HALLO GEBUMIN 2011-2016?! : Dinda Ephi Lintau (Buo) N.a.c.
Prelude tantang ABS-SBK nan alah ambo baco di bawah ko, sabananyo alah sabana jaleh, tageh dan segeh disampaikan dalam buku nan ditabikkan dek Gebu Minang, Jakarta. Kutiko Pak Saaf manjadi salah saurang pambaok kaba dalam Minangkabau Expo di JCC (16/9/11), baliau mambarikan buku nantun bake babarapo urang nan hadir di Balai Sidang ukatu tu. Ambo jo Sanak ZulTan nan hadir, lai kabagian buku tu. Kalau sajo Dinda Ephi alun dapek atau (sangaik) baminaik ka buku nantun, rancak malah dimintak ka bakeh Dubalang (Pak Saaf) barang ciek buku. Karano kami pun di JCC malam tu dapek perai, tantu "salah satu putra terbaik Lintaubuo" ko juo mandapek hal yang samo. Namo bukunyo : "Pedoman Pengamalan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru" (PPABSSBKSMAMATJG), taba : x, 219 hlm, 14 X 20,5 cm. Alamaik Sekretariat Nan Manabikan : Jl. Kayumanis I No.24, Jakarta 13130. Telp/ Fax. 021.85903567; 08128220321. Karano baitu rancak dan bagunonyo buku PPABSSBKSMAMATJG nan bakulik hijau mudo kakuniang-kuniangan ko, ambo raso ado rancaknyo pihak Gebumin (2011-2016) mulailah bakarajo sacaro tarencana dan bakataruihan. Buku PPABSSBKSMAMATJG ko, sarancaknyo didistribusikan ka saluruah urang minang di dunia malalui alam maya dalam bantuak "electron book". Di sampiang tu, indak baa doh sabalun abihnyo tahun 2011 awak lalui, buku nantun alah manyebar lintas lini dalam komunitas r@ntau-net ko. Karano ambo hanyo punyo ide, indak tahu ka sia awak kabaiyo atau basakato untuak mansosialisasikan buku rancak nan banamo "Pedoman Pengamalan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru" ko, hanyo via surek listrik di r@ntau-net ko lah mungkin cakak ka babaleh atau gayuang ka basambuik. Nan ambo mintak bukan L-3 (El Tigo), yaitu : "Lagi-lagi lu" (jalehnyo : lagi-lagi Pak Saaf; lagi-lagi Pak Saaf nan manindaklanjuti.....!!!). Kalau sarupo El Tigo ko alam takambang manjadi guru dibuktikan urang awak di ateh dunia (4,3 juta di Sumbar, 4,3 juta di parantauan DN/LN), apo gunonyo 521 urang cadiak & pandai nan ado dalam kepengurusan Gebumin 2011-2016??? Antahlah... Antahlahhhhhh Antahhhllllaaaaaaaahhhh. Salam dan maaf, mm*** Lk-2; >50th; Bks suku : Koto Dtk Tumanggung gala : Sutan Rangkayo Kaciek ________________________________ From: Ephi Lintau <[email protected]> To: RantauNet <[email protected]>; "RICKY, DDW-P" <[email protected]> Sent: Monday, October 31, 2011 6:32 PM Subject: [R@ntau-Net] artikel menarik tentang Adat Basyandi Syara' Syara' Basandi Kitabullah.. Assalamualaikum wr wb.. Mamk, bundo, bpk/ibu, uda/uni/adiak...sidang palanta RN nan ambo banggakan... iko ado artikel menarik ttg ABS SBK... http://lintaubuoutara.tanahdatar.go.id/?p=466 Jangan pernah mengaku sebagai orang Minangkabau jika belum pernah mendengar pepatah adat ini. Walaupun tidak paham betul apa maksud dan sejarahnya, sekurang-kurangnya sebagai urang awak ungkapan pepatah adat ini pernah ia dengar dalam tutur cerita mamak, nenek atau orang tuanya. Jika para mamak, nenek dan orang tua masih juga lalai untuk menceritakan pepatah adat ini, sekurang-kurangnya para pembaca yang budiman sudah sah menjadi atau mengaku sebagai orang Minangkabau dengan membaca artikel singkat ini. Sebelum kita ceritakan panjang lebar tentang pepatah adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah, baiknya kita sedikit mengetahui latar belakang penulisan artikel ini. Secara tidak sengaja kami sempat berbicara melalui telepon dengan seorang teman yang belum pernah dijumpai, tapi hanya kenal melalui facebook. Teman itu sangat berantusias menceritakan bagaimana pepatah adat tersebut sudah menjadi bahan pembicaraan hangat di banyak kalangan dan media, termasuk internet karena jaman sudah canggih. Kuatir saja jika lapau Uni Li di Simpang Ustano, yang dulu sering dikunjungi oleh para juru debat dan hota kampueng akan segera sepi karena media diskusi adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah sudah pindah tempat. Bahkan para peserta debat itu konon kabarnya sudah tidak lagi dari kalangan petani atau tukang bendi. Mereka yang terlibat adu argumentasi tersebut adalah para intelektual Minangkabau yang telah lama merantau di perantauan. Jujur semua pasti akan bangga sekali mendengar ceritanya di mana ternyata masih ada kecintaan mereka terhadap adat istiadat Minangkabau, walau mungkin ada peserta debat yang belum pernah melihat seperti apa ranah Minangkabau. Debat dan adu argumentasi tetang pepatah adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah tersebut, kabarnya sudah mengeluarkan sebuah petunjuk pelaksana tentang bagaimana penerapan pepatah ini dalam kehidupan masyarakat hukum adat Minangkabau. Ada yang menuntut agar 99,99% adat Minangkabau ikut ketentuan Hukum Islam. Ada juga yang berpendapat jika adat Minangkabau, tetap menjalankan hukum waris matrilinealnya. Bahkan ada yang sampai mengklaim jika pepatah adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah pernah dituangkan ke dalam piagam oleh para perwakilan kaum adat dan kaum agama di Bukit Marapalam dahulunya. Kesimpulannya semua tetap teguh dengan pendapat masing-masing, begitulah cerita sang teman beberapa hari yang lalu. Pepatah adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah akan tetap menjadi bahan perdebatan jika tidak dicoba untuk dipahami kesejarahannya, selanjutnya diteliti kembali bunyi teks lengkap pepatah adat itu. Bisa jadi debat tersebut lahir karena kesalahpahaman tentang sejarahnya dan penafsiran dari teks lengkap pepatah adat itu. Kedua penyebab perbedaan pendapat tersebut akan terus berkelanjutan dan tiada akan berkesudahan, jika para tokoh agama, ahli adat dan sejarah tidak segera mendudukkan hal ini dengan melibatkan pemerintah, ahli hukum atau pihak-pihak lain yang mampu memberikan legitimasi terhadap pepatah tersebut. Namun sebagai sedikit kenangan dari orang yang pernah mendengar hota-hota kampueng di lapau Uni Li, perkenankanlah artikel ini diturunkan sebagai ganti colok dengan asah buat kita semua tentang pepatah adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah. Selama ini kita hanya sering mendegar teks pepatah itu berbunyi “adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah”. Itu saja dan jarang kita dengar ada tambahan yang lain sehingga terdengar mentereng, tapi penuh dengan misteri dan multi tafsir. Pada kesempatan lain, di beberapa buku yang pernah dibaca, jika penulis buku tersebut sedikit rajin, maka akan ada tambahan kalimat “syara’ mangato – adat mamakai”. Lengkapnya kalimat pepatah adat tadi akan berbunyi “adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah, syara’ mangato – adat mamakai”, sehingga penafsirannya seolah-olah adat Minangkabau itu adalah sama persis dengan Syari’ah Islam, seperti yang didebatkan oleh banyak orang sekarang. Dari debat hingga pengkajian ilmiah, pepatah adat tersebut telah menggulirkan banyak pendapat. Mulai segala macam cerita sejarah di jaman Tuanku Nan Renceh sampai dengan dengan masa Syekh Ahmad Khatib dan akhirnya lahir kesimpulan jika pepatah adat tadi menjadi pemicu pertengkaran antara kaum adat dan kaum agama di masa perang paderi. Bisa dikatakan jika pepatah adat tadi sangat mendukung pendapat Belanda tentang sebab musabab perang paderi. Tapi sebelum kita terburu-buru untuk mendukung pendapat Belanda, ada baiknya jika debat dan hota kampueng di lapau Uni Li yang masih menyisakan satu baris bidal adat lagi dilengkapi. Dalam debat-debat yang mengangkat topik ini, belum pernah didengar pembacaan baris bidalnya selengkap yang dibahas orang kampung di lapau Uni Li, tepatnya sidang hota-hota adat di Simpang Ustano yang berada dalam wilayah Nagari Buo yang dikenal dengan baik sebagai nagari Rajo Adat. Inilah bunyi pepatah adat versi ketiga yang pernah didengar di Nagari Buo juga nagari-nagari lainnya di Minangkabau, sehingga pepatah adatnya harus dibaca sebagai berikut: adat basandi syara’ – syara’ basandi kitabullah, syara’ mangato – adat mamakai, dalam syara’ batilanjang – dalam adat basisampieng. lengkapnya di : http://lintaubuoutara.tanahdatar.go.id/?p=466 email penulisnya : "RICKY, DDW-P" <[email protected]> semoga bermanfaat. salam -- =========== Salam Hormat ========== Yuhefizar a.k.a Ephi Lintau | Laki2 | 35 th www.ephi.web.id http://blog.ephi.web.id Kumpulan Buku Saya : http://blog.ephi.web.id/?page_id=275 FB : www.facebook.com/yuhefizar e-Mail : [email protected] Handphone : 0812 677 7956 ================================ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
