Yth Pak Mod, Bu (bener kan ’nih?) Behesthi, teman-teman,

 

Harap Bu Hesthi tak berkeberatan, posting beliau saya kembalikan ke TATA
RUANG NGGAK ADE MATINYE! Selain untuk mempercepat kompilasi kelak,
berdisiplin dalam ngepos, utamanya karena  beberapa hal penting berikut:

 

1.      Sangat mendukung, CINTA mendasari segala, sekaligus tujuan segala,
juga tata-cara segala. Tak ada kerja yang berhasil jika tak didasari rasa
cinta akan pekerjaan itu --- beserta segenap manusia pelaku dan lingkungan
terkait. Tanya Mpu (Begawan) Aby(asa).
2.      Memperoleh penegasan, teknik overlay adalah salah satu alusista
(alat utama sistem senjata) para perencana; saya tambahkan, dengan demikian
sangat bisa berguna dan disalah-gunakan. Maka TUJUAN dalam merencana menjadi
sangat penting, mau untuk kepentingan diri sendiri/kelompok, atau
kemaslahatan umum (general public)?
3.      Berterima kasih, memperoleh kelengkapan "BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN
HANA DARMA MANGRVA"  dengan artinya ”Berbeda beda akan menuju kepada yang
Ika, itulah kebenaran yang tidak mendua (TAK ADA KEBENARAN MENDUA)”. Asli
dari Mpu Tantular? Saya garisbawahi akan menuju kepada, yang menandakan
sebuah proses, bukan produk. Seperti juga TUJUAN adalah proses, dibandingkan
dengan SASARAN yang adalah produk. Maka yang kita sebut TUJUAN itu
mengandung sejumlah SASARAN, jadi wujudnya tidak lain adalah sekumpulan
SASARAN. Yang disebut terakhir ini, mudah diwujudkan dan terukur dalam
kehidupan sehari-hari lapangan, sedangkan TUJUAN bersifat ”sesuatu yang tak
henti-hentinya dikejar”. Kami pernah ’terpaksa’ mengkategorikannya pula ke
TUJUAN DASAR, TUJUAN AKHIR, TUJUAN ANTARA, etc demi bisa ”bunyi” dalam
dokumen rencana, utamanya waktu perlu menjawab kapan/bilamana? Akibatnya
tentu perlu pula mengenal SASARAN DASAR, SASARAN AKHIR, SASARAN ANTARA. Nah,
Pak Aby sering menghimbau produk rencana untuk menghapus kemiskinan dan
memberantas pengangguran: ok, apakah sasaran-sasarannya, dalam container
tujuan yang tingkat mana? Nanti physical planners berkontribusi menjelaskan
di mana.
4.      Satu dekade lalu pernah saya harus berpikir keras menjawab
pertanyaan, apa filosofi dasar penataan ruang di Republik Indonesia Merdeka,
yang menjadi penyebab ’nggak ade matinye itu? Saya coba jual ide: Merdeka,
Tropika, dan Bersama. Tropika adalah lingkungan fisik kita, nasib wilayah
beginian di seluruh dunia adalah menjadi jarahan sumber alam untuk bangsa
sub-tropik dan iklim dingin (ingat Maya, Inca, Kenya, empatperlima Afrika?
Untuk tak menyebut Indonesia, Philipina, Malaysia!). Bersama adalah sifat
asli bangsa --- ada isi ”gotong-royong” di situ, ada pula isi ”Sabang
dicubit, Merauke sakit, Yogya bangkit”. Harap periksa Files milis, dalam
directory saya, makalah Commonality.
5.      Yang agak sulit diterima (oleh para texbook thinkers atau yang
bertulang-sumsum budaya ”Barat”) adalah konotasi NKRI tentang ”Merdeka”. Itu
tidak semata-mata independence, tetapi kemerdekaan yang
dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan yang Maha Esa (vide preambul UUD 45 dan
Pancasila). Sehingga juga tidak semata-mata bebas berkelakuan praxis segala
macam demi ”pursuit of happiness” setiap orang menurut deklarasi kemerdekaan
Amerika Serikat. Termasuk adab tata cara menulis di sebuah milis.
6.      Kelanjutannya jadi menarik. Demi komunikasi dengan budaya Barat,
yang kita akui merajai segala di dunia sekarang, saya lihat bahasa
Inggerisnya Bhinneka Tunggal Ika yang umum, yakni Unity in Diversity.
Bandingkan dengan motto negara Amerika Serikat E Pluribus Unum, yang mereka
sendiri artikan, Out of Many, One. Dapatkah terdeteksi Hesthi, bagaimana
aplikasi jahat dari bhinneka tunggal ika bisa menjurus ke penyeragaman
(baca: pendiktean) segala macam, seperti pernah kita alami 32 tahun? Dan
aplikasi jahat dari e pluribus unum dapat menjurus kepada Bush, Amerika
hanya hidup kalau selebihnya dunia mati, dua ratus tahun gunboat policy for
democracy, coca cola kapan saja di mana saja, dan Microsoft tak boleh
diganggu-gugat ”hak kepemilikan intelektualnya”, bahkan berlaku philantropik
lebih karena meringankan pajak, bukannya tersebab mengamalkan perintah
Tuhan. Maka kalau tahu negatifnya, tentu kita bisa berusaha ke arah aplikasi
yang positif. Itulah makna perlombaan kebudayaan, ”Indonesia di Barat,
Amerika Serikat di Timur”.
7.      Baik kita perdalam bersama, semuanya terjabar ke isi toolkit
perencana, menjiwai keseluruhan proses penataan ruang, dan memberi batasan
tegas kepada jenis-jenis overlay mana-mana yang ”mengurangi luasnya areal
layer yang buruk ... atau memperluas areal layer yang baik... ” dalam benak
kita. 

 

Wassalam,

RMaris

 

   _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Behesthi Zahra Mardiah
Sent: 14 Nopember 2007 10:05
To: [email protected]
Subject: Bls: [referensi] Harian Umum Kompas adalah salah satu Layer di
Indonesia.

 

Salam sejahtera untuk semua.

Karena Cinta duri tidak kita rasakan karena keindahan mawar.

Karena Benci Harumnya mawar mengakibatkan hidung kita tertusuk duri.

Semoga saudara sekalian menikmati harumnya mawar referensi ini dan bisa
mengabaikan duri-duri yang mungkin ada.

 

Dalam proses perencanaan kita amati berbagai aspek, setiap aspek dipetakan
menjadi satu peta tematik, beberapa peta tematik kita overlay-kan untuk
memperoleh peta baru yang mengandung informasi yang lebih baik sebagai hasil
kesimpulannya. Dr. Dimtri Mahayana mengatakan dalam buku SEPIA bahwa seorang
yang memiliki Spritual Inteligen yang tinggi mampu mengambil kesimpulan yang
lebih baik dari dua data atau lebih. Prinsip "Perbedaan adalah Rahmat".
Bangsa Indonesai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan bangsa yang
berupaya untuk meningkatkan spiritual inteligennya. Bahkan semboyan
"Bhinneka Tunggal Ika" ini dikaui sebagai Kebenaran yang tidak mendua
sehingga seloka tersebut lengkapnya adalah "BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA
DARMA MANGRVA"  artinya " Berbeda beda akan menuju kepada yang Ika, itulah
kebenaran yang tidak mendua (TAK ADA KEBENARAN MENDUA). Hal ini konsep
tauhid,  menuju pada yang Esa atau secara pemikiran akan menghasilkan
kesimpulan yang Tunggal (pada limit waktu yang terhingga). Tauhid ini jangan
dipahami tuhan itu satu sebagai jumlah matematis, kalau demikian maka akan
ada yag bilang tuhannya umat-A 3 (tiga)  dan tuhannya umat-B 99 (sembilan
puluh sembilan). 

Dalam Perencanaan dan saya berharap dalam Referensi ini kita memiliki sikap
yang rasional planner yaitu apapun penbdapat peserta dianggap sebagai salah
satu layer atau beberapa layer, kemudian yang lainnya mengemukakan layernya
sendiri, meng-overlay--kan dan membuat kesimpulan (yang bisa jadi layer
baru). 

Mohon para peserta menanggapi apa yang ditulis dan bukan bagaimana keadaan
(emosi) penulis, kecuali emosi positif yg menambah gairah, semangat dan
kegembiraan bagi yang lain. 

Apa yang ditulis dalam kompas, oleh siapapun merupakan layer yang ada di
Indonesia. Ada layer yang menggambarkan kondisi yg tidak kita inginkan
seperti Korupsi, Kerusakan Hutan, Meluasnya Banjir, kemiskinan dan
pengganguran, Wabah Penyakit dll dan ada layer yg menggambarkan hal yg kita
inginkan. 

Apakah kita sebagai Sarjana (yg telah menggunakan uang negara untuk subsidi
kuliah kita, bs langsung atau melalui Ortu, beasiswa) memiliki peran
memperluas layer yang baik dan mengurangi layer yang buruk. IYA BANGET! 

Salah satu tujuan saya ikut referensi ini adalah mengurangi luasnya areal
layer yang buruk dalam benak saya atau memperluas areal layer yang baik
dalam dalam benak saya. Luas areal yang baik bertambah karena sy bekerja
keras memahami ide-ide baik yang saudaraku tulis. Dan berusaha keras
memasukkan ide-ide yg tidak positif agar masuk recycle (krn pada satu saat
bisa diolah menjadi energi untuk hal-hal yang baik).

Jadi kalau banyak kejadian buruk (kerusakan/Corrupt) di Indonesia, Maka saya
bertanya pada diri sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya? 

Saya berbuat sesuai potensi dan sumberdaya yang menjadi tanggung jawab saya.
Kalau bisa saya berkerja dengan sumberdaya x% dengan hasil y%. x+y=100%,
x<<y.

 

Cheriio

Jangan serius kecuali untuk hal-hal yang tidak serius.

Aku menangis tangis bahagia.

Aku menangis karena tercerahkan

Aku menangis karena menahan tawa

 

Salam

HESTHI RAHARJA


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.30/1127 - Release Date: 12/11/2007
21:19



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.31/1129 - Release Date: 13/11/2007
21:22
 

Kirim email ke