Pak BTS,
1. Mungkin bisa diposting lagi tulisan di referensi waktu itu?
2. Yap, mungkin berita itu memang kurang akurat. Mungkin saja maksudnya
mendapat bantuan, bukan pinjaman. Bisa saja 2 miliar itu itu berbagai komponen
proyek studinya, dan kajian Retribusi itu salah satunya, jadi gak total 2
milyar ... jadi banyak "barangkali-barangkali" yang ada di sini. Mungkin Pak
BTS punya akses informasi ke UNDP biar jelas..... (soalnya saya juga meragukan
"barangkali"-nya pak BTS.
thanks, pak
Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Komentar saya : Lho, kajian seperti itu mengapa sampai harus pinjam Rp 2 milyar
dari UNDP? Padahal kesimpulan semacam itu sudah berkali-kali saya tulis di
referensi ini 3 tahun yang lalu (yah ....siapa sih BTS itu?). Lagi pula berita
itu kayaknya kurang akurat. Tidak mungkin Provinsi Gorontalo pinjam langsung
dana luar negeri. Menurut UU 33/2004 harus melalui Departemen Keuangan.
Selain itu, dana pinjaman daerah tidak boleh digunakan untuk kajian-kajian,
tetapi hanya untuk infrastruktur yang menghasilkan penerimaan (Revenue
Generating). Barangkali yang benar, yang pinjam itu Pemerntah Pusat. Kajiannya
dilaksanakan oleh Depdagri, atau mungkin Depkeu, bukan oleh Provinsi
Gorontalo, apalagi oleh Fadel secara pribadi (...dirinya meminjam...).
Thanks. CU. BTS.
----- Original Message -----
From: Farid Irsyad
To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, July 30, 2007 1:29 PM
Subject: [referensi] re: Fadel Hebat?
Beberapa kali saya mendengar Fadel banyak dipuji-puji oleh masyarakat.
Satu contoh, disebutkan
pada waktu Fadel baru terpilih (periode 1)
.. (itu artinya pada masa sebuah propinsi baru saja dibentuk
. dan pada
umumya sebuah propinsi baru
.. baik rakyatnya maupun pemerintah daerah dan
gubernurnya umumnya bersemangat membangun yang tinggi)
.
Fadel disebutkan sebagai
" 'mengeluh
tentang kelakuan birokrasi
(pemdanya)"
..
Padahal namanya juga dari semula visi pemda tingkat kabupaten menjadi
visi tingkat propinsi
.oleh kurang lebih SDM yang sama
sepertinya untuk
tahun-tahun awal bukankah itu adalah hal yang tak dapat dihindarkan..
apalagi mengingat bahwa banyak SDM dari pemda adalah umumnya hasil
nepotisme
bukan hasil seleksi ketat
.
Lalu Fadel disebutkan sebagai berkata :
.bagaimana ekonomi gorontalo
maju, kalau membangun jalan yang dipentingkan hanya dari ibukota provinsi ke
ibukota kabupaten terus ke ibukota kecamatan... padahal lahan yang luas
dengan potensi luar biasa tidak mempunyai akses... .
Dalam pikiran saya, makanya Gorontalo dibuat menjadi propinsi baru
.
salah satu sebabnya adalah karena semula ia termasuk wilayah tertinggal
dimana salah satu cirinya adalah jaringan jalan-jalannya tak sempurna,
seperti dengan belum dibukanya jalan-jalan kewilayah pedalamannya
.. dan
jalan-jalan utamanyapun umumnya juga belum memadai
Dengan dana yang umumnya terbatas maka kiranya wajar bahwa Gorontalo
tentu harus membangun jaringan jalannya secara mencicil
Saya hanya berpikir bahwa jalan-jalan dari ibukota propinsi keibukota
kabupaten dan terus kekota-kota kecamatannya (yang jumlahnya jelas dan
terbatas) tentu polanya adalah linier
dan jumlah panjang jalannya (tentu
nya) terbatas
..
Sementara itu jalan-jalan ke lahan yang luas dengan potensi luar biasa
itu pengertiannya sepertinya bukan pola jalan linier
dan total
mileagenya tentu jauh lebih panjang dari total jalan-jalan propinsi,
kabupaten dan kecamatannya
Dan dari semula tidak ada
.. kalau untuk tahap pertama sekedar dibuka
dulu, dan terbuat dari jalan tanah saja dulu
. tentunya juga itu sudah
dapat dikatakan sebagai luar biasa
Jadi kalaupun dengan dana terbatas Gorontalo akan mengutamakan
pembangunan jaringan jalan pedalamannya
rasanya tetap saja.. pada
tahun-tahun pertama juga kiranya tak akan banyak mileage pembangunan jalan
yang dapat dibuatnya
Jadi kiranya masalah pembangunan jalan dengan dana terbatas
mau
diputar-puter bagaimanapun.. tetap saja.. hasilnya ya masih itu-itu juga
.
artinya tahun-tahun pertama tentu tetap saja belum dapat amat memuaskan
hasilnya
. atau dengan kata lain
.. tak ada masalah serius dengan prioritas
pembangunan jalan-jalan di Gorontalo sana
kecuali ada korupsi besar-besaran
atasnya
..
.
Selanjutnya
. tentang strategi jagung (model pertanian 120 hari
panen)
bahwa seseorang telah diangkat sebagai gubernur.. sebuah jabatan tinggi,
dengan kekuasaan cukup tinggi dan fasilitas yang cukup
.. wajar bahwa ia
dituntut harus dapat memberikan karya nyatanya
..
wajar bahwa seorang gubernur harus dapat mendorong produktivitas warga
masyarakatnya
. dengan modal ruang yang ada
. baik untuk ditanami dengan
produk pertanian
atau mungkin dilakukan bermacam budidaya lainnya
atas
ruang yang ada
Menurut saya
. prestasi seperti yang dicapai Fadel seharusnya merupakan
kriteria standar dari seorang pemimpin
. bekerja keras, tidak korupsi,
dan memajukan daerahnya
karena wong si gubernur itu sendiri juga
keluarganya..."sudah dimajukan derajatnya" dengan ia diangkat sebagai
gubernur........
Saya jadi kurang jelas
.. sebenarnya kriterianya gubernur hebat itu
seperti apa ya?...... apakah model yang
.sudah diakhir masa jabatannya
tidak diseret-seret kekejaksaan dan pengadilan,
sudah begitu masih
memberikan karya n yatanya pula?
.
Kalau begitu, lalu kriterianya gubernur yang biasa-biasa saja itu yang
bagaimana ya?... lalu gubernur yang "tidak bagus" itu yang bagaimana, lalu
kalau "gubernur yang tercela" itu yang bagaimana?.........
salam,
farid
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who
knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
B. Dwiagus Stepantoro
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus.blogspot.com
Just be open,... who knows lightning will strike!!
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell.