Riset pertama saya, dilakukan pada akhir periode Orde Baru, berupaya
menjawab satu pertanyaan yang sering diajukan pada saya di Sumatra Barat:
mengapakah generasi orang Minangkabau yang lahir pada peralihan abad ke-20
begitu inovatif luar biasa dan secara politis sangat penting? Jawaban atas
pertanyaan itu menjadi bagian utama buku ini-fenomena dinamisme budaya
Minangkabau terjalin dengan kondisi ketidakpastian yang luas dan tak
terhindarkan, dan ketidakpastian itu pada gilirannya adalah akibat
faktor-faktor budaya dan sejarah spesifik pada abad ke-19 dan awal abad
ke-20. Ketika saya mulai berusaha menjawab pertanyaan ini ada juga motivasi
politik. Rumah gadang dan keluarga dianggap oleh sebagian besar orang di
ranah Minang punya kualitas kekal dan tak berubah. Dengan meneliti
"penciptaan tradisi" (invention of tradition, ungkapan Eric Hobsbawm) lokal
di belakang kebenaran-kebenaran sakral rumah dan keluarga, saya mau
peneliti-peneliti Minangkabau lantas bisa mempertanyakan beberapa mitos
sentral negara Orde Baru-bahwa orang Indonesia sangat merindukan otoritas
patriarkat yang kuat (seorang Bapak sebagai presiden), sehingga mereka lebih
suka musyawarah mufakat daripada debat terbuka, dan bahwa mereka begitu
takut pada hal-hal yang asing sehingga mereka bereaksi dengan kekerasan.

Kini, pada 2010, Soeharto memang sudah wafat, tapi momok negara Orde Barunya
masih terus hidup, mencoba membuat diri mereka relevan lagi, dan bahkan
tampaknya tumbuh pesat. Jadi baik pertanyaan sentral tentang
kepahlawanan-kepahlawanan Minangkabau, maupun motivasi sekunder, keduanya
haruslah masih bergaung bagi para pembaca. Bagaimanapun adalah kelegaan
besar bahwa kini sudah bisa ada diskusi politik secara langsung dan terbuka
di Indonesia, padahal dulu kita harus berjingkat-jingkat di seputar
undang-undang SARA yang penindas itu. Ada seni Orba untuk memecahkan sandi
transkrip-transkrip politik tersembunyi dalam teks-teks yang tampaknya
apolitis dan historis. Tapi jauh lebih bagus bisa mengatakan apa yang mau
anda katakan, blak-blakan dan terus terang.

Untuk penulisan buku ini saya tahu bahwa saya perlu bergerak melampaui
disertasi itu, untuk menarik minat penerbit Amerika dan sidang pembaca yang
akan menginginkan lebih banyak daripada sekadar Studi Indonesia.
(Menyedihkan bahwa negeri ke-4 terbesar di dunia, pada dan dari dirinya
sendiri, tidak cukup menarik buat orang Amerika.) Merevisi buku ini ketika
George W. Bush di Gedung Putih memotivasi saya dengan cara yang sama seperti
halnya Soeharto-saya marah, merasa agak ditindas (di bawah Bush akademikus
yang tidak setuju dengan politiknya dimarginalisasi), dan ingin buku saya
menjadi pernyataan melawan gambaran Islam bergaya santri dan monolitik yang
digambarkan pemerintahan Bush.

Saya menyadari bahwa untuk pembaca-pembaca Amerika, suatu masyarakat Muslim
yang terkenal akan kesalehan dan sekaligus penganutan pada tradisi-tradisi
pewarisan matrilineal dan residensi matrilokal yang disebut sebagai
matriarkat akan terasa menawan dan mengagetkan. Jadi inilah motivasi untuk
apa yang telah menjadi naratif kerangka Muslims and Matriarchs: bahwa
"masyarakat Muslim" adalah kategori luas yang mencakup praktik-praktik
sosial yang bermacam ragam, bahkan termasuk yang biasa dianggap bertentangan
dengan unsur-unsur fundamental hukum syariat. Bush berbicara tentang Islam
reformis dengan diskursus sama seperti cara Presiden-Presiden terdahulu
berbicara tentang komunisme-bahwa ia adalah penyakit ideologis sangat
berbahaya dan tak tersembuhkan yang penyebarannya hanya bisa dihentikan
dengan penghancuran bagian-bagian yang terinfeksi. Saya memperhatikan Imam
Bondjol dan kaum Padri awal abad ke-19 dan menemukan beberapa keserupaan
dangkal dengan gerakan Taliban modern di Afghanistan. Minangkabau lantas
bagi saya menjadi suatu contoh terbalik yang penting dalam sejarah Muslim.

Di Sumatra Barat, reformisme Padri membatasi diri sendiri dan akhirnya
menjadi fleksibel, bahkan mau berdamai. Dan matriarkat selamat melalui
kolonialisme karena ia terlebih dahulu sudah terideologisasi dan diperkuat
waktu menghadapi kritik Padri. Tradisi matriarkat bertahan bukan walaupun
ada serangan Padri neo-Wahabi, melainkan karena itu. Dengan formula "adat
basandi syarak, syarak basandi adat" pemimpin-pemimpin Padri dan adat
berhasil berkompromi dan mempertahankan kekhasan budaya Minangkabau.
Intervensi militer Belanda tidak "menyembuhkan" Minangkabau dengan memotong
putus infeksi Padri.

Konflik itu terselesaikan secara internal dan lewat dialog. Inilah naratif
koreksi-diri yang saya yakini perlu didengar pemerintahan Bush. Militer
Amerika tidak dibutuhkan sebagai polisi ideologi dunia. Saya sama sekali
tidak setuju dengan Taliban (atau fundamentalisme agama jenis mana pun) dan
merasa senang kalau mereka lenyap, tapi saya juga percaya bahwa Afghanistan
sangat mampu menyelesaikan sendiri konflik internalnya sama seperti
Minangkabau dua abad sebelumnya.

Jadi buku ini adalah reaksi terhadap rejim-rejim represif dan suatu upaya
untuk mencari contoh-contoh terbalik terhadap monolit-monolit yang disokong
negara-negara. Gagasan Soeharto akan budaya Indonesia dan bayangan Bush akan
reformisme Islam kedua-duanya ditantang oleh naratif sejarah Minangkabau.
Pencapaian keilmuan seringkali butuh politik bertentangan, dan komitmen
ideologis, agar bermakna.

(bersambung)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke