Buya Hamka dan Sikap Tegas Terhadap Kristenisasi

Jumat, 23/12/2011 13:15 WIB

Oleh: Artawijaya (Penulis adalah Editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID 
Mohammad Natsir Jakarta)

Dihadapan penguasa, Hamka bicara tegas menolak upaya-upaya Kristenisasi. Ia 
juga tegas melarang umat Islam mengikuti perayaan "Natal Bersama" yang 
menggunakan kedok toleransi.

Suatu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 1969, dua orang perwira 
Angkatan Darat datang menemui Buya Hamka. Keduanya membawa pesan dari Presiden 
Soeharto, agar Hamka bersedia memberikan khutbah Ied di Masjid Baiturrahim, 
komplek Istana Negara, Jakarta. Hamka terkejut, karena disamping permintaan 
tersebut mendadak, ia heran mengapa istana memilihnya menjadi khatib, padahal 
pada waktu itu ia dikenal sebagai ulama yang dalam setiap ceramahnya selalu 
tegas mengeritik upaya-upaya Kristenisasi. Maklum, pada masa-masa awal Orde 
Baru, gurita Kristenisasi mulai membangun jejaringnya. Baik di tingkat elit 
kekuasaan, maupun aksi-aksi di lapangan.

Atas saran dan dukungan umat Islam, Buya Hamka akhirnya bersedia memenuhi 
permintaan istana. Umat ketika itu berharap, ulama asli Minangkabau ini bisa 
menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada para pejabat, terutama dalam menyikapi 
maraknya Kristenisasi. Inilah kali pertama Hamka, seorang mantan anggota Partai 
Masyumi, berkhutbah di Istana. Dari atas mimbar, ulama yang juga sastrawan ini 
menguraikan tentang bagaimana toleransi dalam pandangan Islam. Islam sangat 
menghargai agama lain, dan tak akan pernah mengganggu akidah agama lain.

Di hadapan Presiden Soeharto dan para pejabat Orde Baru, Buya Hamka menegaskan 
secara lantang, "Tapi kalau ada usaha orang supaya kita berlapang dada, jangan 
fanatik, lalu tukarlah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu dengan tuhan 
yang maha tiga, atau berlapang dadalah dengan mengatakan bahwa Nabi kita adalah 
nabi palsu dan perampok di padang pasir, atau kepercayaan kita kepada empat 
kitab suci; Taurat, Zabur, dan Injil dan Al-Qur'an, lalu disuruh berlapang dada 
dengan mendustakan Al-Qur'an, maaf, seribu kali maaf, dalam hal ini kita tidak 
ada toleransi!" tegasnya.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka juga menyampaikan bahaya 
Kristenisasi ia sampaikan di mimbar-mimbar dakwah dan media massa. Melalui 
Majalah Panji Masyarakat, Buya Hamka membahas bahaya Kristenisasi, modernisasi 
dan sekularisasi. Dalam rubrik "Dari Hati ke Hati" yang dikelolanya, Buya Hamka 
juga menjelaskan soal prinsip toleransi dalam Islam.

Dalam setiap kesempatan khutbah, Buya Hamka yang prihatin dengan gurita 
kristenisasi yang sedang menggeliat ketika itu, bersuara lantang di hadapan 
umat agar mewaspadai sepak terjang kelompok Kristen yang berusaha memurtadkan 
kaum Muslimin. "Modernisasi bukan berarti westernisasi, dan bukan pula 
Kristenisasi," demikian ketegasan yang sering diulang-ulang oleh Hamka ketika 
ditanya para wartawan. Dalam setiap khutbah di Masjid Al-Azhar, Jakarta, Hamka 
juga menegaskan bahwa misi zending Kristen yang sedang bergeliat pada masa itu 
telah dirasuki dendam Perang Salib untuk menghabisi umat Islam. "Kristen lebih 
berbahaya dari Komunis," ujar Hamka.

Ketegasan Buya Hamka terhadap bahaya Kristenisasi kembali ia sampaikan di 
hadapan penguasa Orde Baru, ketika Buya menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama 
Indonesia (MUI). Dalam rapat dengan Presiden Soeharto pada 1975, Buya Hamka 
menerangkan di hadapan Presiden tentang fakta-fakta Kristenisasi yang bergeliat 
setiap hari di masyarakat, dengan berbagai bujukan dan iming-iming materi yang 
menggiurkan. Hamka juga menyampaikan keprihatinannya tentang berdirinya Rumah 
Sakit Baptis di Bukittinggi, sebagai upaya terang-terangan dalam mengkristenkan 
masyarakat minang lewat cara pengobatan. Kepada Presiden Soeharto, Hamka 
mengusulkan agar rumah sakit itu dibeli dan diambil alih pemerintah agar bisa 
dikelola dengan semestinya. Soeharto setuju dengan usulan tersebut, bahkan 
dengan terang-terangan menyatakan tidak sukanya pada Kristenisasi tersebut.

Sikap tegas Buya Hamka yang melegenda adalah ketika ia mengeluarkan fatwa haram 
perayaan natal bersama. Pada saat itu di lingkungan birokrat yang sudah 
dikuasai jejaring Kristen memang digagas acara "Natal Bersama". Buya sebagai 
Ketua MUI merasa perlu memberikan fatwa agar umat Islam tidak terjebak 
menggadaikan akidah hanya semata-mata takut dibilang tidak toleran. Saat 
berkhutbah di Masjid Al-Azhar, Buya Hamka mengingatkan kaum Muslimin, bahwa 
kafir hukumnya jika mereka mengikuti perayaan natal bersama "Natal adalah 
kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah 
akidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia 
melakukan perbuatan yang tergolong musyrik," terang Hamka. "Ingat dan katakan 
pada kawan yang tak hadir di sini, itulah akidah kita!" tegasnya di hadapan 
massa kaum Muslimin.

Keteguhannya dalam memegang fatwa haramnya natal bersama inilah yang kemudian 
membuatnya mengundurkan diri dari Ketua Majelis Ulama Indonesia. Tak berapa 
lama setelah fatwa itu dikeluarkan, pada 24 Juli 1981, Buya Hamka wafat 
menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allahyarham Mohammad Natsir, teman karib 
seperjuangan yang menyaksikan detik-detik wafatnya Buya Hamka kemudian 
memanjatkan doa tulus bagi seorang pejuang dan pengawal akidah umat.



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke