Pak Mochtar dan dunsanak sekalian di lapau, Maaf, ado tambahan sekaligus koreksian saketek dari postingan Ambo di bawah. Namo bank untuk orang miskin di Bangladesh tu tapeknyo: GRAMEEN BANK. Lengkpnyo liek: http://en.wikipedia.org/wiki/Grameen_Bank Wassalam, Suryadi
________________________________ Dari: Lies Suryadi <[email protected]> Kepada: Mochtar Naim <[email protected]>; firdaus hasan basri <[email protected]>; Emil Habli HasanNaim <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Ismet Fanany <[email protected]>; Laode Ida <[email protected]>; Taufiq Ismail <[email protected]>; amelia indrajaya <[email protected]>; irman gusman <1. Soal SDM. Menurut saya ini masalah cukup mendasar dalam pembangunan nagari. Kita tahu banyak generasi muda kita tidak minat jadi petani. Mereka lebih suka merantau, jualan kaus kaki dan pinjaik jo samek di jembatan2 penyebrangan, daripada jadi petani di kampuang. Ini mungkin disebabkan pula oleh kebijakan pemerintah yang memang selama ini kurang berpihak kepada petani. Kalau jadi petani tapi bisa beli mobil (seperti saya lihat di desa2 Malaysia, apalagi di Belanda), mungkin anak2 muda kita itu lebih mau tinggal di kampung mengolah sawah dan ladang. Bagaimana mengatasi masalah ini? Sementara basis pembangunan nagari jelas di sektor pertanian. Jalan keluar mungkin ada, misalnya: menggunakan teknologi dalam pengerjaan sawah/ladang (sehingga tenaga manusia dapat digantikan oleh mesin); mengundang orang luar menjadi pekerja (tapi ini tentu akan menambah biaya produksi pertanian, dan jangan2 menimbulkan dampak sosial pula). Silakan dunsanak di lapau mendiskusikan masalah ini. 2. Apa mungkin dalam pembangunan nagari dilakukan spesifikasi produksi? Maksud saya, setiap nagari mengkhususkan diri (atau paling tidak harus menonjol) dalam produksi barang tertentu. Katakanlah: Nagari A lebih fokus pada produksi barang kerajinan tertentu, Nagari B lebih fokus pada penanaman bawang merah; Nagari C lebih fokus pada penanaman cabe; Nagari D lebih fikus pada penanaman padi, dst. Apakah mungkin hal ini dilakukan? Dan apakah bermanfaat? Silakan juga didiskusikan di lapau kit aini. Itu dulu yang terlintas dalam pikiran saya setelah membaca artikel Pak Mochtar Naim. Mohon maaf kalau ado salah dan jangga. Wassalam, Suryadi . =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
