He.... he... he...
Rupanya Pak Eka dan Pak Benny sama-sama pernah jadi
penyanyi dangdut cabutan yah.... Kayaknya boleh tuh
kalo komunitas referensi lagi kumpul2 copy darat,
kemampuan perdangdutan beliau-beliau berdua kembali
dijajal. Pasti semarak .....

Salam hangat selalu

Fadjar FHM
PWK Undip


--- benny hermawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> om eka dan bapak ibu yth,numpang lewat saja.Mungkin
> produk-produk fanta, coca-cola, teh botol paling
> jelas
> nilai tambahnya dan jelas sementara ini plg efisien,
> sehingga byk dijual di warung-warung di toli2...
> sy yakin suply batere alkaline maupun produk
> substitusinya akan tetap ada  mendukung lagu dangdut
> sepanjang kita punya daya beli.
> 
> Penataan ruang bukan panacea yang mampu menuntaskan
> berbagai persoalan. Menurut hemat sya bisa menjawab
> persoalan lokasi yang paling efisien dan
> berkelanjutan
> sj sudah ruar biasa, sehingga bisa dihasilkan
> barang-barang lokal yang kompetitif dan bisa
> meningkatkan daya beli org dgn mengurangi cost-cost
> yg
> ga perlu krn macet, polusi, bencana ulah manusia
> dll.
> 
> btw, kita dulu satu kampung ya di sukabumi he2
> 
> salam
> 
> --- ekadj05 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Iklan batere Alkaline di tivi itu betul-betul
> > menonjok rahang kanan 
> > saya. Seharusnya tidak usahlah aib dan kelemahan
> > bangsa ini diumbar 
> > seperti itu. Malu kita. Bila kebiadaban dan
> kebuasan
> > bangsa ini 
> > ternyata bisa diatasi dengan memutar lagu-lagu
> > bernuansa etnis, dan 
> > kesudahannya adalah mari kita berjoget
> bersama-sama.
> > Lupakan duka 
> > dan lara.
> > 
> > Pada tahun 1989, saya pernah mengendon 2 bulan di
> > desa Cikalong 
> > Tasikmalaya, dan untuk pertama kali mempelajari
> > secara profesional 
> > lagu-lagu dangdut. Hasil belajar, diuji pada
> > panggung hiburan desa, 
> > diiringi oleh 4 penari latar yang kebetulan
> semuanya
> > adalah calon 
> > planner. Hingga saat ini kemampuan olah suara saya
> > cukup lumayan, 
> > terutama di ruang-ruang karaoke. Tiga tahun lalu
> > seorang rekan 
> > musisian, hampir saja mengorbitkan saya sebagai
> > artis dangdut, 
> > dengan judul album `qasidah mabuk'. Katanya, hanya
> > orang yang pernah 
> > belajar dangdut yang dapat memahami dangdut.
> > 
> > Beberapa tahun yang lalu dalam perjalanan dari
> Palu
> > ke Kebon Kopi 
> > dan terus ke Toli-toli, saya memperhatikan dengan
> > cermat isi warung 
> > jualan penduduk di sepanjang jalan. Saya
> > mencari-cari bila 
> > ada "kandungan lokal" di warung-warung tersebut,
> > namun kelihatannya 
> > pencarian saya sia-sia. Isinya tak lebih seperti
> > Fanta, Teh Botol, 
> > Taro, Chiki, serta berbagai jajanan ekspor
> lainnya.
> > Satu dua warung 
> > menyediakan sapu ijuk dan kripik singkong yang
> > dikemas seadanya. 
> > Ternyata kebutuhan konsumtif masyarakat itu pun,
> > termasuk yang kecil-
> > kecil, masih mengandalkan produksi dari luar.
> > Sebagai orang dari 
> > Jawa, waktu itu saya memandang fenomena tersebut
> > dengan tersenyum-
> > senyum sekaligus prihatin. Pengalaman serupa saya
> > peroleh dari 
> > berbagai perjalanan ke berbagai pelosok di
> nusantara
> > ini.
> > 
> > Tahun lalu hampir sebulan saya tinggal di Nagoya,
> > `the city of 
> > Toyota', sebuah kota yang karena kreatifitas dan
> > inovasi warganya 
> > mampu menyumbang 10% pendapatan asli nasional,
> atau
> > lebih dari total 
> > pdb-nya Australia. Dari tempat tersebut dengan
> > tersenyum-senyum 
> > sekaligus prihatin saya memandang Indonesia.
> > 
> > Barang-barang yang kita konsumsi, perlulah kita
> > pahami manfaatnya. 
> > Apakah memang sekedar menyenangi kuping kita,
> > menyegarkan mata kita, 
> > hingga membuat pinggul kita bergoyang. Serta
> sampai
> > pada pemahaman 
> > posisi kita dalam `rantai primitif
> > produsen-konsumen'. Apakah dengan 
> > menyediakan Camry dan X-Trail memang akan
> > meningkatkan kinerja kita, 
> > misalnya.
> > 
> > Pada tahun 1932 Chevrolet mendirikan pabrik mobil
> > pertama di Jepang. 
> > Fenomena ini tidak menimbulkan kemanjaan bagi
> > masyarakat Jepang yang 
> > pada masa itu telah mencapai kejayaan ekonominya.
> > Setelahnya mereka 
> > belajar tentang `industrialisasi' dan `membuat
> > sendiri'. `Mass 
> > production' di bidang otomotif mencapai puncaknya
> > hanya 10 tahun 
> > setelah WW II. Pemahaman terhadap kultur dan
> budaya
> > bangsa-bangsa 
> > terutama di Asia menyebabkan mereka berpikir
> tentang
> > efisiensi dan 
> > ergonomi. Hingga saat ini malah Toyota, Honda,
> > Subaru, dkk berlomba-
> > lomba mendirikan pabrik di Amerika Serikat.
> > 
> > Primasi kota yang kita lihat di bawah tempurung
> > Indonesia, memang 
> > akan terasa signifikan. Namun lihatlah itu di
> bawah
> > langit yang luas 
> > ini, terasa tidak ada apa-apanya. Karenanya kita
> > harus saling 
> > bekerja sama, kota-desa, sumatera-jawa-hingga
> papua,
> > serta seluruh 
> > komponen bangsa ini; di dalam suatu tatanan
> > manajemen sumber daya 
> > yang berkeadilan. Apakah hal ini dapat dibangun di
> > dalam kebijakan 
> > penataan ruang kita?
> > 
> > Karenanya kita harus membatasi kesenangan kita
> > terhadap hal-hal yang 
> > memanjakan panca indera kita. Dangdut bisa jadi
> > telah menjadi 
> > politik ekonomi. Dan juga belum tentu pula
> tersedia
> > suplai batere 
> > Alkaline secara senantiasa. Tentunya ada
> > pengecualian, khususnya 
> > bagi musisian dangdut seperti saya ini. Salam.
> > 
> > 
> > -ekadj
> > 
> > 
> > 
> 
> 



       
____________________________________________________________________________________Got
 a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
 

Kirim email ke