Iklan batere Alkaline di tivi itu betul-betul menonjok rahang kanan 
saya. Seharusnya tidak usahlah aib dan kelemahan bangsa ini diumbar 
seperti itu. Malu kita. Bila kebiadaban dan kebuasan bangsa ini 
ternyata bisa diatasi dengan memutar lagu-lagu bernuansa etnis, dan 
kesudahannya adalah mari kita berjoget bersama-sama. Lupakan duka 
dan lara.

Pada tahun 1989, saya pernah mengendon 2 bulan di desa Cikalong 
Tasikmalaya, dan untuk pertama kali mempelajari secara profesional 
lagu-lagu dangdut. Hasil belajar, diuji pada panggung hiburan desa, 
diiringi oleh 4 penari latar yang kebetulan semuanya adalah calon 
planner. Hingga saat ini kemampuan olah suara saya cukup lumayan, 
terutama di ruang-ruang karaoke. Tiga tahun lalu seorang rekan 
musisian, hampir saja mengorbitkan saya sebagai artis dangdut, 
dengan judul album `qasidah mabuk'. Katanya, hanya orang yang pernah 
belajar dangdut yang dapat memahami dangdut.

Beberapa tahun yang lalu dalam perjalanan dari Palu ke Kebon Kopi 
dan terus ke Toli-toli, saya memperhatikan dengan cermat isi warung 
jualan penduduk di sepanjang jalan. Saya mencari-cari bila 
ada "kandungan lokal" di warung-warung tersebut, namun kelihatannya 
pencarian saya sia-sia. Isinya tak lebih seperti Fanta, Teh Botol, 
Taro, Chiki, serta berbagai jajanan ekspor lainnya. Satu dua warung 
menyediakan sapu ijuk dan kripik singkong yang dikemas seadanya. 
Ternyata kebutuhan konsumtif masyarakat itu pun, termasuk yang kecil-
kecil, masih mengandalkan produksi dari luar. Sebagai orang dari 
Jawa, waktu itu saya memandang fenomena tersebut dengan tersenyum-
senyum sekaligus prihatin. Pengalaman serupa saya peroleh dari 
berbagai perjalanan ke berbagai pelosok di nusantara ini.

Tahun lalu hampir sebulan saya tinggal di Nagoya, `the city of 
Toyota', sebuah kota yang karena kreatifitas dan inovasi warganya 
mampu menyumbang 10% pendapatan asli nasional, atau lebih dari total 
pdb-nya Australia. Dari tempat tersebut dengan tersenyum-senyum 
sekaligus prihatin saya memandang Indonesia.

Barang-barang yang kita konsumsi, perlulah kita pahami manfaatnya. 
Apakah memang sekedar menyenangi kuping kita, menyegarkan mata kita, 
hingga membuat pinggul kita bergoyang. Serta sampai pada pemahaman 
posisi kita dalam `rantai primitif produsen-konsumen'. Apakah dengan 
menyediakan Camry dan X-Trail memang akan meningkatkan kinerja kita, 
misalnya.

Pada tahun 1932 Chevrolet mendirikan pabrik mobil pertama di Jepang. 
Fenomena ini tidak menimbulkan kemanjaan bagi masyarakat Jepang yang 
pada masa itu telah mencapai kejayaan ekonominya. Setelahnya mereka 
belajar tentang `industrialisasi' dan `membuat sendiri'. `Mass 
production' di bidang otomotif mencapai puncaknya hanya 10 tahun 
setelah WW II. Pemahaman terhadap kultur dan budaya bangsa-bangsa 
terutama di Asia menyebabkan mereka berpikir tentang efisiensi dan 
ergonomi. Hingga saat ini malah Toyota, Honda, Subaru, dkk berlomba-
lomba mendirikan pabrik di Amerika Serikat.

Primasi kota yang kita lihat di bawah tempurung Indonesia, memang 
akan terasa signifikan. Namun lihatlah itu di bawah langit yang luas 
ini, terasa tidak ada apa-apanya. Karenanya kita harus saling 
bekerja sama, kota-desa, sumatera-jawa-hingga papua, serta seluruh 
komponen bangsa ini; di dalam suatu tatanan manajemen sumber daya 
yang berkeadilan. Apakah hal ini dapat dibangun di dalam kebijakan 
penataan ruang kita?

Karenanya kita harus membatasi kesenangan kita terhadap hal-hal yang 
memanjakan panca indera kita. Dangdut bisa jadi telah menjadi 
politik ekonomi. Dan juga belum tentu pula tersedia suplai batere 
Alkaline secara senantiasa. Tentunya ada pengecualian, khususnya 
bagi musisian dangdut seperti saya ini. Salam.


-ekadj


Kirim email ke