
sudah diberi pengantar oleh Prof.Madya Siddiq Fadzil dari UKM Malaysia sejak
Ramadhan 1330 H yang lalu, sayang masih belum dapat Buya terbitkan sampai
hari ini ... Pak Natisr selama di Padang Sidempuan Sept 1961 itu ditempatkan
di sebelah rumah Kolonel Bahari Effendi Siregar (Komandan Koren 22 Kawal
Samudera), tersimpal maksud tersembunyi dengan halus mengawasi sekaligus
membatasi gerak beliau, karena beliau tinggal dalam kompleks Korem itu,
walau bebas didatangi siapapun. Disinilah beliau ditemui oleh Mas Hardi dan
utusan Jenderah Abdul harris Nasution, dan juga oleh teman teman dari
Masyumi dari seluruh tanah air. Begitu banyaknya tamu beliau setiap harinya,
akhirnya beliau selesai merampungkan pesan untuk pemerintah RI itu, maka
beliau dipindahkan ke Batu Malang dan berakhir di Wisma Keagungan di Jakarta
sebelum semua tahanan politik ini dibebaskan 1967, yang beliau mulai dengan
mendirikan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia pada Pebruari 1967 di Masjid Al
Munawwarah, Kampung Bali II, Tanah Abang Bukit, Jakarta Pusat itu.
Pelajaran berharga, bagi pejuang tidak ada masa yang disebut berhenti. 

Saya mencoba bertanya kembali bertanya ke Papa tentang keterangan Buya ini
dan diterang beliau sebagai berikut  lalu dijelaskan kembali oleh Papa
sebagai berikut :

Waktu di Gang Kenanga di dalam Rimba Sumatera itu, Papa sering menyaksikan
Pak Imam (Buya Moh. Natsir) mendiktekan isi buku Capita Selekta 3 ini ke
seorang anak muda yang berkulit putih bersih berasal dari Sunda, tapi Papa
lupa nama anak muda tersebut. Naskah yang telah diselesaikan di Rimba itulah
yang kemudian kembali di edit oleh Pak Bukhari Tamam, Pak Mazni Salam dan
juga oleh Buya sendiri. Kebetulan Papa kenal dengan ketiga editor ini yang
semuanya Urang Awak. Papa ketemu Buya ketika Buya ke Rumah Sakit Achmad
Muchtar Bukittinggi. Sebelum ke Padang Sidempuan itu, ketika Pak Imam turun,
beliau ditempatkan di rumah Inyiak Datuak Palimo Kayo di daerah Jambu Aia
yang mana rumah itu terbuat dari kayu dan berkandang di bawahnya juga
terdapat tabek (kolam ikan).


Saya kutipkan kembali tanggapan Buya HMA :

Waktu turun dari Lembah Masang (Kab Agam) tu, Pak Natsir ditempatkan di
Jambu Aie (rumah Buya Datuak Palimo Kayo), tapi ketika telah mendapatkan
kabar Pak Dahlan Djambek ditembak OPR di Palupuah, maka Pak Natsir
dipindahkan ke Padang Sidempuan oleh kawalan Kodam II Bukit Barisan (atas
Perintah Pangdam) dengan pengawalan sebagian adalah bekas pasukan PRRI yang
dipakaikan kepada mereka pakaian Kodam II Bukit Barisan tu ..
Jadi Pak Natsir bisa diselamatkan keluar dari daerah Sumatera Barat (Kodam
III 17 Agustus) itu, kemudian ditempatkan di Padang Sidempuan diterima oleh
masyarakat 'Urang Awak' (Minang)  nan terkoordinir oleh SKM (Serikat
Keluarga Minang). Sekretaris Pak Natsir adalah pak Buchari Tamam, yang tetap
manjadi Sekretaris beliau sampai ke Dewan Da'wah didirikan Februari 1967. 
Baliaulah yang mengiringi Pak Natsir sampai ka Padang Sidempuan tu.
 

Saketek maulang catatan nan daulu. Rina raso Mak Ngah banyak nan bisa Mak
Ngah tarangan ka kami nan kaingintauan jo sijarah ko.

Wassalam
Rina, 33+, batam asal Bukittinggi Koto Rang Agam



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of sjamsir_sjarif
Sent: Tuesday, September 13, 2011 12:31 AM
To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Re: Damhoeri Gafoer, Saksi Sejarah Perjuangan PDRI di
Sumpurkudus, Sijunjung

Maa Angku Abraham Ilyas,

(1). Komentar MakNgah tantang tulisan staf redaksi Padang Ekspres tentang
pangana (ingatan) Angku Damanhuri Gafoer itu, berdasarkan ketercengangan
MakNgah bagaimana Redaksi Padang Ekspres melepaskan cerita sejarah seperti
itu begitu saja, yang tampaknya seperti tanpa proofread, edit, apalagi
mancek data sejarah. Seharusnya Padang Ekspres lebih ketat atau tight dalam
mengedit beritanya.

Pak M. Natsir TIDAK PERNAH menjejak tanah atau ada di Sumpur Kudus dalam
Masa Pemerintahan Darurat Repulblik Indonesia, PDRI, 1948-49. Sangat
Mustahil beliau akan sempat berhandai-handai dan berpantun-pantun dengan
Angku Damanhoeri Gafoer yang waktu itu baru berumur 13/14 tahun! 

Dalam Sejarah Perjuangan Indonesia, Nama M. Natsir muncul disaat-saat PDRI
berakhir waktu beliau memegang peranan sebagai Utusan Pak M. Hatta untuak
"manjapuik" Pak Sjarfruddin Prawiranegara dari Sumatera Barat. Beliau
bertiga, Pak M. Natsir, dr. Leimena, dan dr. A Halim samai di Padang tanggal
2/3 Juli 1949 dan sampai di Padang Jopang 6/7 Juli 1949. Sudah itu kembali
ke Ibukota Yogyakarta.

(2) Mengenai pertanyaan Angku Abraham Ilyas berapa lama Pak Natsir di Nagari
Sitalang, lebih baik diadreskan kepada "Bapak Drs. H. Noor Indones St. Sati,
usia 75 th. asa nagari Sitalang basamo dengan adiak beliau H. Bustanuddin"
yang sedang menulis Sejarah Nagari Sitalang Masa PRRI itu. MakNgah pun ingin
tahu.

Syair Angku Abraham di website Nagari itu hanya menyinggung sedikit tentang
cerita Tokoh Sitalang dalam hubungannya dengan Pak M. Natsir.

Pengalaman MakNgah, dalam "main kucing-kucingan" dengan Pak  M. Natsir
penggal kedua bulan Agustus 1958, beliau memang pernah lalu di Batukambing
dari ijoknya dari Maninjau. Apakah beliau pernah kembali ke sana
(Batukambing dan Sitalang) sesudah itu, MakNgah tidak tahu karena MakNgah
hilang-hilang timbul berjumpa beliau belasan kali di Masa itu "Tempat"
tertentu. Yah, MakNgah pakai istilah "main kucing-kucingan" karena dalam
pertemuan kami di Talu Pasaman, 14 Agustus 1958, MakNgah (Sjamsir Sjarif)
bersama teman Ridwan Asky ditugaskan beliau pergi ke Natal, Tapanuli
Selatan. Sjofjan Asnawi teman sorombongan kembali dari Palembang sevelumnya
terpaksa tinggal di Talu karena kakinya terpelecok dalam perjalanan berat
Bukik Batu Badoro antara Kototinggi (Limopuluk kota) dan Bonjol (Pasaman).
Rencana Pak M. Natsir dan Pak Syafruddin akan ke Natal; kami bgerdua
ditugaskan meninjau situasi dan memberi informasi menyiapkan warga di sana
(Natal).

Sekembali dari Natal dan Hutatinggi di Puncak Gunung Sorik Merapi, MakNgah
kembali ke Talu, hanya menjumpai Angku Buchari Tamam yang ditugaskan Pak
Natsir mengunggu kami dengan Jeepnya. Kami bertiga, Angku Buchari Tamam
menyetir Jeep, lari malam dari Talu mangejar Pak Natsir ke Maninjau. Panjang
cerita karena sampai di Tantaman, Palemgbayan, ternyata Matur sudah diduduki
Tentera Pusat (Operasi Semut?). Jeep ditinggalkan. Kami berpisah, Angku
Buchari sendirian terus ke Balingka, kami berdusa melintas rimba melalui
alahan Anggang memancang ke Maninjau. Namun, di tengah hutan, orang-orang
Maninjau telah ijok pula. MakNgah turun ke Kotoalam semalaman. Ingin terus
kembali ke Pasaman. 

Ternyata di senja itu Rombongan Pak Natsir yang Ijok dari Maninjau ke
Batukambing, melintas Kotoalam. MakNgah tidur di Kotoalam. Besok paginya
meneruskan perjalanan menyeberang Batang Masang di Muaro Tontang (Gudang)
terus ke Malampah. MakNgah dengan Ridwan akahirnya rendezvou dangan Pak
Natsir di Malampah. Itulah  sekdar salah satu, sekelumit riwayat "main
kucing-kucingan" dengan Pak Natsir di Masa Gawat. 

(3) Mengenai kalimat Angku Abraham:
"> Pak Natsir mengakhiri PRRI di Siantar (1961 ?) sesudah dari Sumpur (th.
> 1959) .......karena Pasaman, Siantar tsb. lebih dekat dari Sitalang
> dibandingkan dengan Sumpur."

memang tidak dfapat MakNgah komentari karena agak bercampur baur dan sangat
mengelirukan. 

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif    
September 12, 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke