Sdr Bandarost, dkk
 
     Merantau adalah migrasi. Tetapi tidak semua migrasi adalah merantau. Oleh 
karena itu kita perlu mendefinisikan apa itu migrasi dengan segala macam 
tipenya dan apa pula migrasi yang sifatnya merantau. Migrasi baru dikatakan 
merantau kalau dia pergi dengan kemauan sendiri dan terkait dengan dan adalah 
bahagian dari sistem sosialnya, baik dalam waktu yang lama ataupun singkat, dan 
tidak pernah dengan tujuan untuk berpindah habis membuang diri, seperti "rantau 
Cino" itu. Makanya, kendati orang Jawa ditemukan yang terbanyak secara 
kuantittif di luar daerah budayanya, dibanding dengan masyarakat2 etnis lainnya 
di Indonesia, tetapi yang memenuhi kriteria merantau, sedikit. Apalagi orang 
Jawa yang ditemukan di luar Jawa sampai saat ini kebanyakan adalah transmigran, 
dan keturunannya, bukan perantau dengan kemauan sendiri dan terkait dengan 
sistem sosialnya itu seperti orang Minang. Mungkin belakangan sudah terjadi 
dengan kemauan sendiri tetapi tidak
 karena dorongan sistem sosial-budayanya itu. Bagi orang Jawa masih ada dan 
masih terpakai sampai saat ini ungkapan: "Mangan ora mangan asal ngumpul." Dan 
kalau toh mereka bermigrasi atau bertransmigrasi, kesukaan asal ngumpul itu 
masih lekat terpakai dalam tradisi migrasi mereka. Makanya di mana-mana kita 
temukan ada Kampung Jawa sebagaimana tidak ada satupun dan di manapun ada 
"Kampung Minang" ataupun "Kampung Padang."  Orang Jawa yang dikirim sebagai 
transmigran di luar Jawa hampir tanpa kecuali semuanya membentuk koloni2 
transmigran terpisah dari walau bersebelahan dengan penduduk asli.
 
Sdr Bandarost,
 
     Tugas kita sebagai pengamat, baik kita profesional sosiolog dan antropolog 
ataupun amatiran, adalah mencari dan menemukan pola2 umum yang terkait dengan 
fenomena migrasi yang namanya merantau itu. Kalau kita preteli satu per satu 
penyebab maupun akibatnya seperti yang Anda lakukan itu tentu akan banyak 
sekali dan bervariasi dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, dari 
daerah ke daerah dan dari tingkat sosial-ekonomi dan pendidikan yang 
berbeda-beda. Silahkan saja mempretelinya satu per satu tetapi tentu tidak 
dengan membiarkannya bagai pasir di pantai tanpa mengelompokkannya dalam tipe 
dan pola2 tertentu yang mempunyai arti yang "meaningful" dan signifikan. 
 
     Sebagaimana halnya dengan fenomena sosial lainnya, budaya merantau juga 
turut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan faktor2 yang membentuk dan 
mempengaruhinya. Apa yang Anda konstatasi dengan berbagai perubahan dan faktor2 
yang merubah itu, secara keseluruhan sudah benar. Tinggal Anda melanjutkannya 
dengan menemukan pola2 (patterns) nya itu sehingga dia mempunyai arti yang 
meaningful dan signifikan itu. Anda bisa bayangkan bagaimana perubahan2 itu 
telah terjadi dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Cobalah 
perhatikan bagaimana sisa2 orang Minang dan Melayu di pantai Timur Afrika, di 
Madagaskar misalnya, ketika orang M ini masih melakukan hubungan perdagangan 
langsung sampai ke Afrika itu, di samping juga ke Yaman, Srilangka, Pattani, 
Malaysia, pantai utara Kalimantan sampai ke Filipina. Belum pula yang di 
Nusantara sendiri, terutama di daerah pesisir Barat maupun Timur Sumatera, 
Kalimantau, Sulawesi, Maluku dan bahkan
 sekarang Papua.
     Ketika saya sempat 8 tahun merantau ke Amerika saya menemukan cukup banyak 
orang Minang yang sudah menjadi orang Amerika, walau ciri2 keminangannya masih 
kuat melekat dengan isteri dari berbagai sukubangsa. Begitu juga di banyak 
tempat di manapun, di Australia, Eropah dan Asia lainnya.
    Nah, apa yang Anda risaukan dengan budaya merantau ini kalau Anda melihat 
dengan memakaikan kacamata sosiologi/antropologi seperti yang dilakukan banyak 
pengamat itu? Orang M akan hilang dari peredaran karena merantau. Bisa dan 
kenapa tidak? Namun, bagaimanapun, kita akan melihat sisa2 dan ciri2 khas dari 
watak M nya itu sampai satu waktu dia habis sama sekali ditelan oleh budaya 
yang lebih dominan atau justru membentuk pola campuran baru seperti yang kita 
lihat di koloni2 M di sepanjang pantai Barat Sumatera dari Aceh sampai ke 
Bengkulu, dan di pantai Timur dari Aceh sampai ke Sumsel. Tidak kurangnya di 
Semenanjung Malaysia sendiri dengan Negeri Sembilan, Melaka, Pahang, dsb.
     Sdr Bandarost dkk, inilah beda kalau kita melihat fenomena apapun dengan 
kacamata bening obyektif-ilmiah dengan kalau kita melihat dengan kacamata 
warna2 secara subyektif-normatif. Anda tentu bisa memilih salah satu atau 
memakai keduanya silih berganti, tergantung pada maksud dan tujuan Anda.  
     Demikian reaksi dari saya tanpa harus menyinggung perasaan siapapun yang 
saya kuatirkan terjadi di arena palanta rantaunet ini karena kesukaan melihat 
apa2 secara subyektif-normatif dengan kurang mengindahkan nilai etika dan 
etiket berdialog dan berkomunikasi seperti yang memang biasa terjadi di palanta 
lapau hingga sayapun dan sejumlah lainnya terkena getahnya.
 
Salam, MN
 
 


From: bandarost <[email protected]>
To: RantauNet <[email protected]>
Sent: Monday, September 26, 2011 10:11 AM
Subject: [R@ntau-Net] Re: MERANTAU DITINJAU KEMBALI

Assalamu'alaikumWW,
Pak MN dan sanak sapalanta nan ambo hormati,

Terimakasih atas tanggapan pak MN melalui japri dan melalui RN ini.
Melalui tanggapan ini, sekurangnya terjawab prasangka dan keraguan
bahwa pak MN  tidak punya perhatian atau tidak pernah menanggapi
komentar terhadap tulisan beliau.

Pak MN, menurut logika saya, merantau (yang pada hakekatnya juga
berarti migrasi dengan karakteristik tertentu) merupakan suatu proses
dengan outputnya : perantau.
Proses ini dari dulu sampai sekarang prinsipnya masih sama, sesuai
dengan prinsip ilmu fisika (alam takambang) bahwa akan selalu terjadi
aliran antara 2 tempat yang secara potensial berbeda.

Bagi saya yang menarik adalah proses perubahan dan perkembangan
selanjutnya dari perantau itu sendiri yang dikelompokkan sebagai
'orang rantau', yang berkembang sesuai dengan potensi, sikon, dan
perjalanan nasib/takdir mereka  di daerah rantaunya masing2. Ada laki1
atau perempuan Minang yang kawin dengan etnis lain, ada yang sudah
sekian generasi di rantau, ada yang well educated, ada yang
berpendidikan seadanya, ada yang gigih dan haus tantangan, ada yang
melempem dan suka mengeluh, dlsbnya, dlsbnya. Dalam hal yang
menyangkut perkawinan ini, ada yang masih 'asli' Minang karena yang
perempuan masih asli Minang, ada yang sekadar masih punya bako di
ranah Minang, ada yang sudah tidak punya kaitan sama sekali dengan
ranah ini.

Seluruh perantau dengan beragam status ini secara umum digeneralisir
sebagai 'orang Minang' atau 'urang awak'. Penampilan/performance/
kinerja mereka terkait dengan urusan di ranah (pariwisata, atensi,
selera, bantuan, ikut organisasi, milis,  dan lain sejenisnya)
kemudian juga dinilai dengan menggunakan kriteria yang sempit dan
terbatas,
Sebagai contoh yang paling mudah diamati adalah RN sendiri. Dikesankan
bahwa kalau jadi 'urang awak' atau 'orang Minang' itu harus begini dan
begitu dengan toleransi yang terkadang sangat tipis. Ada yang agresif,
ada yang berkuping tipis, (banyak) yang sok tau dalam segala hal, ada
yang gemar menyalahkan dan mematahkan pendapat yang lain, ada yang
kadar keminangannya minim2 saja, ada yang sangat kental, dlsbnya. Ada
yang tidak tahan dan kemudian pamit (untuk sementara atau selamanya).
Dua minggu terakhir ini, kalau saya tidak salah sudah 2 orang yang
mengesankan pamit ini.

Jadi pak MN, menurut saya permasalahan 'siapa' sebenarnya orang Minang
ini dengan berbagai pengelompokan dan karakteristiknya akan merupakan
salah satu hal maha penting untuk diteliti oleh Sociologist dan
Anthropologist. Pemahaman ini menurut saya akan membantu berbagai
upaya yang terkait dengan persatuan dan kesatuan orang2 yang punya
kaitan darah dengan warga asli Minangkabau ini. Salah satu produk dari
pemahaman ini adalah toleransi, pengertian, simpati, dan empati yang
lebih baik antar kita yang secara umum disebut sebagai 'urang awak'
yang berstatus perantau ini.

Dengan berbagai status perkawinan dengan berbagai suku dan etnis ini,
dengan (sangat) banyaknya urang sumando yang non Minang ini,
seyogianyalah pula kita mampu menahan diri untuk merendahkan, tidak/
kurang menghargai suku2 dan etnis2 lain dalam pergaulan sehari-hari,
termasuk dalam berbagai pembicaraan dan pembahasan dalam Palanta RN
ini. Marilah kita juga menghormati perasaan urang2 sumando kita
(terbanyak rasanya dari suku 'J', meminjam kriteria yang umum
digunakan pak MN) yang juga mengikuti Palanta ini.

Pak MN, saya tidak mampu untuk meneliti, atau menulis secara runut dan
mengikuti disiplin tertentu dalam upaya mendalami permasalahan
sosiologi ini.
Saya hanyalah 'si bisu yang barasian', yang mengharapkan profesional
seperti pak Mochtar dan para ahli lainnya untuk membahas dan menguliti
permasalahan ini secara komprehensif.

Maaf dan wasalam,

Epy Buchari, L-68
Ciputat Timur


On Sep 25, 6:45 am, Mochtar Naim <[email protected]> wrote:
> Sdr Bandarost dkk,
>  
>      "Merantau" adalah ekspresi sosial dari masyarakat tertentu yang 
> menjadikan kebiasaan migrasi keluar dari daerah budaya mereka sebagai 
> bahagian dari tradisi sosial mereka yang terlembaga. Karenanya tidak semua 
> bentuk migrasi keluar dari daerah budaya itu adalah merantau, tapi migrasi 
> biasa.  Masyarakat manapun di dunia ini dari dahulu sampai sekarang biasa 
> bermigrasi, baik secara individual maupun berkelompok, baik karena keinginan 
> sendiri maupun karena terpaksa. Baik untuk masa singkat maupun untuk masa 
> panjang ataupun migrasi permanen seperti rantau Cino itu. 
>      Salah satu dari corak masyarakat yang menjadikan merantau sebagai bagian 
> dari tradisi sosial mereka adalah sukubangsa Minangkabau. Tradisi merantau 
> orang Minang ini sudah barang tentu akan dipengaruhi oleh banyak faktor yang 
> bisa berubah dari masa ke masa. Seperti yang Anda katakan itu, faktor-faktor 
> penyebab itu juga bisa berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan 
> waktu dan tingkat kemajuan yang mereka alami.
>      Saya telah melakukan studi merantau ini sampai dengan masuknya kita ke 
> era Orde Baru, yang puncaknya adalah mass migration sebagai akibat kolosal 
> dari PRRI. Silahkan siapapun melanjutkannya atau melihatnya dari segi yang 
> berbeda. Sdr Bandarost apa sudah sempat membaca buku Merantau saya itu?
>      Salam, MN
>      Silahkan sorot apa2 yang berbeda itu dari tradisi masa lalu dengan masa 
> sekarang. Kendati Sdr Bandarost bukan seorang antropolog ataupun sosiolog, 
> tidak ada hambatan bagi siapapun untuk menyorotnya. Jika itu adalah academic 
> exercise yang diperlukan adalah pandangan yang obyektif, analitis, komparatif 
> dan kritis.
>      Silahkan. Dan saya ingin mengikutinya. MN
>  
> From: bandarost <[email protected]>
> To: RantauNet <[email protected]>
> Sent: Saturday, September 24, 2011 3:24 PM
> Subject: [R@ntau-Net] Re: MERANTAU DITINJAU KEMBALI
>
> Assalamu'alaikumWW,
> Pak Mochtar Naim dan sanak sapalanta nan ambo hormati,
>
> Saya berpendapat bahwa fenomena merantau yang dulunya menjadi ciri
> khas urang awak ini memang perlu dipelajari kembali, bertolak dari
> berbagai perubahan zaman yang terjadi secara sangat pesat pada
> beberapa dekade terakhir ini.
> Saya bukan ahli ilmu2 sosial, tapi hanyalah salah seorang perantau
> Minang yang sejak lama mengamati fenomena merantau ini hanya berbekal
> akal sehat dan bukan keahlian dalam disiplin ilmu tertentu.
>
> Komentar saya secara acak adalah sebagai berikut :
>
> 1. Kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang
> amat pesat membuat jarak menjadi sesuatu yang realtif dekat atau
> seakan tidak lagi berjarak. Di bidang transportasi, secara mengejutkan
> angkutan antar propinsi menggunakan bis mendadak ditinggallkan orang,
> berganti dengan angkutan udara dengan segala kelebihannya yang membuat
> BIM berubah menjadi bandara rakyat yang sangat semarak. Chating
> menggunakan HP dengan biaya yang relatif terjangkau membuat seorang
> kemenakan dapat bertukar fikiran dengan mamaknya yang sedang bekerja
> di sawah, dstnya, dstnya, yang sangat berbeda dengan kondisi setengah
> abad yang lampau.
>
> 2. Pengertian 'rantau cina' dapat berubah secara drastis. Banyak
> perantau yang tergolong 'perantau cina' dengan kriteria zaman dahulu,
> tapi dapat saja sangat well informed dan terlibat aktif dalam
> permasalahan nagarinya. Banyak perantau yang jarang pulkam tapi sangat
> faham dengan sikon di kampung.
>
> 3. Fenomena merantau bukan lagi monopoli orang Minang. Beberapa suku2
> lain di Nusantara ini juga merupakan perantau2 tangguh, seperti kawan2
> dari Sumatera Utara, Madura, Banjar, Jawa Tmur, Flores, dll yang
> merambah ke seluruh Nusantara dan bagian2 tertentu dunia, malah
> bermukim di ranah Minang yang ditinggalkan perantaunya. Merantau
> disini sudah identik dengan 'hijrah' dalam konsep  Islam yang terkait
> dengan keinginan yang kuat untuk merubah nasib.
>
> 4. Yang disebut perantau Minang juga punya spektrum yang sangat lebar.
> Mulai dari yang baru mencoba keluar dari nagarinya masing2, sampai ke
> perantau yang sudah merupakan generasi ke 3, 4, atau 5 dstnya sejak
> orang tuanya meninggalkan ranah Minang puluhan atau lebih dari seratus
> tahun yang silam. Sikap mental dan pandangan mereka tentang adat dll
> tentunya sudah sulit untuk digeneralisir bertolak dari latar belakang
> yang beragam tersebut, walau semuanya berstatus 'perantau'.
>
> 5. Lebih menarik lagi kalau kita mencoba mencari definisi siapakah
> yang layak disebut orang Minang ? Disini masalahnya tampaknya tidak
> lagi melulu masalah budaya "J' dan 'M' karena kombinasi dan variasinya
> sangat banyak. Banyak yang sehari-hari disebut 'orang Minang' dalam
> darahnya mengalair juga darah dan gen 'J', Kalimantan, Sulawesi,
> Belanda, dlsbnya. Variasi point 4 dan 5 ini secara mudah dapat disimak
> di Palanta ini dari berbagai tanggapan atas berbagai topik yang hangat
> dibahas di sini.
>
> Yah itulah sementara komen saya pak MN. Saya harapkan pak MN dapat
> menggali fenomena merantau dan fenomena 'urang awak' ini secara lebih
> faktual dan sesuai dengan kondisi lapangan yang mutakhir.
>
> Maaf & wasalam,
>
> Epy Buchari, L-68
> Ciputat Timur.
>
> On Sep 16, 6:16 am, Mochtar Naim <[email protected]> wrote:
>
> > Kawan2,
> >      Seperempat abad yl, tepatnya tgl 8 Juli 1986, saya mengirimkan tulisan 
> > terlampir ke Kompas. Judulnya: "Arti Merantau Sekarang." Saya tidak tahu 
> > apa tulisan itu dimuat atau tidak.  Tapi setelah saya baca kembali, dalam 
> > saya sedang menyunting semua tulisan2 saya untuk dibukukan sekarang ini, 
> > rasanya kita perlu mempertanyakan, atau menanyakan, apa yang telah berubah 
> > dengan tradisi dan budaya merantau kita itu sejauh ini.
> >      Saya mengajak Sdr2 sekalian untuk memberi pandangan dan komentar apa 
> > saja yag telah berubah dengan tradisi dan budaya merantau itu. Tulisan itu 
> > saya lampirkan bersama ini.
> >      Silahkan. Disertai salam saya sekeluarga,
> >  
> > Mochtar Naim 
>
> >  860708 1 ARTI MERANTAU SEKARANG.doc
> > 70KViewDownload
>
> --

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke