Dear Rekans

 

Mestinya memang dimana-mana harus ada Monitoring dan Evaluasi,… tapi 

Saya denger Transjakarta bentuknya adalah BLU (Badan Layanan Umum), …  (saya
denger dari Pak LIsman Manurung, anggota DewanTransportasiKota), … yang
maksudnya baik, pengen lebih professional dalam memberi pelayanan,…

tapi semangatnya yang dipunyai para stafnya masih belum semangat sebuah
staff perusahaan pada umumnya,… 

Mungkin ini yang menyebabkan sehingga mekanisme monitoring dan evaluasinya
sangat riskan untuk distorsi dan cenderung enggan untuk diutak-atik. 

ada yang bisa konfirmasi soal Transjakarta=BLU ini?…  

pengelolaan keuangannya seperti apa sih sehingga rawan, membuat BLU jadi
lahan korupsi,… 

 

Soal tiket,.. .setahu saya untuk tiket jenis kartu, Bekerjasamadengan bang
DKI,.. jadi BangDKI inilah yang mengontrol jumlah kartu tiket yang keluar,
sehingga, ketika TransJakarta mengklaim, berdasarkan kartu yang sudah
dipakei/dicemplungin,…… saya gak kurang jelas juga sih. 

Terus yang tiket kertas, itu yang agak rawan korupsi juga,…. 

 

Kalau masalah mengawasi dan mengevaluasi, biar diaudit BPKP sajah
barangkali, ….  Karena kalau memang Transjakarta itu adalah BLU, laporan
kinerjanya jadi bagian dari laporan institusi pemerintahan daerah, termasuk
kinerja pengelolaan keuangannya.  

Coba liat PP 23 thn 2005 ttg BLU pasal 25 sampai pasal 28:

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

   _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Haryasetyaka
Sent: 24 November 2007 11:23
To: milist refensi; [EMAIL PROTECTED]; PL 98; Boulevard ITB
Subject: [referensi] Fw: Fwd: Penunjang Busway Tidak Dipenuhi

 


 

Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta INDONESIA 

 

More on Busway,

 

-K-

 

 

SUARA PEMBARUAN DAILY - Tanggal 21/11/2007

   _____  


Penunjang Busway Tidak Dipenuhi


[JAKARTA] Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta baru menjalankan 60
persen sistem bus jalur khusus (busway) yang diadopsi dari Trans Milenia
Bogota, Kolombia. Masih ada 40 persen sistem busway yang belum dijalankan,
yakni feeder (bus pengumpan), sistem tiket, penataan trayek, dan pengadaan
armada sesuai kebutuhan. 

"Sayangnya 60 persen sistem busway yang sudah dijalankan Pemprov DKI itu
hanya terkait dengan konstruksi fisik dan operasional busway. Sedangkan
sistem yang menunjang, sekaligus terkait dengan pelayanan, belum dijalankan.
Misalnya, jumlah armada yang beroperasi belum mencapai target. Di koridor
II, seharusnya dilayani 51 bus Transjakarta, tetapi yang beroperasi baru 36
unit, sedangkan di koridor VII, dari target 85 unit, baru 11 unit yang
beroperasi," ujar pengamat transportasi dari Institut Study Transportasi
(Instrans), Darmaningtyas, dalam diskusi terbatas dengan jajaran Redaksi SP
di Jakarta, Selasa (20/11). Pembicara lain dalam diskusi itu adalah pengamat
transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Harya Setyaka.

 

Sementara itu, Harya Setyaka menyatakan Pemprov DKI ternyata tidak
memasukkan klausul evaluasi dan pengawasan dalam konsep Pola Transportasi
Makro (PTM). Itu sebabnya, evaluasi dan pengawasan terhadap sistem dan
pengelolaan busway tidak pernah dilakukan, meski sudah tujuh koridor yang
dioperasikan. "Saya tidak tahu apakah ini kecerobohan ataukah kesengajaan.
Yang pasti, tidak adanya evaluasi dan pengawasan membuat keberadaan busway
tidak memberi manfaat optimal dan pengelolaannya rentan penyimpangan,"
katanya. 

 

Menurut dia, setiap proyek atau program yang dijalankan, seharusnya
dievaluasi dan diawasi. Apalagi jika proyek tersebut, menyangkut kepentingan
masyarakat, seperti busway. 

Tidak dilakukannya evaluasi dan lemahnya pengawasan, lanjut Harya, membuat
busway menjadi proyek yang rentan penyimpangan, baik dalam pengerjaaan fisik
maupun dalam pengelolaan. 

 

"Siapa yang bisa menjamin pendapatan dari penjualan tiket tidak bocor. Siapa
juga yang bisa menjamin pemerintah menyubsidi tarif, bukan operator bus.
Atau bagaimana pemerintah bisa bicara proyek busway bermanfaaat kalau tidak
ada hasil evaluasinya," ujar Harya yang juga anggota Dewan Transportasi Kota
(DTK) DKI Jakarta periode 2007-2009. 

 

Terkait dengan itu, lanjutnya, sudah sepantasnya Pemprov DKI menghentikan
pembangunan koridor baru busway pada 2008 dan fokus melakukan evaluasi
menyeluruh. Meskipun terlambat, langkah itu menunjukkan adanya kemauan baik
untuk memperbaiki sistem busway agar optimal sebagai alat transportasi
massal. 

 

Berkeadilan

Lebih jauh Harya mengatakan, hal-hal yang harus dievaluasi bukan hanya
menyangkut pengelolaan dan operasional busway, tapi juga bagaimana membuat
busway menjadi alternatif transportasi massal yang berkeadilan dan
berkelanjutan. Berkeadilan, artinya seluruh warga memperoleh peluang dan
akses yang setara terhadap layanan transportasi publik. Sedangkan,
berkelanjutan berarti transportasi yang secara konsisten memenuhi kebutuhan
mobilitas dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat atau ekosistem. 

Untuk mewujudkan transportasi massal yang berkeadilan dan berkelanjutan,
Pemprov DKI harus memanfaatkan sumber daya yang langka secara efisien. [J-9]

   _____  

Last modified: 21/11/07




-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89 
Jakarta Selatan 12760
+62 21 92771862
+62 21 7997039
INDONESIA

 

 

   _____  

Get easy, one-click access to your favorites. HYPERLINK
"http://us.rd.yahoo.com/evt=51443/*http:/www.yahoo.com/r/hs"Make Yahoo! your
homepage. 


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.4/1146 - Release Date: 22/11/2007
18:55



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.4/1146 - Release Date: 22/11/2007
18:55
 
  

<<image001.gif>>

Kirim email ke