Alhamdulillah. Terima kasih Angku Akmal N. Basral melukiskan latar belakang 
penulisannya. Mengungkapkan kebenaran merupakan jalan berat berliku. Namun ada 
pengangan kita, Petunjuk Ilahi Rabbi, "wataktumul haqqa wa antum ta'lamuun." 
(QS 2:42).

Esensi ini mengenangkan saya kepada Sjair "Daftar" Pak Mohammad Natsir 
diarahkan sebagai kenangan balik kepada Buya Hamka yang sama-sama sharing 
ungkapan, kira-kira seingat saya, "Walau bersilang pedang di lehermu, yang 
benar tegakkan juga!" Sjair Pak Imam -- begitu julukan, panggilan kami kepada 
Pak Natsir -- beliau tulis di dekat saya di "Tempat" dan saya broadcastkan 
dengan suara sendiri melalui Gelombang 58 Meter di Hutan Belantara dalam bulan 
Maret 1959.

Walaupun saya berjumpa hanya sekali dengan Pak Sjafruddin Prawiranegara di 
"Tempat" lebih dari setengah abad yang lalu, dalam bulan Juli 1958, namun saya 
tak sangsi bahwa di suatu masa beliau akan dikenal sebagai Pahlawan Nasional... 

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
di Tapi riak nan Badabua
Santa Cruz, California 
November 11, 2011

--- In [email protected], "Akmal N. Basral" <anb99@...> wrote:
>
> 
> terima kasih sudah menyebarkan kolom saya yang sederhana ini pak
> muchwardi.selepas pengumuman oleh presiden pada selasa 8/11, saya
> ditelpon redaksi kompas untuk menulis kolom ini.
> kemarin pagi, sekitar jam 6.30 WIB, sebelum saya dan teh icah (aisyah
> prawiranegara, putri sulung pak sjaf, 69 tahun) berbincang di acara pagi
> kompas tv, teh icah menangis di depan para news producer kompas tv,
> seperti masih tak percaya ayahanda "dipulihkan" namanya dengan
> penganugerahan gelar pahlawan nasional ini.
> dengan emosional, dan terus menangis, teh icah menunjuk ke arah saya.
> lalu katanya kepada para jurnalis kompas, "ini semua dari ide akmal
> waktu tahun lalu ke rumah kami minta izin menulis novel tentang ayah.
> kami sekeluarga tadinya sudah ikhlas dan tak pernah berharap lagi ayah
> akan dapat gelar pahlawan nasional ini," katanya.
> petang hari setelah pengumuman hari selasa di istana itu, saya sempat
> bertukar kabar dengan dr. asvi warman, kami sepakat, gelar pahlawan
> nasional ini baru langkah awal. setelah ini kami masih akan terus
> berupaya agar pak sjaf diakui secara resmi sebagai salah seorang
> presiden negeri ini, meski dengan sebutan "presiden darurat" (seperti
> sebutan bung hatta dalam memoir-nya), atau "presiden pdri".
> semoga pak muchwardi dan para ayahanda, ibunda, kakanda dan adinda di
> milis terpelajar ini juga ikut membantu sesuai dengan kompetensi dan
> bidang kerja masing-masing.
> salam,
> @akmal_n_basral
> * * *
> 
> --- In [email protected], muchwardi muchtar <muchwardi@>
> wrote:
> >
> > .
> >
> http://content.kompas.realviewusa.com/djvu/Kompas/Kompas/10-Nov-2011/web\
> images/page0000007_large.png?h=8831efefe8c859775994a7ecc3dbef58
> >
> > Meninggal 1989, diakui sebagai pahlawan nasional 2011.
> > Politik oh politik…!!!!
> >
> > Salam............,
> > mm***
> >
> >
> > Kamis,
> > 10 November 2011
> > Tragedi Pak Sjaf dan Etika Pejabat
> > AKMAL NASERY BASRAL
> > Show me a hero,
> > and I will write you a tragedy.
> > - F Scott Fitzgerald(1896-1940)
> > Hal menggembirakan
> > dari penganugerahan status pahlawan nasional oleh Presiden Susilo
> Bambang
> > Yudhoyono, awal pekan ini, adalah diputuskannya Mr Sjafruddin
> Prawiranegara
> > (1911-1989) sebagai salah seorang dari tujuh nama penerima gelar.
> > Pak Sjaf, panggilan
> > akrab Sjafruddin Prawiranegara, adalah sosok kontroversial yang lima
> dekade
> > lebih dikerdilkan namanya dengan menyematkan kesan pemberontak.
> Labelisasi yang
> > dilakukan Orde Lama dan Orde Baru itu tersebab dua hal: perannya
> sebagai
> > Perdana Menteri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang
> > menantang langsung Soekarno pada 1958-1961 dan sebagai salah satu
> penanda
> > tangan Petisi 50 yang mengecam Soeharto pada 1980.
> > Dua peristiwa itu
> > menjadi stigma yang terus dilestarikan. Akibatnya, hampir tak terlacak
> bahwa
> > Pak Sjaf pernah menempati banyak posisi kunci pemerintahan. Sebutlah
> Menteri
> > Keuangan, Menteri Kemakmuran, Ketua Pemerintah Darurat Republik
> Indonesia
> > (PDRI), Presiden De Javasche Bank (sebelum dinasionalisasi jadi Bank
> Indonesia
> > dan Pak Sjaf sebagai gubernur pertama), atau Wakil Perdana Menteri.
> Lebih tak
> > terlacak lagi, di setiap jabatan itu Pak Sjaf menunjukkan standar
> etika yang
> > menjadi antitesis sempurna dari adagium pesimistik Lord Acton:
> kekuasaan
> > cenderung korup!
> >
> > Tiga suri teladan
> > Ada sedikitnya tiga
> > contoh tindakan Pak Sjaf yang patut diteladani para pejabat negeri
> ini.
> > Pertama, saat lelaki kelahiran Anyar Kidul, Banten, itu ditunjuk
> sebagai
> > Menteri Keuangan dalam Kabinet Sjahrir ke-3. Ketika itu, dalam usia 35
> tahun,
> > ia dianugerahi Tuhan anak ketiga: Chalid Prawiranegara.
> > Pasti sulit dipahami
> > dari kacamata sekarang jika Menteri Keuangan tak punya uang. Namun,
> itulah yang
> > terjadi pada keluarga Prawiranegara. Begitu buruknya kondisi finansial
> Sang
> > Menteri sehingga tak mampu membeli kain gurita bagi bayi Chalid.
> Untungnya,
> > Lily—nama panggilan Tengku Halimah, istri Pak Sjaf—tak
> kehilangan akal. Seperti
> > dikutip Ajip Rosidi dalam biografi tentang Pak Sjaf, Lebih Takut
> kepada Allah
> > SWT (1985), Lily menyobek kain kasur, lalu ia jadikan gurita bayi.
> Padahal,
> > seberapa mahalkah secarik kain jika seorang Menteri Keuangan ingin
> menggunakan
> > pengaruhnya? Pak Sjaf tak tergoda menggunakan sepeser pun uang negara.
> > Peristiwa kedua
> > terjadi ketika Agresi Militer II Belanda, 19 Desember 1948. Pak Sjaf
> yang saat
> > itu Menteri Kemakmuran sudah sebulan bertugas di Bukittinggi atas
> perintah
> > Wakil Presiden Mohammad Hatta. Patut diingat, waktu itu yang disebut
> daerah
> > republik hanya tiga tempat: Yogyakarta, Bukittinggi, dan Kutaraja
> (kini Banda
> > Aceh). Daerah lain sudah bergabung ke dalam BFO (Bijeenkomst Federaal
> > Overleg/Musyawarah Negara Federal) bentukan Van Mook. Awalnya Hatta
> menjamin
> > kepada Lily bahwa Pak Sjaf hanya akan bertugas sekitar satu pekan.
> >
> > Saat Agresi II
> > bermuara pada penangkapan dan pengasingan Bung Karno, Bung Hatta, Bung
> Sjahrir,
> > serta banyak pemimpin republik ke Bangka, rapat kabinet dadakan yang
> sempat
> > dipimpin Bung Karno menghasilkan dua radiogram. Pertama, penyerahan
> mandat
> > untuk menjalankan Republik Darurat di Sumatera kepada Mr Sjafruddin
> > Prawiranegara. Kedua, penyerahan mandat kepada Dr Sudarsono (Duta
> Besar
> > Indonesia di India) dan Mr AA Maramis (Menteri Keuangan yang sedang di
> New
> > Delhi) untuk membentuk Exile Government sekiranya upaya Pak Sjaf
> membentuk
> > pemerintah darurat tidak berhasil. Namun, kedua radiogram itu tak
> sempat
> > dikirimkan kepada penerima mandat karena Kantor Pos, Telegraf dan
> Telepon (PTT)
> > telanjur diduduki Belanda. Kisah selanjutnya tentang PDRI sudah
> ditulis banyak
> > sejarawan.
> > Namun, yang tak banyak
> > diketahui publik adalah pengakuan Aisyah Prawiranegara, putri sulung
> Pak Sjaf.
> > Untuk mengatasi saat-saat sulit tanpa kepala keluarga pemberi nafkah
> selama
> > itu, Lily sebagai istri menteri memilih berjualan sukun goreng untuk
> menghidupi
> > keluarganya ketimbang terima bantuan, misalnya "titipan keju"
> dari Merle
> > Cochran (diplomat AS, Ketua Komisi Tiga Negara) yang disampaikan para
> ibu
> > menteri non-PDRI.
> > Peristiwa ketiga
> > terjadi setelah Perjanjian Roem-Roijen (Mei 1949) yang membuat kubu
> republik
> > terpecah dua kelompok: kubu Tracee Bangka, sebutan bagi tahanan
> politik di
> > Bangka yang bersedia berunding dengan Belanda melalui Mohammad Roem,
> dan kubu
> > PDRI dengan dukungan Panglima Besar APRI Letnan Jenderal Sudirman yang
> menolak
> > Perjanjian Roem-Roijen.
> >
> > Sudirman bahkan
> > mengirimkan surat sangat keras: "...Minta keterangan apakah
> orang-orang yang
> > masih ditahan atau dalam pengawasan Belanda berhak berunding?
> Lebih-lebih
> > menentukan sesuatu yang berhubungan dengan politik untuk menentukan
> status
> > negara, sedangkan telah ada Pemerintah Pusat Darurat yang diresmikan
> sendiri
> > oleh Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno ke seluruh dunia pada tanggal
> > 19/12/1948."
> > Awal Juli 1949, M
> > Natsir yang dikirim Bung Hatta untuk melunakkan hati kubu PDRI
> mengatakan ia
> > sependapat dengan PDRI. Namun, ia berharap Pak Sjaf bersedia
> mengembalikan
> > mandat PDRI kepada Soekarno-Hatta. Tawaran Natsir ditolak semua
> anggota PDRI.
> > Akhirnya Pak Sjaf
> > sendiri yang melunakkan hati kawan-kawannya dengan menyatakan, jika
> PDRI dan
> > APRI tetap mempertahankan pendirian secara kaku berdasarkan mandat
> belaka, maka
> > terjadi dualisme kepemimpinan nasional yang membingungkan rakyat dan
> mengancam
> > persatuan. Oleh karena itu, meski PDRI tetap menolak Perjanjian
> Roem-Roijen, ia
> > bersedia mengembalikan mandat kepada Soekarno-Hatta "untuk
> menegakkan
> > kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia serta demi persatuan nasional
> atas dasar
> > rida Allah". Argumentasi itu membuat Natsir menangis dan anggota
> kubu PDRI cair
> > hatinya.
> >
> > Moralitas bernegara
> > Dengan moralitas
> > bernegara setinggi itu, gelar pahlawan nasional bukan hanya layak
> diberikan
> > kepada Pak Sjaf, melainkan baru langkah awal untuk pengakuan lebih
> resmi
> > sebagai salah seorang presiden negeri ini. Sebab,Bung Hatta sendiri
> dalam
> > otobiografinya, Memoir (1971, cetak ulang 2011 dengan judul Untuk
> Negeriku:
> > Sebuah Otobiografi), memberikan judul pada salah satu anak bab dengan
> "Sudirman
> > Terus Bergerilya, Sjafruddin Presiden Darurat" (hal 197). Akankah
> para penentu
> > kebijakan belum juga tersentuh nuraninya dengan kesaksian Bung Hatta
> yang tak
> > diragukan lagi sebagai salah seorang pelaku sejarah paling absah di
> negeri ini?
> > Dalam konteks ini,
> > sepanjang wacana tentang peran Pak Sjaf hanya berputar-putar pada
> dimensi hukum
> > formal apakah sebutan Ketua PDRI itu sebuah jabatan politik pada
> tingkat
> > perdana menteri atau presiden seperti berlangsung selama ini, pada
> hakikatnya
> > belenggu tragedi masih terus dipasangkan pada leher Pak Sjaf, seperti
> > sinyalemen penulis besar F Scott Fitzgeral pada awal tulisan.
> > Akmal Nasery BasralSosiolog; Penulis
> > Novel Presiden Prawiranegara


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke