Sdr Bandarost dkk,
 
     "Merantau" adalah ekspresi sosial dari masyarakat tertentu yang menjadikan 
kebiasaan migrasi keluar dari daerah budaya mereka sebagai bahagian dari 
tradisi sosial mereka yang terlembaga. Karenanya tidak semua bentuk migrasi 
keluar dari daerah budaya itu adalah merantau, tapi migrasi biasa.  Masyarakat 
manapun di dunia ini dari dahulu sampai sekarang biasa bermigrasi, baik secara 
individual maupun berkelompok, baik karena keinginan sendiri maupun karena 
terpaksa. Baik untuk masa singkat maupun untuk masa panjang ataupun migrasi 
permanen seperti rantau Cino itu. 
     Salah satu dari corak masyarakat yang menjadikan merantau sebagai bagian 
dari tradisi sosial mereka adalah sukubangsa Minangkabau. Tradisi merantau 
orang Minang ini sudah barang tentu akan dipengaruhi oleh banyak faktor yang 
bisa berubah dari masa ke masa. Seperti yang Anda katakan itu, faktor-faktor 
penyebab itu juga bisa berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan waktu 
dan tingkat kemajuan yang mereka alami.
     Saya telah melakukan studi merantau ini sampai dengan masuknya kita ke era 
Orde Baru, yang puncaknya adalah mass migration sebagai akibat kolosal dari 
PRRI. Silahkan siapapun melanjutkannya atau melihatnya dari segi yang 
berbeda. Sdr Bandarost apa sudah sempat membaca buku Merantau saya itu?
     Salam, MN
     Silahkan sorot apa2 yang berbeda itu dari tradisi masa lalu dengan masa 
sekarang. Kendati Sdr Bandarost bukan seorang antropolog ataupun sosiolog, 
tidak ada hambatan bagi siapapun untuk menyorotnya. Jika itu adalah academic 
exercise yang diperlukan adalah pandangan yang obyektif, analitis, komparatif 
dan kritis.
     Silahkan. Dan saya ingin mengikutinya. MN
 
From: bandarost <[email protected]>
To: RantauNet <[email protected]>
Sent: Saturday, September 24, 2011 3:24 PM
Subject: [R@ntau-Net] Re: MERANTAU DITINJAU KEMBALI

Assalamu'alaikumWW,
Pak Mochtar Naim dan sanak sapalanta nan ambo hormati,

Saya berpendapat bahwa fenomena merantau yang dulunya menjadi ciri
khas urang awak ini memang perlu dipelajari kembali, bertolak dari
berbagai perubahan zaman yang terjadi secara sangat pesat pada
beberapa dekade terakhir ini.
Saya bukan ahli ilmu2 sosial, tapi hanyalah salah seorang perantau
Minang yang sejak lama mengamati fenomena merantau ini hanya berbekal
akal sehat dan bukan keahlian dalam disiplin ilmu tertentu.

Komentar saya secara acak adalah sebagai berikut :

1. Kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang
amat pesat membuat jarak menjadi sesuatu yang realtif dekat atau
seakan tidak lagi berjarak. Di bidang transportasi, secara mengejutkan
angkutan antar propinsi menggunakan bis mendadak ditinggallkan orang,
berganti dengan angkutan udara dengan segala kelebihannya yang membuat
BIM berubah menjadi bandara rakyat yang sangat semarak. Chating
menggunakan HP dengan biaya yang relatif terjangkau membuat seorang
kemenakan dapat bertukar fikiran dengan mamaknya yang sedang bekerja
di sawah, dstnya, dstnya, yang sangat berbeda dengan kondisi setengah
abad yang lampau.

2. Pengertian 'rantau cina' dapat berubah secara drastis. Banyak
perantau yang tergolong 'perantau cina' dengan kriteria zaman dahulu,
tapi dapat saja sangat well informed dan terlibat aktif dalam
permasalahan nagarinya. Banyak perantau yang jarang pulkam tapi sangat
faham dengan sikon di kampung.

3. Fenomena merantau bukan lagi monopoli orang Minang. Beberapa suku2
lain di Nusantara ini juga merupakan perantau2 tangguh, seperti kawan2
dari Sumatera Utara, Madura, Banjar, Jawa Tmur, Flores, dll yang
merambah ke seluruh Nusantara dan bagian2 tertentu dunia, malah
bermukim di ranah Minang yang ditinggalkan perantaunya. Merantau
disini sudah identik dengan 'hijrah' dalam konsep  Islam yang terkait
dengan keinginan yang kuat untuk merubah nasib.

4. Yang disebut perantau Minang juga punya spektrum yang sangat lebar.
Mulai dari yang baru mencoba keluar dari nagarinya masing2, sampai ke
perantau yang sudah merupakan generasi ke 3, 4, atau 5 dstnya sejak
orang tuanya meninggalkan ranah Minang puluhan atau lebih dari seratus
tahun yang silam. Sikap mental dan pandangan mereka tentang adat dll
tentunya sudah sulit untuk digeneralisir bertolak dari latar belakang
yang beragam tersebut, walau semuanya berstatus 'perantau'.

5. Lebih menarik lagi kalau kita mencoba mencari definisi siapakah
yang layak disebut orang Minang ? Disini masalahnya tampaknya tidak
lagi melulu masalah budaya "J' dan 'M' karena kombinasi dan variasinya
sangat banyak. Banyak yang sehari-hari disebut 'orang Minang' dalam
darahnya mengalair juga darah dan gen 'J', Kalimantan, Sulawesi,
Belanda, dlsbnya. Variasi point 4 dan 5 ini secara mudah dapat disimak
di Palanta ini dari berbagai tanggapan atas berbagai topik yang hangat
dibahas di sini.

Yah itulah sementara komen saya pak MN. Saya harapkan pak MN dapat
menggali fenomena merantau dan fenomena 'urang awak' ini secara lebih
faktual dan sesuai dengan kondisi lapangan yang mutakhir.

Maaf & wasalam,

Epy Buchari, L-68
Ciputat Timur.


On Sep 16, 6:16 am, Mochtar Naim <[email protected]> wrote:
> Kawan2,
>      Seperempat abad yl, tepatnya tgl 8 Juli 1986, saya mengirimkan tulisan 
> terlampir ke Kompas. Judulnya: "Arti Merantau Sekarang." Saya tidak tahu apa 
> tulisan itu dimuat atau tidak.  Tapi setelah saya baca kembali, dalam saya 
> sedang menyunting semua tulisan2 saya untuk dibukukan sekarang ini, rasanya 
> kita perlu mempertanyakan, atau menanyakan, apa yang telah berubah dengan 
> tradisi dan budaya merantau kita itu sejauh ini.
>      Saya mengajak Sdr2 sekalian untuk memberi pandangan dan komentar apa 
> saja yag telah berubah dengan tradisi dan budaya merantau itu. Tulisan itu 
> saya lampirkan bersama ini.
>      Silahkan. Disertai salam saya sekeluarga,
>  
> Mochtar Naim 
>
>  860708 1 ARTI MERANTAU SEKARANG.doc
> 70KViewDownload

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke