Salam Pak Mochtar, mamak2, kakak2, sarato dunsanak sekalian, Menarik membaca tulisan Pak Mochtar Naim yang berjudul 'MEMBANGUN SUMATERA BARAT DENGAN MEMBANGUN NAGARI SECARA INTEGRAL BERSINERGI'. Setelah membaca artikel itu, terlintas dalam pikiran saya beberapa hal. 1. Soal SDM. Menurut saya ini masalah cukup mendasar dalam pembangunan nagari. Kita tahu banyak generasi muda kita tidak minat jadi petani. Mereka lebih suka merantau, jualan kaus kaki dan pinjaik jo samek di jembatan2 penyebrangan, daripada jadi petani di kampuang. Ini mungkin disebabkan pula oleh kebijakan pemerintah yang memang selama ini kurang berpihak kepada petani. Kalau jadi petani tapi bisa beli mobil (seperti saya lihat di desa2 Malaysia, apalagi di Belanda), mungkin anak2 muda kita itu lebih mau tinggal di kampung mengolah sawah dan ladang. Bagaimana mengatasi masalah ini? Sementara basis pembangunan nagari jelas di sektor pertanian. Jalan keluar mungkin ada, misalnya: menggunakan teknologi dalam pengerjaan sawah/ladang (sehingga tenaga manusia dapat digantikan oleh mesin); mengundang orang luar menjadi pekerja (tapi ini tentu akan menambah biaya produksi pertanian, dan jangan2 menimbulkan dampak sosial pula). Silakan dunsanak di lapau mendiskusikan masalah ini. 2. Apa mungkin dalam pembangunan nagari dilakukan spesifikasi produksi? Maksud saya, setiap nagari mengkhususkan diri (atau paling tidak harus menonjol) dalam produksi barang tertentu. Katakanlah: Nagari A lebih fokus pada produksi barang kerajinan tertentu, Nagari B lebih fokus pada penanaman bawang merah; Nagari C lebih fokus pada penanaman cabe; Nagari D lebih fikus pada penanaman padi, dst. Apakah mungkin hal ini dilakukan? Dan apakah bermanfaat? Silakan juga didiskusikan di lapau kit aini. 3. Modal. Pembangunan jelas memerlukan modal. Dan selama ini, masyarakat desa, termasuk nagari2 di Sumatra Barat, lebih bersifat menunggu uang jatah (bandes) dari pemerintah. Sampai di desa/nagari, uang itu pun sudah 'diperebutkan' oleh aparat pemerintahan desa/nagari. Apakah tidak mungkin untuk mencari sumber pendanaan/kredit lain? Kalau dari bank, kita sudah sama tahu, bahwa mereka agak enggan memberikan kredit kepada petani, tapi kalau untuk pembangunan hotel atau pertokoan, dsb (maaf, oleh pengusaha Cina), pasti akan cepat keluarnya. Barangkali mungkin ada masukan dari Bapak Rainal Rais mengenai hal ini. Sebab beliau sudah tidak diragukan lagi komitmennya dalam membangun nagarinya, Sulit Air. Sekaitan dengan ini, saya teringat akan kesuksesan GRAMEN BANK di Bangladesh dalam memicu pembangunan desa yang secara signifikan telah meningkatkan pendapatan banyak petani Bangladesh. Gramen Bank yang dibentuk oleh peraih hadiah Nobel Muhammad Yunus, terkenal dengan sebutan 'bank untuk orang miskin'. NAH, KALAU KA STUDI BANDIANG JUO GUBERNUR SUMBAR KA LUA NAGARI, CUBOLAH PAI KA BANGLADESH, PELAJARI BANA BAA CARO KARAJO GRAMEN BANK KO. BAO DEK GUBERNUR URANG2 MUDO NAN BASUMANGAIK DI RUMAH BAGONJONG TU (ATAU UNSUR PERGURUAN TINGGI). KALAU PARALU, seperti dikatakan oleh Pak Mochtar Naim dalam artikelnya, SURUAH MEREKA TINGGA BABARAPO BULAN DI BANGLADESH UNTUAK MEMPELAJARI GRAMEN BANK DAN SISTEM KREDIT NAN DIBARIKANNYO KEPADA PARA PETANI BANGLADESH. Itu dulu yang terlintas dalam pikiran saya setelah membaca artikel Pak Mochtar Naim. Mohon maaf kalau ado salah dan jangga. Wassalam, Suryadi
________________________________ Dari: Mochtar Naim <[email protected]> Kepada: firdaus hasan basri <[email protected]>; Emil Habli HasanNaim <[email protected]>; firdaus hasan basri <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Ismet Fanany <[email protected]>; Laode Ida <[email protected]>; Taufiq Ismail <[email protected]>; amelia indrajaya <[email protected]>; irman gusman <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Fasli JALAL <[email protected]>; Jusril Jamarin <[email protected]>; Theresia JD <[email protected]>; Fasli JALAL <[email protected]>; asmun syueib <[email protected]>; Muslim Kasim <[email protected]>; Miko Kamal <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Zulkarnain Kahar <[email protected]>; Ambiar Lani <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Meuthia Suyudi <[email protected]>; Tasril Moeis <[email protected]>; BADRUL MUSTAFA <[email protected]>; Asril Tanjung <[email protected]>; basri mangun <[email protected]>; mc bahry <[email protected]>; yuliasma muluk <[email protected]>; M. ABDUH <[email protected]>; Harlizon MBAu <[email protected]>; Mahyeldi Ansharullah <[email protected]>; Mahyudin Al Mudra <[email protected]>; Mas'oed ABIDIN <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Suryadi <[email protected]>; zulhasril nasir <[email protected]>; Asnina Rivai <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; ASLIM NURHASAN <[email protected]>; amin nurdin <[email protected]>; nani tolali <[email protected]>; wan noesjirwan <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Prof.Dr Emil SALIM <[email protected]>; Prof Dr Djohermansyah DJOHAN <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; alimatul qibtiyah <[email protected]>; Annisa Qurrota Ayyuni <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; rangbanuampu <[email protected]>; Riri Chaidir <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; Muhardi Rajab <[email protected]>; Riri Chaidir <[email protected]>; Romeo <[email protected]>; zahrina dalimunthe <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]> Cc: MOCHTAR NAIM <[email protected]> Dikirim: Senin, 16 Januari 2012 11:38 Judul: ESAI MOCHTAR NAIM: MEMBANGUN SUMBAR DG MEMBANGUN NAGARI Essai: "MEMBANGUN SUMATERA BARAT DENGAN MEMBANGUN NAGARI SECARA INTEGRAL BERSINERGI" Mochtar Naim Sdr2 semua di dunia maya, ketek ndak basabuik namo, gadang ndak basabuik gala, Assalamu'alaikum w.w., Terlampir ambo sampaikan sebuah essai berjudul: "Membangun Sumatera Barat dengan Membangun Nagari secara Integral Bersinergi." Tulisan ko juo dikirim ka Haluan Padang untuk ruang Opini. Mudah2an dimuek. Agaknyo lah tibo ukatunyo awak menukiak ka pengimplementasian konsep2 nan awak diskusikan salamo ko mengenai Pembangunan Nagari di ranah Minang. Ambo maharokkan esai ambo ko dijadikan sebagai bahan utama untuak kito pasamokan dalam forum diskusi/seminar nan khusus mengenai Pembangunan Nagari ka maso depan ko. Silahkanlah kawan2 dalam berbagai forum organisasi dan anggota2 palanta Dunia Maya sadonyo maambiak inisiatif maangkekkan masalah ko untuak nanti dibaokan ka Gubernur/Pemda Provinsi/DPRD Prov untuak ditindak lanjuti. Ambo sanang bana kalau kawan2 maagiah pandangan jo pandapek ttg iko. Kalau bisa 2012 ko kito lah mangarah ke arah implementasi dari Pembangunan Nagari ka maso depan ko. Wassalam, ambo, Mochtar Naim -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
