Cak Andri dan milister semuanya ysh,  
 
 
 Saya mohon ijin  ikutan nimbrung rembug topik anda diatas  yang cukup 
menarik.........
 Menurut penerawangan saya, apa-apa yang menyangkut gangguan pada kenikmatan 
hidup atau kerunyeman atau idealisme  keteraturan kota Jkt .... sepertinya 
tidak dapat terlepas dari  masalah primacy kota Jkt. yang terlampau menonjol 
.......
 
 
 Sebelum tahun 1990-an dimana angka urbanisasi kita dapat dibilang masih 
‘rendah’ (1980 ‘hanya’ 17.7%) .... Jkt belum mengalami situasi kemacetan 
lalulintas yang parah...........
 Sampai sebelum tahun 1980-an misalnya...... deretan mobil yang menunggu lampu 
merah didepan bunderan HI dari arah Kebayoran  menjelang pukul 8.00 pagi  
misalnya ..... paling jauh juga sekedar baru sampai tanjakan Dukuh  Atas saja 
........ sementara dari Kebayoran sampai lewat Semanggipun mobil masih bisa 
dipacu ..........
 
 
 Merefer pada papernya bu Budhi Tjahjati dan pak Imron Bulkin  (1994) 
menyangkut indeks primacy kota ..... dimana disebutkan bahwa pada tahun 1990-an 
 penduduk perkotaan  yang tinggal dikota-kota besar negara maju seperti AS atau 
Perancis persentasenya tidak terlampau tinggi (di New York sebesar 8.7%,  di LA 
6,4%, Paris 8.7%) ..... karena disana primacy kota telah didistribusikan ke 
banyak kota-kota lain......
 
 
 Sementara itu dinegara sedang berkembang cukup tinggi persentasenya  (di 
Bangkok 56.8%, Mexico City 31.4%, Seoul 35.7%, Buenos Aires 41.3%).........
 Jakarta sih pada tahun 1990 dengan penduduk 8,2 juta jiwa  tercatat 
persentasenya sebagai tidak   terlalu tinggi (17.99%).... tetapi saya kira kita 
perlu melihat total  persentase penduduk perkotaan dikota-kota besar diseluruh 
Jawa itu (Bdg, Sby, Smg, Yogya, Solo, Crb, Mlg dsb) berapa ..... sebab Jawa toh 
akhirnya juga mirip sebagai “pulau  kota” atau “kota pulau” juga ...... jadi 
primacynya secara total kiranya  tak jauh berbeda dengan kota-kotabesar utama 
negara sedang berkembang tersebut diatas .....  
 
 
 Soal ketidaknyamanan kota Jakarta seperti kemacetan lalulintas, maupun 
padatnya perumahan dan menurunnya kwalitas lingkungan, ..... saya kira 
masalahnya tak terlepas dari  favoritisme penduduk tentang kota pilihan tujuan 
urbanisasi yang kemudian menghasilkan   primacy kota Jkt  yang belum pernah 
secara terencana diredakan dengan pengembangan countermagnet city ditempat lain 
yang jauh (maaf, biasa Cak, maksud saya Greater Makassar)  ....dengan besaran 
yang sekiranya setara ...... sebagai alternatif tujuan urbanisasi dan 
investasi.............
 
 
 Kalau saja Jkt itu sama atau mirip seperti Singapura ....... maksud saya sama 
atau mirip dalam hal “berbagai  pembatasannya yang ketat”.... seperti bahwa  
penduduk DKI juga harus ber-KB super ketat..... siapa yang masuk ke Jkt harus 
memakai visa .... demikian juga kendaraan diluar DKI (walau dari suburban 
seperti Bodetabek)   juga dilarang  masuk ke Jkt ...... maka setelah itu 
berbagai macam pembatasan atau pengaturan yang telah dibuat (3 in 1 dsb) maupun 
yang diusulkan  seperti yang dari Cak Andri atau oleh teman lainnya saya kira 
baru akan dapat berjalan efektif...... dan lain daripada itu saya kira tidak 
akan efektif.....
 
 
 Keadaan sekarang dimana Jakarta adalah kota yang  ‘terbuka’ dimana jumlah 
penduduk darimanapun serta kendaraan dari manapun boleh masuk Jkt tanpa batas 
.. tentu saja berbagai macam teknik pengaturan yang bagaimanapun bentuknya .. 
atau janji oleh gubernur baru siapapun ..... baik ia planner atau bukan ..... 
tentu kemacetan lalulintas Jkt tak akan mungkin pernah beres .... walau nanti 
Jkt punya subway sekalipun........ sepanjang  samasekali tak pernah ada yang 
berbicara tentang pengembangan countermagnet city ditempat lain sebagai kota 
tandingan Jkt ..........
 
 
 Masalah cukup serius adalah bahwa  sampai saat ini .... masyarakat atau negara 
tidak memiliki lembaga komisi independen sebagai perwakilan DPR untuk bidang 
perencanaan ruang.... .. sebagai partner setara dari pemerintah/ Badan 
Koordinasi Tata Ruang Nasional/ BKTRN ..... yang khusus  memikirkan tentang 
masalah perencanaan ruang.......  tempat dimana masyarakat memiliki tempat 
untuk curhat masalah  keruangan yang tak memuaskan ..... atau dengan kata lain 
kita belum memiliki lembaga kontrol perencanaan ruang sebagai  kepanjangan atau 
perwakilan DPR untuk peran kontrol yang efektif dan setara kepada 
eksekutif...........
 
 
 Apa Cak Andri mau merintis dan mempelopori usulan mendirikan Komisi Nasional 
Independen Untuk Penataan Ruang kepada Presiden dan DPR?.....  
 
 
 Sementara demikian  dan salam,
 aby  
 
 
 
 
 "Mohammad Andri Budiman" [EMAIL PROTECTED] Wrote :   
 
 
 Date: Sun, 25 Nov 2007 03:28:10 -0000  
 Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jakarta  
 
 
 Pak BTS ysh.,
 
 
 Sebenarnya kategori X, Y, dan Z yang saya usulkan tidaklah serta-merta
 didefinisikan sebagai pembagian berdasarkan type usaha [misal type X  
 adalah perusahaan minyak berangkat pukul 06.30-08.30, type Y adalah  
 anak sekolah, dst.].  
 Kategori X yang saya maksudkan adalah sekolah, plus kantor, plus  
 pabrik, dst. dengan ukuran tertentu, kategori Y adalah sekolah,  
 kantor, pabrik dengan ukuran yang lain, dsb.). Dengan demikian,  
 pembagian X, Y, Z, dst. adalah berdasarkan type usaha yang campur-
 baur statistically speaking, *bukan* per satuan type usaha.
 Kembali saya tulis ulang - karena saya juga mendapat tanggapan di  
 milis tetangga mengenai bagaimana bila daerah dengan kategori berbeda  
 ingin berinteraksi?  
 Untuk interaksi antar-katergori, masih ada "daerah irisan" tempat  
 pertemuan ketiga lingkaran Venn.
 
 
 Contoh:
 Type X: beroperasi pukul 7 - 15
 Type Y: beroperasi pukul 9 - 17
 Type Z: beroperasi pukul 11 - 19
 Maka ada daerah arsiran yang merupakan perpotongan X, Y, Z yaitu pukul
 11 - 15. Empat jam. Cukup untuk meeting empat slot.
 [maaf, bahasa di bawah saya bawa santai]
 Dan emang ada meeting yang empat jam?
 Dan apakah efektif kalau lebih dari dua jam? Nggak ada yang tidur,  
 nghayal, ngantuk?
 Kalau ada yang lebih dari empat jam, bisa sekalian dinner aja sambil  
 minta uang lembur." :)
 Masih sulit? Cobalah solusi Teknologi Informasi, biar tetap bisa  
 berhubungan dengan Aussie dan Inggris yang time-zone-nya saja sudah  
 beda tapi tetap bisa meeting dengan Net-Meeting, dll. yang bukan  
 kepiting yang kupiting." :)
 Jadi, acara chatting dengan bule cewek - yang bisa jadi malah laki-
 laki India yang brewok karena nggak nampak tampangnya di belahan  
 dunia sana" :) - yang arguably merupakan korupsi waktu dan bandwidth  
 kantor, bisa diminimalisasi karena dengan sangat hormat dan terpaksa  
 harus konsentrasi meeting online. :)
 
 
 Salam,
 
 
 Andri
 SI 93 (Subjur Transport)
   
 “BambangTata Samiadji” <[EMAIL PROTECTED]> Wrote :  
 
 
 Ysh Bing Andri dan rekan sekalian.  
   
 Sebetulnya
 pembagian waktu kerja untuk mengurangi kemacetan transportasi itu  
 sudah terjadi. Contohnya "Oil Company" itu masuk 7.30 pulang jam
 15.00. Anak-anak sekolah jam 07.00-12.30, kemudian ada sekolah sore  
 jam  13.00-17.00. Para konsultan biasanya masuk jam 10.00, pulangnya jam  
 19.00  atau malah pulang jam 22.00. Pedagang biasanya mulai jam 10.00.  
 Pegawai   negeri masuk jam 08.00, tetapi prakteknya jam 09.00 atau sering  
 malah jam  10.00. Para bos umumnya masuk jam 09.00, sedangkan pejabat  
 Pemerintah ada  yang 07.30, ada juga yang jam 09.00. Jadi intinya, ide 
pengaturan waktu  kerja itu secara alami sudah berlangsung. Tapi koq masih 
macet? Ya  jawabnya disebabkan oleh orang-orang yang masih suka naik mobil, 
apalagi  yang punya sopir (mobil pribadi). Coba saja gaji sopir dinaikkan  
menjadi  Rp 5 juta, maka jumlah pemakaian mobil pribadi akan berkurang.  
 
 
 Sepengetahuan saya, sasaran trasportasi kota itu bukan mengurangi
 kemacetan. Kemacetan adalah dampak dari mis-management transportasi  
 dan   mass behavior. Sasaran transportasi kota adalah bagaimana agar  
 semua orang   itu dengan mudah mencapai tujuan dengan moda yang ada. Nah jadi  
pemerintah itu harus menyediakan prasarana yang memungkinkan pelaku mobilitas  
itu   dapat mencapai tujuannya itu. Oleh karena itu tak salah kalau  Pemerintah 
  DKI itu berusaha membangun jaringan transportasi umum sebaik  mungkin agar  
semua orang mau memanfaatkan. Kalau semua sudah tersedia, tinggal  masyarakat 
memilih. Kalau ternyata masyarakat masih tetap memakai  mobil   pribadinya, 
walaupun seluruh prasarana yang baik sudah tersedia, ya   salahnya sendiri 
kalau macet. Jadi nggak usah terlalu dipikirkan  kemacetan
 itu karena sebagian masyarakat memang masih suka menikmati  
 kendaraan yang  dimiliki, walau macet. Masak punya mobil yang mahal tidak 
dipakai, apalagi   bisa membayar sopir dengan murah.  
 Pemerintah DKI sendiri sudah   punya rencana tentang transportasi kota yang 
disebut dengan Rencana  Makro  Transportasi Kota (lupa judul tepatnya, Koko 
gimana?). Itu rencana sudah sangat bagus. Jadi kita mesti dukung. Apakah kalau 
semua rencana  
 DKI itu  selesai apakah tidak macet? MASIH MACET bung! Soalnya kalau semua 
orang  pake kendaraan umum, jalanan khan kosong, maka "saya" naik mobil  lagi. 
Jadi jalan terisi lagi sampai pada tingkat kemacetan  
 tertentu. Jadi  macet masih tetap ada,.... kecuali...kecuali, ... harga BBM 
itu tidak  disubsidi.  
 
 
 Thanks. CU. BTS.
 
 
 "Mohammad Andri Budiman" <[EMAIL PROTECTED]>   wrote :
 

 
 Dear Rekan Referensiers ysh.,

Berikut ini tulisan saya di milis tetangga dalam rangka ikut urun rembug 
mengenai kemacetan Jakarta.
Terima kasih apabila Rekan-rekan bersedia memberitahukan dimana letak 
kelemahan gagasan ini.
Mohon maaf bahasa yang saya gunakan bersifat santai.

Transportasi - bagi saya pribadi yang tidak suka kompetisi, tapi 
alhamdulilLah selalu dapet rezeki - lebih baik bersifat 
fun-fearless- and-not-for- female-only. :)

Jadi, bagi saya, selaku publik non-elit yang biarpun lulusan subjur 
transportasi, transportasi lebih tepat bersifat (atau disifatkan) 
rekreatif. Fun. Sight-seeing. Change-the-route- every-time- you-wish. With 
different "modas" too. With every respect.

Dan janganlah berargumen bahwa, "Macet itu kan sudah adventurous, " 
mending try-out-your- adrenaline naik Halilintar di Dufan aja atau ke 
Taman Safari kalau si Komo udah nggak lewat. :) Dan jangan lupa, 
"asuransi kecelakaan tembak" kalau Bung Yapto, L.O.L. bisa jadi ngiri 
karena merasa "kalah jantan." :)

Segmen utama transportasi janganlah difokuskan untuk orang kerja dan 
orang sekolah/kuliah. Terlalu banyak semut-nya. :)
Namun, fokuskanlah kepada kegiatan distribusi barang, rekreasi, 
kendaraan proyek infrastruktur, belanja, mengantar orang ke Rumah Sakit, 
balap-balapan (eh, yang terakhir ini nggak ding:).

Jadi, yang kerja atau sekolah cukup naik bis aja kalau nggak bisulan. :)

Atau bisa pakai mindset baru: "Jangan semua bergerak pada waktu yang 
sama, namun sekolah X buka pada jam 7 pagi, kantor kategori Y buka pada 
jam 9 pagi, perusahaan/pabrik kategori XYZ..ZZZ buka pada jam 11 pagi." 
Ini sekedar contoh.

Jangan berargumen bahwa kalau nggak bangun pagi, rezeki bakal disambar yang 
lain, karena, ya elah deh, kita pan bukan burung? Kelelawar juga  bangun sore 
tapi tetap bisa jadi vampir atau kalong buah kan? [Good news  untuk para 
penderita insomnia yang biasanya adalah orang teknik sipil dan teknik 
informatika, ekonom mungkin biasa tidur duluan karena sudah   ada 
passive-income dari Bung Kiyosaki] :)

Untuk perencanaan transportasi dengan "pengelompokan waktu demand" bisa  
dilakukan survei O-D, analisis bangkitan perjalanan, analisis distribusi  
perjalanan, dll. dengan mengerahkan "sekompi-dua" mahasiswa Lab  Transport UI, 
ITB, ITS, dkk.

OOT, saya dulu suka ikut survei ini untuk "biaya tebar pesona ke FSRD", 
IYKWIM, lumayan, kalau tak salah dapet Rp. 15.000,- /jam (?).
Untuk tarif survei zaman sekarang, dengan 8 jam survei, harusnya 
cukuplah bagi para jomblo di Transport untuk mentraktir 'Luna Maya' dan 
'Dian Sastro' makan di Hotel Mandarin (beli juice yang paling murah aja 
dah plus keripik biar asik ngobrol dan nghayalnya :) dan tidur di rumah 
kost masing-masing. " :)

Mengenai meeting atau interaksi lain antara perusahaan type X, Y, Z 
(kalau pakai "A, B dan, tentu saja, E" ntar nanti dipikir nilai 
matakuliah Analisis Struktur:) masih ada "daerah irisan" tempat 
pertemuan ketiga lingkaran Venn.

Contoh:

Type X: beroperasi pukul 7 - 15
Type Y: beroperasi pukul 9 - 17
Type Z: beroperasi pukul 11 - 19
Maka ada daerah arsiran yang merupakan perpotongan X, Y, Z yaitu pukul 
11 - 15. Empat jam. Cukup untuk meeting empat slot.

Dan emang ada meeting yang empat jam?
Dan apakah efektif kalau lebih dari dua jam? Nggak ada yang tidur, 
nghayal, ngantuk?
Kalau ada yang lebih dari empat jam, bisa sekalian dinner aja sambil 
minta uang lembur." :)
Masih sulit? Cobalah solusi Teknologi Informasi, biar tetap bisa 
berhubungan dengan Aussie dan Inggris yang time-zone-nya saja sudah beda 
tapi tetap bisa meeting dengan Net-Meeting, dll. yang bukan kepiting 
yang kupiting." :)
Jadi, acara chatting dengan bule cewek - yang bisa jadi malah laki-laki 
India yang brewok karena nggak nampak tampangnya di belahan dunia sana" 
:) - yang arguably merupakan korupsi waktu dan bandwidth kantor, bisa 
diminimalisasi karena dengan sangat hormat dan terpaksa harus 
konsentrasi meeting online. :)

Kemudian, hal yang sering terlupakan adalah masalah psikologis rakyat 
yang tidak suka perubahan dan cenderung sinis terhadap upaya pemerintah 
untuk membuat terobosan-terobosan baru. Sebenarnya, rakyat itu sinis 
*bukan* sama pemerintahnya, tapi sama oknumnya. :)

Namun, ya begitu, "stereotyping" terhadap aparat pemerintahan, God 
willing, niscaya akan tetap ada, selama tidak bisa diduga bagaimana 
seorang oknum abdi hukum di daerah bisa menyekolahkan lebih dari dua 
anaknya ke luar negeri, padahal kita tahu pendapatan PNS yang resmi itu 
berapa. Ini contoh, mau dibilang fiktif, kok rasanya ada di daerah kami 
ya? ;)

Misalnya lagi, mungkin ada di antara pembayar PPh yang berpikir - ini 
contoh saja -, 'Kok aku yang bayar PPh banyak, Pak XXX (saking porno-nya 
pake triple-X:) yang orang pajak itu pulak yang bisa beli 'unit properti 
tertentu'?" :)

Nah, ini biar disolusikan secara internal oleh departemen-departem en 
terkait agar semua transparan.
Dan akhirnya, lapor semua pemasukan dan pengeluaran dengan catatan 5W+1H 
ke masyarakat sebagai stakeholders.

Transparan. Rakyat dapat sekian, aparat dapat dua kian, penjabat dapat 
tiga kian. Dan anggota dewan dapat sekian-kian. " :)

Tidak transparan = korupsi. Titik.
 Back to topic asal, perlu juga diperhatikan bahwa bila pun pengelompokan 
waktu ini diterapkan, maka perlu dipelajari ilmu psikologi massa. Mass 
Behavio(u)r. Ini akan efektif kalau para artis DKI (bukan Dono, Kasino, 
dst.:) yang cantik-cantik ikut merasakan manfaatnya. Ini perlu waktu dan 
public relation yang ada. Di Palestina orang udah biasa denger bom kok 
tetap bisa bisnis kan?

Bila ada lagi yang sulit, kurang lengkap, kurang jelas, atau tidak 
logis, please bring it on.

Kita urun rembug sama-sama.

Kalau bisa diselesaikan "secara adat" Jakarta tidak perlu minta tambahan 
infrastruktur karena konsekuensi logisnya boleh jadi adalah kecemburuan 
daerah-daerah yang dapat saja berujung pada disintegrasi bangsa. :)

Salam,
 
       
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

Kirim email ke