om eka dan bapak ibu yth,numpang lewat saja.Mungkin produk-produk fanta, coca-cola, teh botol paling jelas nilai tambahnya dan jelas sementara ini plg efisien, sehingga byk dijual di warung-warung di toli2... sy yakin suply batere alkaline maupun produk substitusinya akan tetap ada mendukung lagu dangdut sepanjang kita punya daya beli.
Penataan ruang bukan panacea yang mampu menuntaskan berbagai persoalan. Menurut hemat sya bisa menjawab persoalan lokasi yang paling efisien dan berkelanjutan sj sudah ruar biasa, sehingga bisa dihasilkan barang-barang lokal yang kompetitif dan bisa meningkatkan daya beli org dgn mengurangi cost-cost yg ga perlu krn macet, polusi, bencana ulah manusia dll. btw, kita dulu satu kampung ya di sukabumi he2 salam --- ekadj05 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Iklan batere Alkaline di tivi itu betul-betul > menonjok rahang kanan > saya. Seharusnya tidak usahlah aib dan kelemahan > bangsa ini diumbar > seperti itu. Malu kita. Bila kebiadaban dan kebuasan > bangsa ini > ternyata bisa diatasi dengan memutar lagu-lagu > bernuansa etnis, dan > kesudahannya adalah mari kita berjoget bersama-sama. > Lupakan duka > dan lara. > > Pada tahun 1989, saya pernah mengendon 2 bulan di > desa Cikalong > Tasikmalaya, dan untuk pertama kali mempelajari > secara profesional > lagu-lagu dangdut. Hasil belajar, diuji pada > panggung hiburan desa, > diiringi oleh 4 penari latar yang kebetulan semuanya > adalah calon > planner. Hingga saat ini kemampuan olah suara saya > cukup lumayan, > terutama di ruang-ruang karaoke. Tiga tahun lalu > seorang rekan > musisian, hampir saja mengorbitkan saya sebagai > artis dangdut, > dengan judul album `qasidah mabuk'. Katanya, hanya > orang yang pernah > belajar dangdut yang dapat memahami dangdut. > > Beberapa tahun yang lalu dalam perjalanan dari Palu > ke Kebon Kopi > dan terus ke Toli-toli, saya memperhatikan dengan > cermat isi warung > jualan penduduk di sepanjang jalan. Saya > mencari-cari bila > ada "kandungan lokal" di warung-warung tersebut, > namun kelihatannya > pencarian saya sia-sia. Isinya tak lebih seperti > Fanta, Teh Botol, > Taro, Chiki, serta berbagai jajanan ekspor lainnya. > Satu dua warung > menyediakan sapu ijuk dan kripik singkong yang > dikemas seadanya. > Ternyata kebutuhan konsumtif masyarakat itu pun, > termasuk yang kecil- > kecil, masih mengandalkan produksi dari luar. > Sebagai orang dari > Jawa, waktu itu saya memandang fenomena tersebut > dengan tersenyum- > senyum sekaligus prihatin. Pengalaman serupa saya > peroleh dari > berbagai perjalanan ke berbagai pelosok di nusantara > ini. > > Tahun lalu hampir sebulan saya tinggal di Nagoya, > `the city of > Toyota', sebuah kota yang karena kreatifitas dan > inovasi warganya > mampu menyumbang 10% pendapatan asli nasional, atau > lebih dari total > pdb-nya Australia. Dari tempat tersebut dengan > tersenyum-senyum > sekaligus prihatin saya memandang Indonesia. > > Barang-barang yang kita konsumsi, perlulah kita > pahami manfaatnya. > Apakah memang sekedar menyenangi kuping kita, > menyegarkan mata kita, > hingga membuat pinggul kita bergoyang. Serta sampai > pada pemahaman > posisi kita dalam `rantai primitif > produsen-konsumen'. Apakah dengan > menyediakan Camry dan X-Trail memang akan > meningkatkan kinerja kita, > misalnya. > > Pada tahun 1932 Chevrolet mendirikan pabrik mobil > pertama di Jepang. > Fenomena ini tidak menimbulkan kemanjaan bagi > masyarakat Jepang yang > pada masa itu telah mencapai kejayaan ekonominya. > Setelahnya mereka > belajar tentang `industrialisasi' dan `membuat > sendiri'. `Mass > production' di bidang otomotif mencapai puncaknya > hanya 10 tahun > setelah WW II. Pemahaman terhadap kultur dan budaya > bangsa-bangsa > terutama di Asia menyebabkan mereka berpikir tentang > efisiensi dan > ergonomi. Hingga saat ini malah Toyota, Honda, > Subaru, dkk berlomba- > lomba mendirikan pabrik di Amerika Serikat. > > Primasi kota yang kita lihat di bawah tempurung > Indonesia, memang > akan terasa signifikan. Namun lihatlah itu di bawah > langit yang luas > ini, terasa tidak ada apa-apanya. Karenanya kita > harus saling > bekerja sama, kota-desa, sumatera-jawa-hingga papua, > serta seluruh > komponen bangsa ini; di dalam suatu tatanan > manajemen sumber daya > yang berkeadilan. Apakah hal ini dapat dibangun di > dalam kebijakan > penataan ruang kita? > > Karenanya kita harus membatasi kesenangan kita > terhadap hal-hal yang > memanjakan panca indera kita. Dangdut bisa jadi > telah menjadi > politik ekonomi. Dan juga belum tentu pula tersedia > suplai batere > Alkaline secara senantiasa. Tentunya ada > pengecualian, khususnya > bagi musisian dangdut seperti saya ini. Salam. > > > -ekadj > > >

