Mr Syafruddin Prawiranegara Keturunan Sutan Alam Intan Padang Ekspres • Senin, 12/12/2011 11:39 WIB • Sutan zaili asril—Padang • 16 klik Kenapa kita di Provinsi Sumatera Barat menandai pemberian gelar Pahlawan Nasional (9 November 2011) kepada (alm) Mr Syafruddin Prawiranegara?
Menjawab pertanyaan usil tersebut, menurut saya, setidaknya ada tiga alasan yang dapat dikemukakan: kesatu, alasan idiologis; kedua, keberadaan dan perjuangannya secara praktis di wilayah Provinsi Sumatera Tengah—sekarang Provinsi Sumatera Barat, dan alasan biologis-sosiologis. Secara idiologis pula ada dua dimensi. Pertama, perjuangan kemerdekaan/perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Mr Syafruddin Prawiranegara. Termasuk, yang paling monumental, adalah membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, (saat itu) Provinsi Sumatera Tengah setelah ibu kota negara Republik Indonesia Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, dan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditahan dan dibuang ke Pulau Bangka. Kedua, adalah posisi Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)—yang kemudian berbuntut panjang dan seakan menafikan jasa-jasanya yang besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Alasan kedua, keberadaan dan perjuangan Mr Syafruddin Prawiranegara yang secara praktis cukup lama berada di Sumatera Tengah sehingga masyarakat Sumatera Tengah—khususnya yang kini termasuk wilayah Provinsi Sumatera Barat sangat mengenal dekat Mr Syafruddin Prawiranegara, seakan ia adalah salah seorang putra terbaik/anak-kemenakan daerah ini. Ketika Syafruddin selaku Menteri Kemakmuran berada di daerah Sumatera Barat, mengetahui pemerintahan Bung Karno-Hatta di Yogyakarta jatuh, dan untuk menjaga kesinambungan Republik Indonesia, ia mengambil prakarsa membentuk PDRI (19 Desember 1949) dan ia sendiri menjadi ketua/presidennya. Walaupun hanya berkuasa selama 207 hari, sudah cukup mementahkan upaya jahat dari Belanda yang mengatakan di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada. Karena itu, ia disebut ”penyelamat Republik”. Tanggal pembentukan PDRI, pada 19 Desember 1948, kemudian, atas usul masyarakat/Gubernur Sumatera Barat H Gamawan Fauzi Dahlan Dt Rajo Nan Sati SH MM dinyatakan oleh pemerintah sebagai Hari Bela Negara yang sekaligus pengakuan terhadap PDRI sebagai potongan terpenting sejarah kemerdekaan Indonesia—walau belum sepenuhnya mengakui peran sejarah Syafruddin Prawiranegara. Alasan ketiga, secara biologis-sosiologis, Syafruddin Prawiranegara adalah seorang keturunan biologis Pagaruyung. Adalah Sutan Alam Intan, seorang pembesar kerajaan Pagaruyung yang terlibat Perang Paderi, ditangkap dan dibuang Belanda ke Banten. Di Banten, ia menikahi perempuan bangsawan Banten, melahirkan kakeknya, dan kemudian lahir ayahnya, Raden Arsjad Prawiraatmadja, keturunan Sultan Banten, dan kemudian jadi jaksa pemerintah Hindia Belanda. Raden Arsyad menikah dengan Nur Aini binti Mas Abidin Mangundiwirya, anak pejabat pangrehpraja Banten. Dari pasangan suami istri Raden Arsyad-Nuraini lahir Kuding alias Syafruddin Prawiranegara. Di dalam diri Syafruddin mengalir darah pejuang. Tidak hanya kakeknya yang melawan Belanda, saat ia berumur 12 tahun, ayahnya yang seorang jaksa dibuang ke Kediri Jawa Timur, karena dianggap memihak pribumi. Sebagai pejabat pemerintah Belanda, Raden Arsyad menolak duduk bersila di lantai saat memberi laporan pada pejabat Belanda. Duduk bersila/memakai bahasa Sunda halus di saat itu sudah menjadi aturan baku bagi para pejabat pribumi apabila berhadapan dengan penguasa Belanda.Arsjad menentangnya. Pada saat ayahnya dibuang ke Kediri, Syafruddin mengikuti ayahnya di pembuangan. Karena itu, ia tidak begitu dikenal di daerah Banten kelahirannya. Bahkan, Syafruddin Prawiranegara menimba ilmu keislaman bukan di Banten, tapi di Sumatera Barat. Masyarakat di (kini provinsi) Banten lebih mengenal Syafruddin sebagai seorang Minang. TOKOH Syafruddin Prawiranegara lahir di Anyer, Kidul, Serang, 28 Februari 1911 dan meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989. Ia adalah seorang pejuang kemerdekaan RI yang menjabat sebagai presiden/ketua PDRI merangkap Menteri Pertahanan dan Menteri Penerangan dan Menteri Urusan Luar Negeri manakala pemerintahan RI di Yogyakarta dikuasai Belanda setelah agresi militer yang kedua, 19 Desember 1948. Ketika itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta diasingkan di Pulau Bangka. Ketika ayahnya, Raden Arsyad, dibuang Belanda ke Jawa Timur, Syafruddin mengikuti ayahnya dalam pembuangan. Syafruddin menempuh pendidikan Europeesche Lagere School (ELS)—setara sekolah dasar (1925), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)—setara sekolah menengah pertama di Madiun (1928), dan Algemeene Middelbare School) (AMS)—yang setara dengan sekolah menengah atas di Bandung (1931), dan lulusan Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Hukum, kini Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Batavia (kini Jakarta), dan bergelar Meester in de Rechten. Mr Syafruddin Prawiranegara menjabat wakil perdana menteri, menteri keuangan, dan menteri kemakmuran. Ia menjadi wakil perdana menteri tahun 1946, menteri keuangan yang pertama tahun 1946, dan kenteri kemakmuran tahun 1947. Saat menjabat sebagai menteri kemakmuran, terjadi agresi militer kedua oleh Belanda. Ketika itu, sebagai menteri kemakmuran, Syafruddin Prawiranegara tengah berada di Sumatera Tengah atau Sumatera Barat sekarang. Menjaga kesinambungan pemerintahan Indonesia, Syafruddin Prawiranegara membentuk PDRI di Sumatera. Setelah menyerahkan kembali kekuasaan Pemerintah Darurat pada Presiden Soekarno, Syafruddin Prawiranegara menjabat wakil perdana menteri tahun 1949, lalu kemudian menteri keuangan tahun 1949-1950. Selaku menteri keuangan dalam Kabinet Hatta, di bulan Maret 1950, ia memotong uang bernilai Rp 5 lebih, sehingga separuh. Kebijakan moneternya dikritik dan dikenal dengan julukan ”Gunting Syafruddin”.Syafruddin menjadi Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama, tahun 1951. Sebelumnya, ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir, kelak namanya menjadi Bank Sentral Indonesia. (*) [ Red/Redaksi_ILS ] http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=18830 -- Wassalam Nofend/35 CKRG -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
