Ada berita dari Tempointeraktf, 2 Agustus 2007 tentang Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo : ...... "Di Gorontalo ada sekitar 70 perda. Dari jumlah itu hampir 20-an perda telah dihapus menyangkut masalah retribusi," kata Fadel. Alasannya, karena penarikan retribusi ini tidak akan berpengaruh besar dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). "Retribusi ini hanya menyumbang kurang dari 5 persen untuk PAD," tambahnya.
Menurutnya, pungutan-pungutan yang terlalu banyak ini karena kesalahan Mendagri yang mempunyai paradigma bahwa sebuah daerah akan semakin bagus jika PAD-nya makin besar. "Saya berpendapat itu keliru, PAD ini tidak akan banyak menolong, yang ada besarnya PAD hanya akan mendongkrak gaji Gubernur dan gaji anggota Dewan," jelas Fadel. Sebelum melaksanakan penghapusan perda mengenai retribusi ini, Fadel mengungkapkan pihaknya melakukan kajian selama delapan bulan. Untuk membiayai proses kajian ini, dirinya meminjam dana sebesar Rp 2 miliar dari UNDP. Komentar saya : Lho, kajian seperti itu mengapa sampai harus pinjam Rp 2 milyar dari UNDP? Padahal kesimpulan semacam itu sudah berkali-kali saya tulis di referensi ini 3 tahun yang lalu (yah ....siapa sih BTS itu?). Lagi pula berita itu kayaknya kurang akurat. Tidak mungkin Provinsi Gorontalo pinjam langsung dana luar negeri. Menurut UU 33/2004 harus melalui Departemen Keuangan. Selain itu, dana pinjaman daerah tidak boleh digunakan untuk kajian-kajian, tetapi hanya untuk infrastruktur yang menghasilkan penerimaan (Revenue Generating). Barangkali yang benar, yang pinjam itu Pemerntah Pusat. Kajiannya dilaksanakan oleh Depdagri, atau mungkin Depkeu, bukan oleh Provinsi Gorontalo, apalagi oleh Fadel secara pribadi (...dirinya meminjam...). Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: Farid Irsyad To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, July 30, 2007 1:29 PM Subject: [referensi] re: Fadel Hebat? Beberapa kali saya mendengar Fadel banyak dipuji-puji oleh masyarakat. Satu contoh, disebutkan ".pada waktu Fadel baru terpilih (periode 1)." ... (itu artinya pada masa sebuah propinsi baru saja dibentuk .. dan pada umumya sebuah propinsi baru... baik rakyatnya maupun pemerintah daerah dan gubernurnya umumnya bersemangat membangun yang tinggi).... Fadel disebutkan sebagai ." 'mengeluh' . tentang kelakuan birokrasi (pemdanya)"... Padahal namanya juga dari semula visi pemda tingkat kabupaten menjadi visi tingkat propinsi..oleh kurang lebih SDM yang sama.sepertinya untuk tahun-tahun awal bukankah itu adalah hal yang tak dapat dihindarkan.. apalagi mengingat bahwa banyak SDM dari pemda adalah umumnya hasil nepotisme. bukan hasil seleksi ketat... Lalu Fadel disebutkan sebagai berkata : "..bagaimana ekonomi gorontalo maju, kalau membangun jalan yang dipentingkan hanya dari ibukota provinsi ke ibukota kabupaten terus ke ibukota kecamatan... padahal lahan yang luas dengan potensi luar biasa tidak mempunyai akses... ". Dalam pikiran saya, makanya Gorontalo dibuat menjadi propinsi baru .. salah satu sebabnya adalah karena semula ia termasuk "wilayah tertinggal".. dimana salah satu cirinya adalah jaringan jalan-jalannya tak sempurna,. seperti dengan belum dibukanya jalan-jalan kewilayah pedalamannya... dan jalan-jalan utamanyapun umumnya juga belum memadai. Dengan dana yang umumnya terbatas maka kiranya wajar bahwa Gorontalo tentu harus membangun jaringan jalannya secara mencicil.. Saya hanya berpikir bahwa jalan-jalan dari ibukota propinsi keibukota kabupaten dan terus kekota-kota kecamatannya (yang jumlahnya jelas dan terbatas) tentu polanya adalah linier.dan jumlah panjang jalannya (tentu nya) terbatas... Sementara itu jalan-jalan ke "lahan yang luas dengan potensi luar biasa" .. itu pengertiannya sepertinya bukan pola jalan linier. dan total mileagenya tentu jauh lebih panjang dari total jalan-jalan propinsi, kabupaten dan kecamatannya.. Dan dari semula "tidak ada"... kalau untuk tahap pertama "sekedar dibuka dulu, dan terbuat dari jalan tanah saja dulu".. tentunya juga itu sudah dapat dikatakan sebagai "luar biasa".. Jadi kalaupun dengan dana terbatas Gorontalo akan 'mengutamakan' pembangunan jaringan "jalan pedalamannya". rasanya tetap saja.. pada tahun-tahun pertama juga kiranya tak akan banyak mileage pembangunan jalan yang dapat dibuatnya.. Jadi kiranya masalah pembangunan jalan dengan dana terbatas . mau diputar-puter bagaimanapun.. tetap saja.. hasilnya ya masih itu-itu juga.. artinya tahun-tahun pertama tentu tetap saja belum dapat amat memuaskan hasilnya .. atau dengan kata lain... tak ada masalah serius dengan prioritas pembangunan jalan-jalan di Gorontalo sana. kecuali ada korupsi besar-besaran atasnya.... ... Selanjutnya .. tentang strategi jagung (model pertanian 120 hari panen).. bahwa seseorang telah diangkat sebagai gubernur.. sebuah jabatan tinggi, dengan kekuasaan cukup tinggi dan fasilitas yang cukup... wajar bahwa ia dituntut harus dapat memberikan karya nyatanya ... wajar bahwa seorang gubernur harus dapat mendorong produktivitas warga masyarakatnya.. dengan modal ruang yang ada .. baik untuk ditanami dengan produk pertanian . atau mungkin dilakukan bermacam budidaya lainnya. atas ruang yang ada. Menurut saya.. prestasi seperti yang dicapai Fadel seharusnya merupakan "kriteria standar" dari seorang pemimpin ... bekerja keras, tidak korupsi, dan memajukan daerahnya..karena wong si gubernur itu sendiri juga keluarganya..."sudah dimajukan derajatnya" dengan ia diangkat sebagai gubernur........ Saya jadi kurang jelas... sebenarnya kriterianya "gubernur hebat" itu seperti apa ya?...... apakah model yang .."sudah diakhir masa jabatannya tidak diseret-seret kekejaksaan dan pengadilan,. sudah begitu masih memberikan 'karya n yatanya pula"?.. Kalau begitu, lalu kriterianya gubernur yang "biasa-biasa saja" itu yang bagaimana ya?... lalu gubernur yang "tidak bagus" itu yang bagaimana, lalu kalau "gubernur yang tercela" itu yang bagaimana?......... salam, farid ------------------------------------------------------------------------------ Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out.

