Kamis, 15 Dec 2011 01:44 WIB

http://rimanews.com/read/20111215/48908/jeffrey-hadler-sengketa-tiada-putus-
sebuah-pengantar-buku

Di Sumatra Barat pada pertengahan 1990-an sejarah bukanlah pokok penelitian
yang populer. Diskursus pembangunan Soeharto melemahkan penelitian mendalam
tentang masa lalu, dan sejarah resmi dipelintir agar sesuai dengan maksud
tujuan negara. Disiplin-disiplin elite di universitas-universitas adalah
sains, keinsinyuran, dan bidang-bidang yang diperkirakan akan menyumbang
pada masa depan cerah suatu bangsa sedang membangun. Masa lalu itu
memalukan, menghantui, dan berbahaya, disederhanakan dalam buku-buku teks ke
dalam periode-periode kolonialisme suram, revolusi jaya, Orde Lama penindas,
dan akhirnya Orde Baru pembebas. Orang-orang Indonesia cerdas membangun masa
depan. Peneliti-peneliti asing adalah antropolog dan etnomusikolog.
Sejarawan sangat jarang sehingga banyak orang terheran-heran ketika saya
memberitahu mereka siapa saya sebenarnya: sejarawan. Antropolog?

Demikian mereka mencoba menolong saya memperbaiki kata. Saya tiba di Padang
pada 1994 berbekal satu surat katebelece dari Taufik Abdullah dan satu
proposal disertasi dengan studi berpusat rantau mengenai keluarga-keluarga
empat laki-laki terkenal Minangkabau. Surat itu terbukti berguna luar biasa.
Sedangkan proposal disertasi saya segera putar haluan.

Pada 1985 saya tinggal dengan satu keluarga Minangkabau-Mandailing di
Jakarta, bersekolah di SMA 3 Setia Budi, dan terpengaruh oleh sikap perantau
terhadap mereka yang ditinggalkan di desa-desa di Sumatra-campuran nostalgia
dan cemooh. Patriotisme Minangkabau yang hancur pada era pasca-PRRI
berdampak pada bayangan awal saya tentang Sumatra Barat. Selama awal 1960-an
rakyat Minangkabau, termasuk keluarga sipangkalan saya, meninggalkan Sumatra
Barat menuju Jakarta dan Medan, tidak kembali lagi. Inilah masa rantau cino
yang permanen, ketika orang Minangkabau memberikan nama Jawa kepada
anak-anak mereka dan mengeluh bahwa di kampung halaman di Sumatra "yang
Minang pergi, yang tinggal Kabau".

Restoran-restoran Padang di Jakarta menjamur dan perantau-perantau dari
Sumatra ini, orang seberang yang menyembunyikan etnisitas mereka,
menyesuaikan diri dengan kehidupan jauh dari dataran tinggi nenek moyang dan
ingatan-ingatan yang menyedihkan. Di samping pengalaman-pengalaman
perantauan saya sendiri di Jakarta, untuk proposal disertasi saya itu saya
membaca karya-karya intelektual Kaum Muda dan novelis-novelis Balai Pustaka.
Lewat tulisan-tulisan itu saya pun tiba pada kesimpulan bahwa adat
Minangkabau itu bersifat menindas, desa-desa Minangkabau bagaikan
cangkang-cangkang kosong tradisionalisme, dari kedua-duanya orang perlu
melarikan diri. Kemudian, Cornell University, tempat saya mengejar PhD saya,
membiasakan para mahasiswanya pada nasionalisme di atas segala-galanya. Kami
secara obsesif berpihak pada orang dan gerakan yang bergerak dari
kolonialisme ke revolusi nasionalis. Jadi saya tiba di Sumatra dengan
memakai kacamata kuda yang membutakan saya dari apa saja yang tidak
mengikuti jalan lurus ke 1945. Untuk proposal saya itu saya berharap
menjejaki keadaan keluarga luas Hamka, Haji Agus Salim, Adinegoro, dan Datuk
Sutan Maharaja setelah mereka meninggalkan darek (jantung) Minangkabau yang
mandek itu, terusir keluar dari suatu pusat kosong yang tidak dapat
mempertahankan orang-orang penting dan besar. Dalam proposal awal itu saya
bilang hanya butuh satu bulan di Sumatra Barat (berapa lamakah saya mau
mengalami penindasan jiwa dan kebosanan di kalangan Kerbau?). Kemudian,
dengan mengikuti para perantau pahlawan saya, saya akan pergi ke Medan,
kemudian Jakarta, dan akhirnya Leiden, mengulang, dalam riset saya sendiri,
perjalanan-perjalanan yang dilakukan oleh para pahlawan nasional era
kolonial.

Tapi begitu tiba di Sumatra Barat, langsung saya sadari bahwa sejarah lokal
ditandai dengan dinamisme yang tak terduga. Dan saya mulai memahami bahwa
ada mesin-mesin sejarah yang sama sekali tidak nasionalis tapi toh pernah
dan masih sangat penting: gagasan-gagasan yang berubah-ubah tentang rumah,
keluarga, hubungan gender, dan masa kanak-kanak. Jadi saya mengubah rencana
riset saya dan saya tidak meninggalkan tempat itu.

(bersambung)

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke