terima kasih sudah menyebarkan kolom saya yang sederhana ini pak
muchwardi.selepas pengumuman oleh presiden pada selasa 8/11, saya
ditelpon redaksi kompas untuk menulis kolom ini.
kemarin pagi, sekitar jam 6.30 WIB, sebelum saya dan teh icah (aisyah
prawiranegara, putri sulung pak sjaf, 69 tahun) berbincang di acara pagi
kompas tv, teh icah menangis di depan para news producer kompas tv,
seperti masih tak percaya ayahanda "dipulihkan" namanya dengan
penganugerahan gelar pahlawan nasional ini.
dengan emosional, dan terus menangis, teh icah menunjuk ke arah saya.
lalu katanya kepada para jurnalis kompas, "ini semua dari ide akmal
waktu tahun lalu ke rumah kami minta izin menulis novel tentang ayah.
kami sekeluarga tadinya sudah ikhlas dan tak pernah berharap lagi ayah
akan dapat gelar pahlawan nasional ini," katanya.
petang hari setelah pengumuman hari selasa di istana itu, saya sempat
bertukar kabar dengan dr. asvi warman, kami sepakat, gelar pahlawan
nasional ini baru langkah awal. setelah ini kami masih akan terus
berupaya agar pak sjaf diakui secara resmi sebagai salah seorang
presiden negeri ini, meski dengan sebutan "presiden darurat" (seperti
sebutan bung hatta dalam memoir-nya), atau "presiden pdri".
semoga pak muchwardi dan para ayahanda, ibunda, kakanda dan adinda di
milis terpelajar ini juga ikut membantu sesuai dengan kompetensi dan
bidang kerja masing-masing.
salam,
@akmal_n_basral
* * *

--- In [email protected], muchwardi muchtar <muchwardi@...>
wrote:
>
> .
>
http://content.kompas.realviewusa.com/djvu/Kompas/Kompas/10-Nov-2011/web\
images/page0000007_large.png?h=8831efefe8c859775994a7ecc3dbef58
>
> Meninggal 1989, diakui sebagai pahlawan nasional 2011.
> Politik oh politik…!!!!
>
> Salam............,
> mm***
>
>
> Kamis,
> 10 November 2011
> Tragedi Pak Sjaf dan Etika Pejabat
> AKMAL NASERY BASRAL
> Show me a hero,
> and I will write you a tragedy.
> - F Scott Fitzgerald(1896-1940)
> Hal menggembirakan
> dari penganugerahan status pahlawan nasional oleh Presiden Susilo
Bambang
> Yudhoyono, awal pekan ini, adalah diputuskannya Mr Sjafruddin
Prawiranegara
> (1911-1989) sebagai salah seorang dari tujuh nama penerima gelar.
> Pak Sjaf, panggilan
> akrab Sjafruddin Prawiranegara, adalah sosok kontroversial yang lima
dekade
> lebih dikerdilkan namanya dengan menyematkan kesan pemberontak.
Labelisasi yang
> dilakukan Orde Lama dan Orde Baru itu tersebab dua hal: perannya
sebagai
> Perdana Menteri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang
> menantang langsung Soekarno pada 1958-1961 dan sebagai salah satu
penanda
> tangan Petisi 50 yang mengecam Soeharto pada 1980.
> Dua peristiwa itu
> menjadi stigma yang terus dilestarikan. Akibatnya, hampir tak terlacak
bahwa
> Pak Sjaf pernah menempati banyak posisi kunci pemerintahan. Sebutlah
Menteri
> Keuangan, Menteri Kemakmuran, Ketua Pemerintah Darurat Republik
Indonesia
> (PDRI), Presiden De Javasche Bank (sebelum dinasionalisasi jadi Bank
Indonesia
> dan Pak Sjaf sebagai gubernur pertama), atau Wakil Perdana Menteri.
Lebih tak
> terlacak lagi, di setiap jabatan itu Pak Sjaf menunjukkan standar
etika yang
> menjadi antitesis sempurna dari adagium pesimistik Lord Acton:
kekuasaan
> cenderung korup!
>
> Tiga suri teladan
> Ada sedikitnya tiga
> contoh tindakan Pak Sjaf yang patut diteladani para pejabat negeri
ini.
> Pertama, saat lelaki kelahiran Anyar Kidul, Banten, itu ditunjuk
sebagai
> Menteri Keuangan dalam Kabinet Sjahrir ke-3. Ketika itu, dalam usia 35
tahun,
> ia dianugerahi Tuhan anak ketiga: Chalid Prawiranegara.
> Pasti sulit dipahami
> dari kacamata sekarang jika Menteri Keuangan tak punya uang. Namun,
itulah yang
> terjadi pada keluarga Prawiranegara. Begitu buruknya kondisi finansial
Sang
> Menteri sehingga tak mampu membeli kain gurita bagi bayi Chalid.
Untungnya,
> Lily—nama panggilan Tengku Halimah, istri Pak Sjaf—tak
kehilangan akal. Seperti
> dikutip Ajip Rosidi dalam biografi tentang Pak Sjaf, Lebih Takut
kepada Allah
> SWT (1985), Lily menyobek kain kasur, lalu ia jadikan gurita bayi.
Padahal,
> seberapa mahalkah secarik kain jika seorang Menteri Keuangan ingin
menggunakan
> pengaruhnya? Pak Sjaf tak tergoda menggunakan sepeser pun uang negara.
> Peristiwa kedua
> terjadi ketika Agresi Militer II Belanda, 19 Desember 1948. Pak Sjaf
yang saat
> itu Menteri Kemakmuran sudah sebulan bertugas di Bukittinggi atas
perintah
> Wakil Presiden Mohammad Hatta. Patut diingat, waktu itu yang disebut
daerah
> republik hanya tiga tempat: Yogyakarta, Bukittinggi, dan Kutaraja
(kini Banda
> Aceh). Daerah lain sudah bergabung ke dalam BFO (Bijeenkomst Federaal
> Overleg/Musyawarah Negara Federal) bentukan Van Mook. Awalnya Hatta
menjamin
> kepada Lily bahwa Pak Sjaf hanya akan bertugas sekitar satu pekan.
>
> Saat Agresi II
> bermuara pada penangkapan dan pengasingan Bung Karno, Bung Hatta, Bung
Sjahrir,
> serta banyak pemimpin republik ke Bangka, rapat kabinet dadakan yang
sempat
> dipimpin Bung Karno menghasilkan dua radiogram. Pertama, penyerahan
mandat
> untuk menjalankan Republik Darurat di Sumatera kepada Mr Sjafruddin
> Prawiranegara. Kedua, penyerahan mandat kepada Dr Sudarsono (Duta
Besar
> Indonesia di India) dan Mr AA Maramis (Menteri Keuangan yang sedang di
New
> Delhi) untuk membentuk Exile Government sekiranya upaya Pak Sjaf
membentuk
> pemerintah darurat tidak berhasil. Namun, kedua radiogram itu tak
sempat
> dikirimkan kepada penerima mandat karena Kantor Pos, Telegraf dan
Telepon (PTT)
> telanjur diduduki Belanda. Kisah selanjutnya tentang PDRI sudah
ditulis banyak
> sejarawan.
> Namun, yang tak banyak
> diketahui publik adalah pengakuan Aisyah Prawiranegara, putri sulung
Pak Sjaf.
> Untuk mengatasi saat-saat sulit tanpa kepala keluarga pemberi nafkah
selama
> itu, Lily sebagai istri menteri memilih berjualan sukun goreng untuk
menghidupi
> keluarganya ketimbang terima bantuan, misalnya "titipan keju"
dari Merle
> Cochran (diplomat AS, Ketua Komisi Tiga Negara) yang disampaikan para
ibu
> menteri non-PDRI.
> Peristiwa ketiga
> terjadi setelah Perjanjian Roem-Roijen (Mei 1949) yang membuat kubu
republik
> terpecah dua kelompok: kubu Tracee Bangka, sebutan bagi tahanan
politik di
> Bangka yang bersedia berunding dengan Belanda melalui Mohammad Roem,
dan kubu
> PDRI dengan dukungan Panglima Besar APRI Letnan Jenderal Sudirman yang
menolak
> Perjanjian Roem-Roijen.
>
> Sudirman bahkan
> mengirimkan surat sangat keras: "...Minta keterangan apakah
orang-orang yang
> masih ditahan atau dalam pengawasan Belanda berhak berunding?
Lebih-lebih
> menentukan sesuatu yang berhubungan dengan politik untuk menentukan
status
> negara, sedangkan telah ada Pemerintah Pusat Darurat yang diresmikan
sendiri
> oleh Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno ke seluruh dunia pada tanggal
> 19/12/1948."
> Awal Juli 1949, M
> Natsir yang dikirim Bung Hatta untuk melunakkan hati kubu PDRI
mengatakan ia
> sependapat dengan PDRI. Namun, ia berharap Pak Sjaf bersedia
mengembalikan
> mandat PDRI kepada Soekarno-Hatta. Tawaran Natsir ditolak semua
anggota PDRI.
> Akhirnya Pak Sjaf
> sendiri yang melunakkan hati kawan-kawannya dengan menyatakan, jika
PDRI dan
> APRI tetap mempertahankan pendirian secara kaku berdasarkan mandat
belaka, maka
> terjadi dualisme kepemimpinan nasional yang membingungkan rakyat dan
mengancam
> persatuan. Oleh karena itu, meski PDRI tetap menolak Perjanjian
Roem-Roijen, ia
> bersedia mengembalikan mandat kepada Soekarno-Hatta "untuk
menegakkan
> kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia serta demi persatuan nasional
atas dasar
> rida Allah". Argumentasi itu membuat Natsir menangis dan anggota
kubu PDRI cair
> hatinya.
>
> Moralitas bernegara
> Dengan moralitas
> bernegara setinggi itu, gelar pahlawan nasional bukan hanya layak
diberikan
> kepada Pak Sjaf, melainkan baru langkah awal untuk pengakuan lebih
resmi
> sebagai salah seorang presiden negeri ini. Sebab,Bung Hatta sendiri
dalam
> otobiografinya, Memoir (1971, cetak ulang 2011 dengan judul Untuk
Negeriku:
> Sebuah Otobiografi), memberikan judul pada salah satu anak bab dengan
"Sudirman
> Terus Bergerilya, Sjafruddin Presiden Darurat" (hal 197). Akankah
para penentu
> kebijakan belum juga tersentuh nuraninya dengan kesaksian Bung Hatta
yang tak
> diragukan lagi sebagai salah seorang pelaku sejarah paling absah di
negeri ini?
> Dalam konteks ini,
> sepanjang wacana tentang peran Pak Sjaf hanya berputar-putar pada
dimensi hukum
> formal apakah sebutan Ketua PDRI itu sebuah jabatan politik pada
tingkat
> perdana menteri atau presiden seperti berlangsung selama ini, pada
hakikatnya
> belenggu tragedi masih terus dipasangkan pada leher Pak Sjaf, seperti
> sinyalemen penulis besar F Scott Fitzgeral pada awal tulisan.
> Akmal Nasery BasralSosiolog; Penulis
> Novel Presiden Prawiranegara
>
> .
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur
pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke