Ysh. Bung Koko dan referensier :

Aku sudah duga ada tanggapan balik sebagaimana Anda tulis. Soalnya apa yang
Bung Dede tulis adalah soal Government Expenditure terkait dengan primacy
kota, sehingga aku batasi dulu pada APBD. Dengan rasio-rasio yang saya buat
ternyata  rasio kota-kota besar justru kecil. Tapi saya tidak menyimpulkan
bahwa government expenditure itu tidak berpengaruh pada primacy. Masih
banyak faktor yang mungkin lebih dominan. Silakan temen-temen di akademisi
untuk menelitinya.

Walaupun saya membatasi pada APBD, komponen APBN-nya dalam bentuk Inpres itu
sangat besar, yaitu sekitar 40-50% dari total APBD yang sebagian besar untuk
Development Expenditure. Jadi walaupun rasionya dari angka APBD, artinya
juga APBN. Hal ini akan berbeda pengertiannya sejak ada UU 17/2003 tentang
Keuangan Negara di mana APBD tidak lagi termasuk bagian dari APBN.

Kembali pada pertanyaan Anda tentang Government Expenditure dari sektor
(departemen) dan BUMN. Saya pernah menulis sebelumnya bahwa pada Repelita
II-III itu pembangunan lebih bersifat sektoral daripada pendekatan regional.
Sifat pendekatan sektoral ini cenderung pada Demand Driven daripada Supply
Driven. Nah akibatnya Government Expenditure (APBN)  itu juga condong pada
daerah-daerah yang kota-kotanya cepat berkembang daripada daerah-daerah yang
remote. Ada kalanya pendekatan sektoral mencoba-coba dengan Supply Driven
dengan membangun daerah remote, misalnya Pelabuhan Cilacap, Pelabuhan
Donggala, membangun prasarana di KAPET, pelud di Biak, dan daerah-daerah
remote lainnya.
Hasilnya gagal, atau tidak membuat primacy suatu kota. Oleh karena
pendekatan sektoral lebih pada Deman Driven, maka  sebenarnya APBN sektoral
tidak meleverage primacy, tapi ia hanya semakin mendorong aglomerasi melalui
akumulasi investasi publik. Begitu juga BUMN, kebijakannya juga menganut
sektoral juga, jadi sama saja.

Sekali lagi gambaran di atas saya tidak menyimpulkan bahwa APBN, baik
melalui Deman Driven ataupun Supply Driven, itu tidak mempengaruhi primacy.
Saya juga berpendapat bahwa  Government Expenditure (atau Kebijakan Fiskal)
itu sedikit banyak memang berpengaruh pada primacy. Oleh karenanya kebijakan
Fiskal sering disebut sebagai Stimulus Pertumbuhan Ekonomi. Hanya saja
bentuk Kebijakan Fiskal atau Government Expenditure yang berpengaruh itu
bukan pada jumlah nominalnya, tetapi lebih pada bentuk atau jenis
belanjanya.  Contohnya, apabila pada kota-kota tertentu yang potensi
pertumbuhannya tinggi, apabila Government Expenditure-nya berupa prasarana,
maka ia akan memacu dan memicu pertumbuhan primacy. Tetapi bila belanja
prasarana itu diberikan pada daerah remote, yang tertinggal, maka ia nggak
akan berdampak siginifikan untuk  menciptakan primacy baru.

Tentang gaji pegawai di Jakarta, saya kira tidak berpengaruh signifikan
terhadap primacy Jakarta. Jumlah PNS terlampau kecil dibanding
pekerja-pekerja non PNS. Peredaran uang dari proyek juga masih kecil
dibanding dengan volume moneter berupa transaksi-transaksi lainnya di
Jakarta. Secara makro, rasio
APBN dan PDB itu hanya sekitar 22%.

Thanks. CU. BTS.




----- Original Message ----- 
From: "Haryasetyaka" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 01, 2007 11:20 AM
Subject: [referensi] kebijakan Fiskal dan urban primacy... kembali ke subj
yg benar..


>
> Pak BTS,
>
> itu kan baru APBD... bagaimana dengan APBN? bgmn dengan BUMN, yg nota bene
> adalah instrumen negara juga...
> pembangunan jalan nasional, misalnya, itu bagaimana?
> pembangunan pembangkit listrik dsb bagaimana?
>
> sebagai pusat pemerintahan nasional, tentunya di jakarta lebih banyak
> terdapat PNS (per 1000 penduduk mungkin)... artinya pengeluaran APBN utk
> PNS plus belanja-2 proyek
> lebih banyak muter di Jakarta... apa ini tidak termasuk kebijakan
> fiskal yg berpengaruh pada primacy??
>
> menarik disebut mengenai usaha Danutirto (prof. farmasi) yg dulu berencana
> 'membaptis' pare-pare sbg pelabuhan terbuka...
> dari dulu saya sudah mengatakan bahwa urban primacy adalah produk dari
> kebijakan pemerintah.. (bukan hanya fiskal)
> regulasi semacam 'pilih kasih' mana pelabuhan yg boleh terbuka mana yg
> harus lapor sama bos di jakarta dsb tentunya berpengaruh...
>
> selama ini seakan-akan, semua pelabuhan itu tertutup, kecuali dibuka oleh
> pemerintah pusat... dan jelas pelabuhan membuka akses pasar yg lebih luas
> sehingga lebih mudah menarik investasi dan pada gilirannya berpotensi utk
> mengurangi primacy dsb...
>
>
>
> salam,
> -K-
>
>
>
>
> Harya Setyaka
>
> Duren Tiga Selatan 89
>
> Jakarta INDONESIA
>
>
>
> ----- Original Message ----
>
> From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
>
> To: [email protected]
>
> Sent: Monday, April 30, 2007 9:35:51 PM
>
> Subject: Re: [referensi] STERN REVIEW: The Economics of Climate Change
>
>
>
>
>
> Ysh. Bung Deden Rukmana
>
>
>
> Deden  wrote :
>
> Saya pun berpikir bahwa government expenditure menyebabkan urban primacy
> in  Indonesia. Kota besar akan semakin besar karena didukung dana  dari
> pemerintah pusat. Sayangnya, saya belum mendapatkan data belanja  negara
> berdasarkan kota/kabupaten.
>
>
>
> BTS :
>
>
>
> 1. Sebelum ada Sistem Akuntansi Pemerintahan( SAP)  yang baru - baca PP
> 24/2005 dan Permendagri 13/2006, Government Expenditure  terbagi atas
> Routine Expenditures (RE) dan Development Expenditures.  (DE). Data
> empiris menunjukkan bahwa perbandingan antara antara RE dan DE  di daerah
> adalah 80% dan 20%. Jadi yang dimaksud dengan Government Expenditures
> yang menyebabkan urban primacy adalah DE yang hanya 20% dari Total
> District  Government Expenditures (APBD). Secara ekonomi, urban primacy
> juga dapat  ditunjukkan dari perbandingan PDRB kota masing-masing. Semakin
> primacy kota,  semakin besar pula nilai nominal PDRB-nya. Oleh karena itu
> hipotesis yang  mengatakan bahwa Government Expenditures menyebabkan urban
> primacy secara  sederhana dapat dilihat rasio antara DE dan PDRB pada
> harga berlaku (current  price). Dari penelitian saya - baca "Perkembangan
> Ekonomi Kota-kota Sebelum dan  Pasca Krisis (1993-1999) serta Implikasi
> Pengembangannya" , URDI Papaer Series.  2002
> menunjukkan bahwa rasio Kota-kota Kecil (<200 ribu jiwa ) = 4%;  Kota
> Sedang (>200 ribu - < 700 ribu jiwa) = 2%; sedangkan Kota Besar dan  Metro
> (>700 ribu jiwa) = 0,8%. Dari rasio-rasio ini menunjukkan bahwa semakin
> besar suatu kota, justru peranan government expenditures semakin kecil.
> Hal ini  tidak berarti bahwa government expenditures tidak mempengaruhi
> besaran kota,  tetapi ada faktor lain yang lebih menentukan, apakah itu
> kesejarahan, lokasi,  atau investasi yang disebut dengan Daya Saing Kota.
>
>
>
> 2. Kalau mencari data Government Expenditure untuk  daerah, buka :
> www.depkeu.go. id, ke link  situs click Badan Kebijakan Fiskal. Kalau data
> belanja negara berdasarkan  kota/kabupaten www.sikd.djapk. go.id,  ke Data
> Historis.
>
>
>
> Untuk dapat memahami secara tepat tentang  Government Expenditures untuk
> daerah, perlu paham perubahan sistem akuntansi  daerah mulai dari sistem
> Makuda (Manual Keuangan Daerah) sebelum tahun 2000,  diubah ke Sistem
> Otonomi Daerah (2000-2003), diubah lagi dengan Kepmendagri  29/2003
> (2003-2005), terakhir diubah dengan Peraturan Pemerintah 24/2005 dan
> Permendagri 13/2006. Saya punya iktisarnya, terlampir.
>
>
>
> Thanks. CU. BTS.
>
>
>
>    ----- Original Message ----- 
>
>   From:    Deden    Rukmana
>
>   To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
>
>   Cc: dedenpermias@ yahoo.com
>
>   Sent: Monday, April 30, 2007 10:56    AM
>
>   Subject: Re: [referensi] STERN REVIEW:    The Economics of Climate
> Change
>
>
>
>
>
>
>
>   Tulisan    ttg global warming di Jakarta:
>
>   http://www.thejakar tapost.com/ detaileditorial. asp?fileid= 20070428.
> E02
>
>
>
>   Melanjutkan    diskusi ttg urban primacy:
>
>   Saya    pun berpikir bahwa government expenditure menyebabkan urban
> primacy in    Indonesia. Kota besar akan semakin besar karena didukung
> dana    dari pemerintah pusat. Sayangnya, saya belum mendapatkan data
> belanja negara berdasarkan kota/kabupaten.
>
>
>
>   Selanjutnya    mengenai kriteria ukuran kota, terlepas dari kriteria yg
> digunakan, sudahkah    kita memiliki batas kota/metropolitan yg menjadi
> kesepakatan bersama? Beberapa    data yg saya pakai utk menentukan
> penduduk metropolitan Jakarta saja beragam.    Batas metropolitan Jakarta
> yg dipakai adalah berbeda-beda. Ada yg menyebut    semua kecamatan di Kab.
> Bogor dan Kab. Cianjur masuk. Ada juga hanya sebagian    Kab. Bogor, dst.
>
>   FYI,    di USA, BPS-nya menentukan batas metropolitan setiap census dan
> semua orang    akan memiliki pemahaman yg sama ttg batas2 wilayah tsb.
>
>
>
> Salam    hangat dari Savannah, USA.
>
>   Deden    Rukmana
>
>
>
>   -----    Original Message ----
>
> Fr
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>


Kirim email ke