Ysh Bing Andri dan rekan sekalian. 

Sebetulnya
pembagian waktu kerja untuk mengurangi kemacetan transportasi itu sudah
terjadi. Contohnya "Oil Company" itu masuk 7.30 pulang jam
15.00. Anak-anak sekolah jam 07.00-12.30, kemudian ada sekolah sore jam
13.00-17.00. Para konsultan biasanya masuk jam 10.00, pulangnya jam 19.00
atau malah pulang jam 22.00. Pedagang biasanya mulai jam 10.00. Pegawai
negeri masuk jam 08.00, tetapi prakteknya jam 09.00 atau sering malah jam
10.00. Para bos umumnya masuk jam 09.00, sedangkan pejabat Pemerintah ada
yang 07.30, ada juga yang jam 09.00. Jadi intinya, ide pengaturan waktu
kerja itu secara alami sudah berlangsung. Tapi koq masih macet? Ya
jawabnya disebabkan oleh orang-orang yang masih suka naik mobil, apalagi
yang punya sopir (mobil pribadi). Coba saja gaji sopir dinaikkan menjadi
Rp 5 juta, maka jumlah pemakaian mobil pribadi akan berkurang. 

Sepengetahuan saya, sasaran trasportasi kota itu bukan mengurangi
kemacetan. Kemacetan adalah dampak dari mis-management transportasi dan
mass behavior. Sasaran transportasi kota adalah bagaimana agar semua orang
itu dengan mudah mencapai tujuan dengan moda yang ada. Nah jadi pemerintah
itu harus menyediakan prasarana yang memungkinkan pelaku mobilitas itu
dapat mencapai tujuannya itu. Oleh karena itu tak salah kalau Pemerintah
DKI itu berusaha membangun jaringan transportasi umum sebaik mungkin agar
semua orang mau memanfaatkan. Kalau semua sudah tersedia, tinggal
masyarakat memilih. Kalau ternyata masyarakat masih tetap memakai mobil
pribadinya, walaupun seluruh prasarana yang baik sudah tersedia, ya
salahnya sendiri kalau macet. Jadi nggak usah terlalu dipikirkan kemacetan
itu karena sebagian masyarakat memang masih suka menikmati kendaraan yang
dimiliki, walau macet. Masak punya mobil yang mahal tidak dipakai, apalagi
bisa membayar sopir dengan murah. 

Pemerintah DKI sendiri sudah
punya rencana tentang transportasi kota yang disebut dengan Rencana Makro
Transportasi Kota (lupa judul tepatnya, Koko gimana?). Itu rencana sudah
sangat bagus. Jadi kita mesti dukung. Apakah kalau semua rencana DKI itu
selesai apakah tidak macet? MASIH MACET bung! Soalnya kalau semua orang
pake kendaraan umum, jalanan khan kosong, maka "saya" naik mobil
lagi. Jadi jalan terisi lagi sampai pada tingkat kemacetan tertentu. Jadi
macet masih tetap ada,.... kecuali...kecuali,... harga BBM itu tidak
disubsidi. 

Thanks. CU. BTS. 



Kirim email ke