Koran Jakarta, 09 Februari 2012
Pers Modern dalam Topan Demokrasi
oleh
Indra J Piliang
http://www.indrapiliang.com/2012/02/09/pers-modern-dalam-topan-demokrasi-/

 
Ilustrasi/ KJ
Hari ini diperingati sebagai Hari Pers Nasional yang 
ke-66. Tanggal ini ditandai, seiring dengan kelahiran organisasi 
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta. Dalam usianya yang 
ke-66, pers nasional mengalami pasang-surut. Tidak saja berkaitan dengan 
masalah yang datang dari eksternal (seperti penyensoran), melainkan 
juga dari internal (seperti standar gaji dan kode etik jurnalistik). 
Terlepas dari itu, pers nasional menunjukkan diri sebagai salah satu 
eksponen perjuangan (kebebasan) politik dan demokrasi.

Sejarah 
kelahiran PWI juga ditandai dengan belum terpisahnya wartawan dari 
kehidupan politik. Era revolusi fisik yang ditandai dengan 
perdebatan-perdebatan besar sebelum kemerdekaan, mendapat pengaruh dari 
kehadiran wartawan yang sekaligus pejuang dan politisi. Para negarawan 
tak henti berpolemik di media massa, menggunakan nama-nama terang maupun
 samaran (pen name). Tidak jarang hukuman atas sebuah tulisan adalah 
penjara atau bahkan dibuang ke daerah penuh malaria seperti Papua atau 
bahkan ke negeri Belanda. 

Dalam usianya yang panjang itu, pers 
nasional sampai ke era kebebasan seperti sekarang. Kebebasan begitu 
dirayakan. Kebebasan melindungi maksimal profesi jurnalistik, sekalipun 
dalam sejumlah kasus, wartawan justru menjadi sasaran. Wartawan 
Indonesia di era modern tidak berhadapan langsung dengan penjara, 
melainkan peluru ataupun intimidasi lainnya. Hal ini sebenarnya 
merupakan kemunduran dibanding sanksi penjara dan pembuangan yang 
terjadi di zaman Belanda. Kebebasan dan informasi yang diberikan kepada 
kaum jurnalis ternyata beralaskan nyawa sejumlah wartawan. 

Pers
 sebetulnya ujung dan pangkal dunia politik. Tidak ada satu pun partai 
politik yang tak ingin masuk ke dunia pers, dalam arti mendapat porsi 
pemberitaan. Setiap kegiatan kepartaian selalu mengundang pers. 
Sebaliknya, informasi yang dihidangkan pers akan menjadi bahan bagi 
partai politik untuk mengevaluasi dan menanggapi. Hanya, di Indonesia, 
sedikit sekali jumlah politisi yang suka "memamerkan" pemikiran di dunia
 pers karena khawatir akan memicu persoalan dengan partainya sendiri, 
pihak lain ataupun kelompok yang terkait pernyataannya. Akibatnya, pers 
hanya dilihat sebagai medium untuk pencitraan: menutupi yang buruk, 
menampakkan yang baik. 

*** 

Sekarang adalah era angin 
topan demokrasi. Demokrasi tidak hanya bertiup dan berhembus, tetapi 
bergerak bagai angin topan yang membongkar apa pun. Tokoh baru muncul di
 media dan dielu-elukan, tetapi dalam saat yang singkat bisa dijatuhkan 
karena skandal politik, terutama korupsi. Setiap orang bisa berbicara 
apa saja dan menghubungi siapa pun, terutama dengan media baru yang 
bernama sosial media seperti Twitter dan Facebook. Partai politik jatuh 
dan bangun. Setiap hari, media memungut banyak sekali isu di masyarakat. 

Demokrasi juga yang dituju pers, ketika muncul dalam 
keterbatasan era kolonial. Selain demokrasi, kemerdekaan adalah syarat 
yang paling penting. Masalahnya, di era modern seperti sekarang, 
perjuangan ke arah demokrasi sudah semakin lekat dengan individu, bukan 
lagi kelompok-kelompok sosial dan politik di masyarakat. Kelas-kelas 
sosial kian abstrak, ketika satu individu bisa mengagendakan banyak hal,
 tanpa perlu menanyakan kepada kelompok sosial dan politiknya. Individu 
yang sama bisa berubah-ubah identitas, tidak lagi dibedakan sebagai 
inlander atau Eropa, kulit putih atau kulit berwarna.

Ketika 
individu menjadi inti dari demokrasi, justru semangat koletivitas 
menjadi semakin sulit didapat. Dalam hal ini, pers bisa memainkan peran 
itu, yakni membentuk ikatan-ikatan sosial di antara individu. Ikatan itu
 bisa saja berbentuk kesatuan pemahaman atas isu-isu khusus ataupun 
kepedulian atas masalah-masalah umum (publik). Pers menjalankan peran 
pemersatu, ketika hampir seluruh gerak di masyarakat mengarah kepada 
perpecahan dalam artian apa pun. Dengan posisi seperti ini, liberalisasi
 politik bisa sedikit direm dan diberi bobot, ketimbang topan terus 
melaju dan menghancurkan apa pun yang masih tersisa. 

Sebetulnya,
 pers tidak perlu terlalu khawatir memiliki preferensi atas isu-isu 
politik tertentu. Bukankah dunia pers Indonesia dilahirkan para jurnalis
 yang juga politisi? Dengan preferensi yang jelas, kalangan jurnalis 
menjahit perbedaan-perbedaan pendapat dan paham ke dalam perspektif yang
 lebih kolektif. Tentu dengan tetap mengandalkan profesionalisme 
wartawan berdasarkan standar baku dunia jurnalistik dan kode etik 
jurnalistik. Preferensi politik hanya untuk memberi perspektif, tentunya
 dikaitkan dengan pegangan umum berupa tujuan-tujuan bernegara yang kian
 kabur di mata masyarakat. 

Jangan-jangan, kalangan pers 
menganggap bahwa dunia jurnalistik harus terbebas dari kepentingan 
politik praktis. Saya kurang setuju dengan pendapat itu. Ketika lebih 
dari satu orang berkomunikasi, sebetulnya proses politik sudah terjadi. 
Apalagi pers, komunikasi dilangsungkan lebih dari satu orang. Lagipula, 
semakin banyak pemilik media yang kini langsung terjun ke ranah politik 
praktis. Justru dengan melakukan preferensi politik, kepentingan pemilik
 media bisa dirasionalisasi dengan adanya dialektika secara terbuka. 

*** 

Indonesia
 tercatat sebagai negara demokrasi dengan jumlah penduduk terbesar 
ketiga di dunia. Itu dengan pengecualian China, sesuai dengan indeks 
yang disusun Freedom House. Padahal, apa pun bentuk demokrasi yang 
diterapkan, China juga sudah masuk dalam kategori negara demokrasi 
dengan indeks kebebasan yang minim. China memiliki sembilan partai 
politik dan bekerja di negara dengan jumlah penduduk 1,4 miliar. Karena 
itu, mengabaikan sama sekali perjalanan negara China dalam menata 
demokrasinya, apakah disebut sebagai negara dengan standar demokrasi 
yang tertutup atau cenderung otoriter atau tidak, tetap saja China 
menjadi negara penting dewasa ini.

Insan pers Indonesia tentu 
perlu mempertimbangkan dengan sangat matang, apakah model demokrasi yang
 sekarang di Indonesia memberi ruang bagi kualitas hidup atau tidak? 
Kualitas hidup yang seperti apa? Bagaimana peran negara? Sudahkah hukum 
ditegakkan dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia? Apakah 
capaian kemajuan dan pertumbuhan ekonomi sudah sampai ke kalangan rakyat
 jelata? Seberapa besar penghasilan para buruh dibanding pejabat yang 
dibiayai negara? 

Patokan-patokan dasar pemikiran pers itulah 
yang nanti akan memandu perjalanan dunia politik praktis. Ibaratnya, 
sekalipun angin topan datang, saluran-saluran perjalanannya sudah 
disiapkan dengan baik. Angin topan tak boleh sampai merontokkan 
kepercayaan rakyat kecil akan harapan hidup yang lebih baik. Angin topan
 jangan sampai merontokkan sendi-sendi dasar demokrasi, yakni rakyat itu
 sendiri, terutama yang selama ini masuk kategori paling buntung dan 
paling tidak beruntung. 

Tentu kita patut bersyukur atas daya 
tahan masyarakat yang begitu sabar, ketika para politikus datang dan 
pergi menjajakan janji-janji kampanye. Kesabaran itu layak diingat 
politisi mana pun, sehingga tidak tergoda untuk terus-menerus mencoba 
menyakiti rakyat dengan cara mengambil yang bukan haknya dan mengurangi 
hak orang lain. Korupsi dalam jumlah jutaan rupiah saja sudah merupakan 
benalu bagi sistem demokrasi, apalagi yang sampai miliaran rupiah demi 
kedudukan yang hanya sementara sifatnya. 

Digahayu pers 
nasional. Dirgahayu pers perjuangan. Engkau adalah paku dan tiang, 
ketika harapan publik sedang tumbang di mana-mana, ketika angin topan 
demokrasi sedang melanda. 


Penulis adalah Penasihat The Indonesian Institute, twitter: @IndraJPiliang

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke